Uji Ketangkasan Di Pasar Malam dalam Permainan Berhadiah Rokok

Rokok Unik dan Ancaman Kebangkrutan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Salah satu kebiasaan saya dan Kalis kalau sedang berboncengan di jalan adalah menertawakan merek produk yang namanya terdengar lucu yang kebetulan banner atau posternya terpampang di jalan. Dari sekian produk yang sering kami tertawakan adalah merek rokok.

Kalis pernah heran ketika melihat poster rokok bermerek Kerbau. Jiwa estetikanya mungkin membatin, “Rokok kok merek’e Kebo, ra mbois blas”. Kali lain, saya juga agak geli kalau ingat dengan merek rokok Apache, kalau yang satu ini, bukan geli karena namanya, melainkan karena model iklannya yang selalu Tampak seperti Charlie vokalisnya ST 12 itu.

Kalis hafal betul dengan sikap geli saya sama rokok yang satu ini, mangkanya, tiap kali saya lihat poster atau event konser dangdut yang sponsornya Apache, saya langsung memberi tanda pada Kalis. Dia bakal ikut kegirangan sambil bersorak, “Wah, rokok Charlie.”

Kelak, nama-nama rokok yang unik dan aneh yang pernah kami temui itu ternyata hanya setitik dari sekian banyak jumlah merek rokok yang ada di Indonesia. Saking banyaknya, sampai-sampai ada banyak merek rokok yang bahkan kita tak pernah menyangka bahwa itu merek rokok.

Baca Juga:  Review Buku Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat

Seorang kawan, sebut saja Eko Susanto hobi sekali mengumpulkan rokok-rokok aneh ini. Saya selalu takjub tiap kali ia memamerkan koleksinya pada saya. Dari berbagai merek yang sangat hewani seperti Kerbau, Kijang, juga Weling, sampai merek rokok yang sangat nabati seperti Rawit, Djeruk, Mlindjo, sampai Sukun. Dia punya. Dari merek 234 alias Dji Sam Soe, sampai merek 369 alias Sam Liok Kioe, ada juga.

Koleksi rokok yang ia miliki itu ia simpan di dalam kotak-kotak taperwer yang mereknya bukan taperwer. Sesekali ia mengeluarkannya untuk difoto.

Kata Kang Eko, ada banyak kolektor lain yang koleksinya jauh lebih banyak dengan merek-merek rokok yang lebih aneh dan ndlogok. Koleksi yang ia punya katanya masih belum ada apa-apanya.

Di Indonesia ini, rokok, utamanya rokok kretek, memang menjadi sebuah kultur tersendiri. Habis makan merokok. Saat boker merokok. Saat nongkrong merokok.

Itu pula sebabnya kenapa ada banyak sekali merek rokok. Maklum, jumlah pabrik rokok yang terdata di negeri kemebul ini jumlahnya ada 454 pabrik. Itu belum termasuk pabrik-pabrik rokok kecil yang saking kecilnya, orang mungkin agak sungkan untuk menyebutnya sebagai pabrik.

Baca Juga:  Memperingati Hari Petani Tembakau dengan Pameran Kartun

Banyaknya pabrik rokok tentu beririsan dengan banyaknya petani tembakau. Di Indonesia ini, jumlah petani tembakau ada sekitar 527 ribu petani, dengan 300 ribu di antaranya berada di Jawa Timur. Jumlah setengah juta petani itu adalah yang terbanyak di Asia Tenggara.

Petani cengkeh pun tak kalah banyak. Dari data Dirjen Perkebunan, jumlah petani cengkeh di Indonesia ini mencapai 1 juta. Maklum, lebih dari 90 persen cengkeh di Indonesia ini memang diserap untuk industri rokok kretek, sehingga kebutuhan akan cengkeh Indonesia ini pastilah besar.

Itu baru petani tembakau dan cengkehnya. Jika ditambahkan dengan jumlah tenaga kerja dari mulai pekerja pabrik rokok, distribusi, sampai ke bagian penjualan, jumlah orang yang terlibat bisa mencapai 5,98 juta orang.

Industri tembakau, selain menjadi sebuah budaya yang besar, tentu juga menjadi industri yang besar. Ia menjadi komoditas strategis. Uang yang besar, tentu saja menimbulkan persaingan yang besar pula. Sebagai sebuah industri yang stabil dan kokoh, ia terus diserang.

Seperti diketahui, Indonesia, sampai detik ini, masih terus dipaksa agar mau meratifikasi FCTC. Dengan adanya ratifikasi FCTC ini, maka industri tembakau di Indonesia bakal tidak lagi dianggap sebagai komoditas yang strategis. Petani dipaksa untuk mengganti lahan tembakau dengan komoditas yang lain. Cukai rokok bakal dinaikkan terus sampai 80 persen, cengkeh bakal dibatasi (padahal selama ini, cengkeh menjadi komposisi yang membedakan rokok kretek Indonesia dengan rokok putih).

Baca Juga:  YLKI Tidak Salah, Benyamin Biang Kerok Memang Film yang Tidak Layak Tonton

Jumlah pabrik terancam bakal terus turun sebab tingginya nilai cukai membuat pabrik-pabrik kecil bakal tidak kuat bertahan. Akan ada banyak petani tembakau dan petani cengkeh yang terancam kehidupannya. Ada banyak karyawan pabrik rokok yang siap menyambut surat PHK-nya.

Mungkin itu pula alasan kenapa Kang Eko semakin susah cari rokok bermerek lucu dan aneh sekarang ini. Karena semakin banyak pabrik rokok kecil yang gulung tikar. Dengan cukai yang semakin tinggi, pabrik besar saja harus direwangi mobat-mabit untuk bertahan, apalagi yang pabrik kecil.

Yah, bisnis memang keras, Lur. Di balik nama-nama rokok yang unik dan lucu itu, ada usaha tikam-menikam, saling jegal, ketakutan, keculasan, dan keputusasaan. Dan semuanya sama sekali tidak lucu.