Lelah Hadapi Banjir, Sebats Dulu Saja

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tepat sehari setelah malam pergantian tahun baru dari 2019 ke 2020, banjir menggenangi beberapa wilayah di Jakarta. Sebut saja Kemang, Manggarai, bantaran Kali Ciliwung, Bendungan Hilir, dan masih banyak yang lainnya. Debit air membuncah setelah hujan turun tak berhenti sejak tanggal 31 Desember sore hingga 1 Januari pagi. Tanah di Jakarta tak mampu membendungnya, masyarakat juga jadi korbannya. Untungnya, solidaritas terhadap korban banjir ada dimana-mana. Para relawan sebats ada dimana-mana.

Saya masih ingat betul saat 1 Januari 2020, banyak masyarakat yang gotong royong untuk saling membantu. Bukti bahwa ikatan kita sebagai sebuah bangsa masih kuat, tak peduli terpecah karena pilihan politik, tak peduli terpecah karena golongan suku dan agama. Semuanya saling bahu membahu menolong saudaranya yang kesulitan.

Saat itu saya melintasi daerah Kemang, Jakarta Selatan. Banyak warga yang turun ke jalan. Ada yang kemudian membantu tetangganya untuk evakuasi, mulai dari membopoh orang yang sakit hingga membawa barang-barang yang perlu diungsikan. Ada juga yang datang membawakan makanan dan bala bantuan. Tak sedikit juga yang mengarahkan pengguna jalan untuk tak melintasi daerah tersebut agar tak terjebak banjir. Masih teringat di bayangan saya, di balik bencana yang menyedihkan masih ada kepedulian di mana-mana.

Baca Juga:  Benarkah Rokok Menurunkan Kualitas Hidup SDM Indonesia?

Satu pemandangan yang menarik kala itu, ada orang yang kemudian berbelanja beberapa slop rokok di warung. Mereka membawa rokok tersebut kemudian membagikannya kepada pada relawan yang sedang bekerja menolong warga. Rokok itu kemudian tidak diisap langsung. Saya betul-betul memandangi peristiwa itu. Rokok tersebut kemudian mereka isap bersama-sama ketika kerja evakuasi sudah selesai dilakukan.

Sambil bercerita tentang hari-hari berat itu, para relawan dengan rileks mengisap sebats demi sebats rokok mereka. Pakaian mereka masih setengah basah dan kotor, tapi tak menghilangkan kenikmatan. Setelah itu, datang pula kelompok lain yang membawakan kopi serta minuman hangat. “Nongkrong ga enak tanpa minuman hangat, Bang,” katanya.

Dalam hati mereka mungkin sedih karena sedang menghadapi bencana yang tak mereka inginkan. Tapi, sebats demi sebats rokok tersebut membantu mereka melupakan sejenak beban berat yang ditanggung. Di kala para buzzer politik saling menyalahkan, beberapa relawan justru sedang asyik saja bersama para warga menikmati rokok dan minuman hangat. Seakan hari itu milik mereka bersama, tak peduli setelah ini mereka juga dihadapkan situasi berat lainnya yaitu naiknya harga rokok.

Baca Juga:  Dua Humor Gus Dur Soal Rokok

Apa yang saya lihat dan saya ceritakan tentang ini mungkin juga terjadi di beberapa penjuru Jakarta. Mungkin di Bendungan Hilir juga demikian, Pinggiran Kali Ciliwung, atau daerah lainnya. Bukti bahwa kita seharusnya sadar bangsa ini punya potensi luar biasa kala bersatu. Banjir memang menghadirkan lara, tapi rokok dan minuman hangat juga membangkitkan kebersamaan.

Saya berharap banjir segera mereda. Masyarakat juga bisa kembali ke rumah dan beraktifitas seperti biasa. Memang sangat tidak enak hidup dalam pengungsian dan terlepas dari rutinitas serta aktifitas yang dilakukan di hari biasa. Tapi kemesraan ini jangan cepat berlalu, semoga setelah banjir kebersamaan itu terus ada dan berlipat ganda.

Untuk para relawan, saya layangkan hormat kepada anda! Andil kalian lebih hebat ketimbang elit-elit politik yang sering bertarung mengorbankan masyarakat. Jika lelah, silahkan beristirahat sejenak, bercerita tentang hari ini dan menikmati rokok dan minuman hangat yang tersedia. Panjang umur segala kebaikan!

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta