berhenti merokok

Tidak Perlu Berhenti Merokok Agar Bisa Investasi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Merokok bagi kalangan pembenci rokok dicap sebagai perbuatan yang tidak menguntungkan. Sering kali dikait-kaitkan lebih banyak merugikan dibandingkan manfaatnya. Apalagi itu yang berhubungan dengan kesehatan. Dituding biang kerok segala penyakit dan memperpendek umur. Intinya, bagi mereka merokok adalah kesia-siaan hakiki. Karena itu, lebih baik kalian berhenti merokok.

Jurus hitung-hitungan ekonomi juga sering digunakan untuk merebut nalar perokok agar segera berhenti merokok. Meski di balik itu sesungguhnya arah dan pola yang dimainkan semata untuk menggiring perokok beralih konsumsi. Semisal dengan memberi pertimbangan bahwa dengan berhenti merokok, uang rokoknya bisa digunakan untuk mencicil rumah.

Belakangan isu senada pun dimainkan, dengan mengandalkan hasil penelitian asing yang dilansir dari media asing. Dikait-kaitkan bahwa ketika rokok semakin mahal dan bakal membuat perokok jadi berhenti merokok. Lantas saja diarahkan logikanya untuk berinvestasi. Mengalihkan uang rokok untuk melakukan investasi di sektor lain.

Iya memang terkesan positif. Terpujilah mereka yang telah berusaha untuk mengarahkan pikiran perokok untuk beralih. Berusaha membangun logika normatif bahwa dengan berhenti merokok berarti akan memperkecil biaya untuk kesehatan. Karena rokok digadang-gadang membawa penyakit yang mahal biaya penyembuhannya. Hellooow. Jangan jadi sempit pikir juga memaknai investasi.

Baca Juga:  Melukis Sang Garuda dengan Puntung Rokok

Perlu diketahui ya, Bos, tidak sedikit dana cukai rokok yang dipakai buat bangun rumah sakit serta pengadaan alat kesehatan. Seperti yang terjadi di Gresik pada Rumah Sakit Ibnu Sina, pula RSUD Grati di Pasuruan. Apakah andil perokok untuk itu bukan bagian dari investasi. Iya paling tidak sebuah investasi kebaikan. Bertujuan demi kemaslahatan publik.

Masih pula dalam upaya merebut nalar perokok, disebut-sebut pada lansiran penelitian itu, bahwa dengan berhenti merokok hidup jadi lebih bahagia, bahwa beberapa mantan perokok hidupnya jadi lebih produktif. Mendapatkan lebih banyak pekerjaan dan gaji tinggi, karena digadang-gadang paling bahagia setelah lepas dari rokok. Astaganagah. Kalau perkara menjadi manusia paling bahagia justru mestinya mereka belajar dari perokok.

Tentu saja indikator bahagia setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang mendifinisikannya secara konvensional. Umumnya sih bahagia itu ya mengadopsi gaya hidup kelas-kelas panutan.

Namun di luar itu, ada satu contoh paling dekat, ialah teman saya. Hobinya merayakan Indomie lewat foto-foto di medsos. Memiliki gawai seri terbaru lebih dari satu, itu semua digunakannya sebagai penunjang dunia kerjanya. Dalam setahun mungkin bisa dua-tiga kali ganti, atau mungkin lebih. Ia pekerja keras, punya disiplin yang terpuji, padahal penghasilannya terbilang standar. Masih pula berinvestasi dengan membiayai pendidikan adik-adiknya. Apa dia mampu begitu karena dia merokok? Iya bukan gitu juga.

Baca Juga:  Kopi, Rokok dan, Batik di Lasem

Jadi pengiritankah dia dengan memilih makan Indomie. Tidak juga. Kadang masih suka mentraktir teman-temannya makan bareng. Masih suka memanjakan diri dengan menikmati menu spesial kegemarannya. Sungguh di balik itu semua ternyata dia memiliki prinsip yang enteng. “Buat gue sih bahagia itu sederhana, Bang, yang bikin rumit ya tafsir-tafsir antirokok.” Itu.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah