Ketika Rokok Jadi Sponsor Sepak Bola Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tagar #UntilTomorrow tiba-tiba ramai di tengah pandemi corona. Netizen ramai-ramai mengunggah foto lama mereka di media sosial dengan tagar tersebut. Nampaknya physical distancing cukup membuat manusia jenuh dan akhirnya senang untuk bernostalgia ke masa lalu. Pun demikian dengan saya, ikut-ikutan pasang foto lama di Instagram. Ah, tapi saya juga kangen sama sepak bola. Ingin rasanya bernostalgia ke masa-masa lalu, ketika rokok masih mensponsori liga sepak bola di Indonesia.

Rokok dan sepak bola di Indonesia punya hubungan yang erat. Meski pada akhirnya harus dipisahkan lewat peraturan pemerintah nomor 109 tahun 2012. Peraturan tersebut melarang perusahaan rokok untuk terlibat dalam kegiatan olahraga.

PT Djarum menjadi pabrikan rokok terakhir yang mensponsori liga sepak bola di Indonesia. Walau demikian, nama Super masih ada menempel di nama Liga. Tepatnya di musim 2013 dan 2014 sebagai yang terakhir. Masih ingat siapa juaranya saat itu? Persib Bandung saat mengalahkan Persipura Jayapura di Stadion Jakabaring, Palembang dengan skor 5-3 lewat adu penalti.

Kapan pertama kali industri rokok masuk ke ranah sepak bola di Indonesia? Saya mencoba untuk menelusurinya melalui twitter. Saya mencoba untuk bertanya pada Mahlima Utari, pemilik akun @Mah5Utari. Beliau ini salah satu pemerhati sejarah Persib, dan ternyata jawabannya cukup memuaskan keingintahuan saya. Sepengetahuan beliau, Djarum cukup lama membantu persepakbolaan di Indonesia.

Sebagian orang hanya tahu kalau Djarum baru mulai menjadi sponsor dari 2005 hingga 2014. Tapi ternyata justru jauh sebelumnya, pada musim 1989-90 pun kompetisi sudah disponsori oleh Djarum. Saat itu liga bernama ‘Djarum Super Divisi Utama Perserikatan’. Dia memberikan temuan yang sama saat Persib menjadi juara di musim 1993-94, tahun terakhir era perserikatan digelar.

Logo Divisi Utama 1993-1994. Sumber: twitter @Mah5Utari

Tapi apakah Djarum menjadi industri rokok yang pertama? Sepertinya tidak. Kompetisi Galatama pada musim 1989-90 rupanya juga disponsori oleh pabrik rokok Bentoel. Bahkan kompetisi pada musim itu diberi nama Piala Bentoel Galatama. Saat itu juga ada klub sepak bola bernama PS Bentoel Jember Galatama. Sebagai informasi, Galatama adalah cikal bakal industri sepak bola modern di Indonesia.

Baca Juga:  Siapa Bilang Anak Muda Tidak Bisa Nglinting?

Ketika klub yang berkompetisi di perserikatan masih menggunakan dana negara, maka klub di Galatama justru sebaliknya, mandiri dalam pembiayaan. Bukan dualisme seperti Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia beberapa tahun lalu, kompetisi perserikatan dan Galatama sama-sama direstui oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) ketika itu. Pada musim 1994-95, PSSI kemudian melebur keduanya menjadi satu format kompetisi yang dinamakan Liga Dunhill. Di sini kemudian babak baru rokok mensposori sepak bola di Indonesia dimulai.

Anak 90-an tentu lebih familiar dengan kompetisi sepak bola bernama Liga Dunhill dan Kansas. Dunhill yang merupakan produk dari pabrikan bernama British American Tobacco menggelontorkan dana yang cukup besar saat itu. Kumparan menyebutkan bahwa masuknya Dunhill sekaligus memperkenalkan subsidi untuk klub sebesar Rp100 juta. Jumlah hadiah pun terbilang wah saat itu, Rp75 juta untuk juara, Rp50 juta (runner-up), dan Rp25 juta bagi pemain terbaik. Sayangnya Dunhill hanya bertahan selama dua musim yaitu pada 1995-96, dan 1996-97.

Baca Juga:  Benarkah Orang Lebih Memilih Rokok Ketimbang Rumah?

Tongkat estafet kemudian diberikan kepada Kansas. Pada saat itu Kansas menggelontorkan dana sebesar Rp 5,35 miliar. Jumlah subsidi yang dijanjikan pun masih sama, Rp100 juta kepada setiap klub. Lagi-lagi Kansas sama seperti Dunhill yang hanya mampu bertahan dua musim. Kompetisi musim 1997-98 juga harus berhenti karena krisis ekonomi dan stabilitas keamanan serta politik yang tak menentu terjadi di Indonesia waktu itu. Tapi jangan pernah lupakan Dji Sam Soe. Kretek asal Surabaya ini pernah meramaikan kompetisi sepak bola di Indonesia dengan nama Copa Dji Sam Soe.

Lantas bagaimana hubungan industri rokok dengan klub sepak bola? Yang paling fenomenal tentu adalah Persik Kediri. Catatan dari Indosport menyebutkan bahwa Gudang Garam berandil besar atas kelangsungan klub berjuluk Macan Putih. Bahkan, Stadion Brawijaya yang jadi markas Persik direnovasi dan ditambahkan ornamen logo Gudang Garam Internasional. Di masa jayanya, klub yang pernah diperkuat oleh Christian Gonzalez dkk. tersebut begitu melekat dengan Gudang Garam.

Sebenarnya, Gudang Garam juga pernah melekat pada jersi Persijatim Solo FC, namun namanya tak sepamor Persik. Klub Jawa Timur lainnya yang punya hubungan erat dengan rokok adalah Arema Malang. Klub berjuluk Singo Edan itu pernah disponsori oleh Bentoel.

Baca Juga:  Membuat Pesawat dari Bungkus Rokok

Bagaimana dengan klub legendaris perserikatan seperti Persija, Persib, Persebaya, dan PSMS? Apakah punya hubungan erat dengan rokok? Memang jersi mereka pernah terpampang merek rokok seperti Dunhill, Kansas, Djarum, dan Dji Sam Soe, tapi itu karena kontrak Liga dengan pihak sponsor yang mewajibkan seluruh kontestan mencantumkan merek di jersi. Mungkin jika pun menjadi sponsor, nampaknya hanya memasang merek produk di stadion. Seperti Rokok Commodore di Stadion Teladan, Medan dan Djarum di Stadion Gelora 10 November, Surabaya.

Saya merindukan sekali jaman di saat rokok masih boleh mensponsori kompetisi sepak bola di Indonesia. Waktu itu, kompetisi pun juga melahirkan pemain tim nasional yang top dan mampu bersaing di kancah internasional. Bagaimana dengan sekarang? Ga mau banyak berkomentar deh.

Di sisi lain, walau pun masa kecil saya melihat sepak bola disponsori oleh rokok, tak sekali pun terbesit dalam pikiran saya untuk merokok. Pikiran anak kecil sangat sederhana sekali, nonton bola, bertemu pemain favorit, klub idola menang ya senang, kalau kalah dan seri ya sedih. Tak pernah terpikirkan untuk memikirkan baliho, iklan, pamflet rokok segede-gede gaban di sudut-sudut stadion. Jadi ya cukup aneh jika harus menjauhkan rokok dari sepak bola karena masalah anak-anak. Bukan begitu?

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta