Tiga Penemuan yang Berasal dari Puntung Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Puntung rokok kerap kali dipandang sebagai limbah yang tak berguna bagi banyak orang. Bahkan bagi sebagian perokok, setelah rokok habis diisap, puntungnya menjadi limbah yang dianggap tak bisa diolah menjadi apa-apa. Namun, bagi orang-orang yang memiliki daya kreatif tinggi, puntung rokok justru dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tidak sekadar berakhir sebagai limbah.

Oleh sebagian masyarakat, puntung rokok juga masih menjadi persoalan yang dipergunjingkan lantaran masih ada perokok yang berlaku serampangan, membuang puntung semau-maunya tanpa peduli puntung rokok tersebut telah mengotori suatu tempat. Bagi perokok santun seperti kita, tentu perilaku perokok semacam itu menjadi tantangan bagi kita untuk mengingatkannya. Bahwa seperti juga asap rokok yang memiliki faktor risiko, puntung rokok pun demikian. Harus dibuang pada tempatnya.

Berikut saya akan bahas tiga keberhasilan orang-orang yang sukses mengubah puntung rokok menjadi sesuatu yang berguna. Dari limbah yang tidak dianggap bahkan kerap dideskreditkan oleh sebagian masyarakat, puntung rokok menjadi sesuatu yang bersumbangsih  bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan. Disulap menjadi apa saja puntung rokok di tangan orang-orang kreatif ini, yuk kita simak.

Baca Juga:  Kretek, Mitos dan Obrolan Ajaib Seputarnya

Pertama, puntung rokok yang diolah menjadi bahan baku pembuatan batu bata. Dr Abbas Mohajerani dari Universitas RMIT, ilmuwan asal Australia yang diakui mampu mengubah puntung rokok menjadi batu-bata. Penemuannya ini sangat berarti bagi peradaban industri batu bata di masa datang, dan produsen batu bata harus membayar untuk kumpulan puntung tersebut, dengan cara yang sama yang dilalui ban karet atau botol kaca bekas sebelum menjadi barang berharga bagi industri lainnya. Di negara maju, pembuatan batu bata sudah bisa dilakukan melalui prsoses daur ulang yang berasal dari beberapa jenis limbah.

Kedua,  puntung rokok didaur kreasi oleh dua siswa sekolah MAN 2 Kudus. Muhammad Rifda Kamil dan Tsalis Rizka Mubarok. Untuk membuat kertas antiayap ini, keduanya mengambil sisa tembakau pada puntung rokok kemudian mengekstraksi dengan metode maserasi. Setelah diperoleh ekstraksi, kemudian ditambahkan pada bahan kertas yang disiapkan dan dicetak. Ada lima kertas yang dibuat dengan konsentrasi ekstrak tembakau.

Ketiga,  sebuah penemuan yang dilakukan oleh tiga siswi SMA Negeri 1 Ungaran. Puntung rokok menjadi salah satu bahan utama untuk menyimpan energi panas yang selanjutnya disalurkan menjadi listrik. Tiga siswi kreatif tersebut bernama Dheana Zahrani Nareswari, Nafisah Amalia, dan Yumna Dzakirah. Karya inovatif mereka ini telah mengantar ketiganya mengikuti beberapa ajang bergengsi di luar negeri. Sebelum lolos ke Korea Selatan, karya ketiganya menjuarai Youth National Science Fair (YNSF) di Bandung kategori Fisika pada 10-12 Mei 2019 lalu. Dari situlah kemudian mereka lanjut ke ajang ISFK 2019.

Baca Juga:  Bonek, Kretek, dan Kultur Kekerabatan

Nafisah menjelaskan, dalam pembuatan alat ini, di lapisan bawah terdiri atas semen, karbon armorf, bubuk plastik, dan lapisan seng. Pembatas bahan ini adalah cermin.  Selanjutnya lapisan puntung rokok yang berfungsi untuk menyerap panas dari lapisan atas yang terkena sinar matahari.

Biaya untuk pembuatannya relatif murah, tak lebih dari Rp 200 ribu, menurutnya. Dari percobaan yang dilakukan, untuk tembok berukuran 50×50 cm dengan berat 8 kg bisa mengalirkan listrik 0,8 volt. Semakin besar bidang tembok yang dibuat, maka semakin besar pula aliran listrik yang dihasilkan.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah