Han So Hee Merokok, Apa Yang Salah?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Setelah K-Pop berhasil ‘menjajah’ dunia musik, kini drama Korea (drakor) menyusul jadi genre film yang sangat digemari di Indonesia, bahkan dunia. Tak tanggung-tanggung, salah satu film asal Negeri Ginseng tersebut, Parasite memenangkan Piala Oscar 2020 kategori Best Picture. Banyak artis Korea yang menjadi idola anak muda. Salah satunya adalah Han So Hee.

Aktris dan model cantik asal Korea Selatan ini dikenal setelah membintangi film Money Flower. Kini ia semakin dikenal setelah memainkan peran pelakor di drama The World of The Married. Sebagai seorang pesohor, pribadi dan keseharian Han So Hee menjadi perhatian banyak orang. Karena popularitas itu pula ia menanggung banyak pujian dan tak jarang kritikan.

Baru-baru ini Han So Hee menjadi sorotan warganet usai foto-foto lamanya terungkap ke ruang publik. Di berbagai foto tersebut terlihat So Hee bertato dan sedang mengisap rokok. Tak ayal, foto-foto tersebut menuai kecaman dari warganet.

Pasti sangat sakit menghilangkan tato itu,” tulis salah satu warganet.

Baca Juga:  Kretek bukan Rokok

Foto mengisap rokok, binal,” warganet lain mengecam.

Bagaimana dia bisa hidup dengan foto-foto itu,” sambut warganet lainnya.

Lagi-lagi, cara pandang diskriminatif kebanyakan orang telah menjadikan perempuan perokok–juga bertato–sebagai pesakitan.

Pertanyaannya, apa yang salah dari foto seorang aktris cantik yang merokok dan bertato? Karena rokok dan tatonya atau karena popularitasnya? Ini yang perlu diluruskan. Salah satu teman Han So Hee pun memberi pembelaan.

Tato dan rokok menjadi isu besar ketika wanita yang melakukannya. Sejujurnya, ini semua benar-benar seksis dan diskriminatif, mengingat rokok dan tato dianggap wajar pada aktor, tetapi memicu hinaan ketika terjadi pada aktris,” tulis teman Han So Hee seperti dikutip Koreaboo.

Entah sejak kapan, aktivitas merokok selalu diidentikkan dengan laki-laki. Stigma bahwa rokok dibuat hanya untuk laki-laki nampaknya sudah sangat mengakar dalam pemahaman masyarakat luas. Stigma tersebut terus berkembang dan melahirkan pandangan-pandangan baru hingga masyarakat menganggap bahwa perempuan yang merokok adalah perempuan yang tidak bermoral, nakal, labil, menyimpang, dan segudang stigma negatif lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Divine Kretek

Pola pikir diskriminatif semacam ini juga banyak terjadi di Indonesia. Dian Sastro, Danilla Riyadi, dan Maia Estianty pernah merasakannya. Hanya karena mereka merokok, stigma negatif dilekatkan. Padahal, setiap orang punya hak untuk memilih mau bertato atau tidak, mau merokok atau tidak. Ativitas merokok tentu bukan suatu hal yang kodrati. Jadi, perempuan atau laki-laki sama-sama berhak asal sudah melewati batas usia minimal sesuai peraturan yang berlaku, dan memenuhi kriteria perokok santun.

Kebiasaan kita berpandangan seksis dan diskriminatif tentu berbahaya bagi peradaban. Standar ganda moralitas seperti ini mengandung banyak kecacatan logika berfikir. Sandar ganda moralitas ini paling sering terjadi ketika bicara soal rokok. Semua ini harus dihentikan. Dan kita semua berkewajiban.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd