Soal Kenyamanan Merokok, Pilih Bus Malam atau Kereta Api?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jika ada sebuah pertanyaan atau survey tentang pilihan kendaraan umum yang paling dekat dalam kehidupan saya, sudah tentu saya akan menjawab bus. Lebih spesifik yaitu bus malam. Mengapa tidak pesawat? Tentu harganya yang kadang tak terjangkau bagi saya. Kapal laut? Saya begitu jarang bepergian lewat perjalanan laut. Kereta? Nyaman sih tapi serasa ada yang kurang. Tapi bus malam sudah memberi kenyamanan bagi saya doyan merokok ini.

Sudah tak terhitung berapa kali saya menggunakan bus malam selama bepergian. Kereta api memang menawarkan sesuatu yang lebih nyaman dalam urusan perjalanan darat. Tapi masalahnya bagi saya yang seorang perokok ini bisa menikmati rokok hanya di beberapa stasiun saja. Itu pun dengan waktu yang sangat terbatas. Belum lagi jika waktu yang disediakan untuk berhenti di stasiun hanya singkat, makin terburu-burulah aktivitas nyebats ini, dan itu tidak menyenangkan.

Memang di luar negeri sana sudah ada kereta yang menyediakan ruangan merokok di gerbong kereta api, salah satunya adalah Jepang. Akan tetapi fasilitas ruangan merokok tersebut hanya bisa dinikmati bagi pengguna kereta api jarak jauh. Sebenarnya cara ini bisa diadopsi di Indonesia, tapi entah kenapa otoritas terkait tak mau menerapkannya.

Baca Juga:  Bukan Rokok Yang Membuat Asmara Putus

Di sisi lain, beberapa perusahaan otobus (PO)  justru mampu menghadirkan ruangan merokok di armada bus malam mereka. Sebut saja, Lorena, Karina, Gunung Harta, San Putra, Nusantara, Agra Mas, dan yang lainnya. Dari beberapa nama tersebut Lorena dan Gunung Harta adalah dua nama PO bus malam yang saya paling sering tumpangi.

Posisi smoking room biasanya ditempatkan di bagian belakang dekat dengan toilet. Biasanya disediakan dua kursi di sana dan ditutup oleh kaca serta diberikan akses untuk membuka jendela kecil agar memudahkan sirkulasi udara masuk dan keluar. Ruangannya cukup nyaman untuk merokok dan bisa dipastikan aman serta tak akan mengganggu penumpang yang lainnya. Saya sendiri sangat suka berada di sini untuk beberapa menit sambil menikmati indahnya perjalanan. Nah, ini yang saya sebenarnya saya inginkan jika menggunakan kereta api, bisa nyebats sambil lihat pemandangan yang bergerak.

Balik lagi soal posisi smoking room, bus malam yang mempunya tipe double deck biasanya menempatkan area untuk merokok di lantai dua. Posisinya sama seperti bis malam lainnya yaitu di belakang. Saya sih belum pernah mencobanya, tapi kok rasanya lebih enak smoking room di bus malam tipe biasa ya. Pertama, karena posisinya yang terletak di atas yang memungkinkan goyangan bus makin terasa jika menemui jalan yang sulit. Kedua, karena saya takut ketinggian, hehe.

Baca Juga:  Melecehkan Kewarasan Publik, Seputar Kontroversi Gambar Pria Merokok di Bungkus Rokok

Smoking room di bus malam cukup menjadi solusi bagi perokok yang sedang bepergian jauh. Akan tetapi, ingat, umumnya PO hanya menyediakan dua kursi di smoking room. Artinya kamu tak bisa berlama-lama di situ dan harus bergantian dengan penumpang yang lain untuk menikmati fasilitas tersebut. Atau justru malah hal tidak mengenakkan yang kalian justru dapatkan. Misalnya, pernah saya pernah mendapati kursi dalam smoking room di tempat penumpang dari awal perjalan hingga akhir. Bisa jadi awak pegawai bus malam tersebut menjual kursi smoking room untuk penumpang yang ingin naik. Hal ini saya alami di kala musim mudik tiba, wajar sih karena membludaknya penumpang. Tapi bagaimanapun juga tindakan ini tidak dibenarkan karena sudah menggadaikan kenyamanan penumpang.

Saya berharap kasus tersebut mungkin hanya terjadi beberapa kali saja dan syukur-syukur tidak ada lagi. Bagi saya seorang perokok, smoking room di bus malam sangat membantu saya untuk menikmati perjalanan darat yang panjang. Kalau di kereta api saya harus menunggu stasiun untuk menghisap rokok, di bus malam saya tinggal pergi ke belakang dan menikmati setiap hisapan. Jika saja banyak PO yang juga menyediakan smoking room di seluruh armada mereka, mungkin saya akan berhenti menggunakan kereta, hehehe.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta