Surat Seorang Perokok untuk Para Tenaga Medis

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jika ada pertanyaan tentang pekerjaan apa yang paling beresiko di tengah gempuran wabah virus Corona, maka sudah barang tentu jawabannya adalah paramedis. Tidak berlebihan kemudian jika saya menganggap bahwa pekerjaan ini punya resiko yang besar yaitu kehilangan nyawa. Berada di garis terdepan penanggulangan virus corona membawa hidup para tenaga medis nyaris satu titik di pinggir jurang kematian.

Saya sangat menyukai film-film dokumenter tentang perang dunia kedua. Dalam kondisi yang serba tidak menentu dan dibombardir oleh desing senjata serta bom di sana-sini, masyarakat hanya bisa pasrah dengan cara berdiam diri di rumah atau mengungsi ke tempat yang lebih aman. Walau, seringkali dua cara tersebut belum tentu mampu mengamankan diri mereka. Masih saja tetap ada korban baik luka atau nyawa. Dalam posisi tersebut mereka hanya bisa pasrah dan berharap tentara negara mereka tak kalah dalam pertempuran, atau tenaga medis yang mampu membantu mereka di kondisi yang rumit.

Baca Juga:  Nikmatnya Merokok Kala Berbuka Puasa

Kondisi serupa tentu pada akhirnya kita alami di era saat ini. Jujur, tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam hidup saya akan mengalami fase seperti ini: penuh kecemasan, ketidakjelasan, dan rasanya seperti di ambang dunia, walau dengan kasus yang berbeda seperti perang dunia kedua. Saya kira selama hidup saya nanti dunia akan damai-damai saja, tidak ada peperangan dalam skala yang besar atau sesuatu yang menyeramkan seperti bencana alam hebat.

Tapi ternyata kondisi berkata lain dan membuat saya kemudian berasumsi bahwa setiap generasi nampaknya akan mengalami fase yang tidak menyenangkan. Virus corona menyebar luas bak jamur di musim hujan. Data statistik penderitanya sangat mengkhawatirkan begitu juga korban yang meninggal. Berdasarkan data terkini (per 2/4/2020), sebanyak 938.565 orang terpapar corona dan 42.043 orang yang sudah meninggal akibatnya. Jumlah ini masih sangat bisa untuk bertambah sebagaimana prediksi banyak pakar.

Seperti kondisi saat perang dunia kedua, maka kita hanya bisa berdiam di rumah agar tidak terpapar corona namun kita tidak bisa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tak ada lagi zona aman dalam kondisi seperti ini, lebih mengerikan ketimbang perang dunia kedua. Di kondisi seperti ini kita juga berharap agar petugas medis tidak pada posisi yang jauh dari kita dan juga cepat tanggap jika kita terpapar. Tugas yang sangat berat, bukan?

Baca Juga:  Mitos atau Fakta Soal Kretek

Pada perang dunia kedua pekerjaan tenaga medis hanya sebatas pada penyembuhan dan penyelamatan korban, mereka tentu tak akan ikut berperang di garis depan. Situasi berbeda terjadi saat ini, tenaga medis lah yang justru berperang di garis depan dan juga bekerja untuk penyembuhan serta penyelamatan korban. Mereka tentu perlu dilengkapi oleh Alat Pelindung Diri (APD) dan tak terbayangkan betapa tersiksanya badan berbalut barang tersebut. Panas, tak bisa makan, minum, dan sulit untuk beraktifitas yang lain di luar pekerjaan medis. Belum lagi tekanan terus ada, yang mungkin membuat mereka juga bisa stress–perlu kita sadari bahwa tenaga medis juga manusia.

Di sinilah kemudian kita menyadari bahwa hanya atas dasar kemanusiaanlah yang membuat para tenaga medis di luar sana bertarung hingga titik darah penghabisan. Maka atas dasar kemanusiaan pula dukungan perlu kita berikan kepada mereka entah apa pun itu caranya.

Surat cinta ini adalah salah satu cara yang saya buat, mewakili pribadi dan para perokok di luar sana. Seringkali kita mungkin berdebat perihal rokok, tapi sekarang bukan yang tepat untuk itu. Sebagai sesama manusia, sudah saatnya kita saling bahu-membahu dan memberi pertolongan serta dukungan.

Baca Juga:  Musuh Utama Perokok

Kepada tuhan kita berharap agar para pekerja medis tetap diberi kesehatan dan kebugaran. Kepada pemerintah kita berharap agar mencurahkan segala upaya demi kemakmuran, kesehatan, dan kesejahteraan mereka. Dan kepada diri kita masing-masing, mari menaati aturan yang sudah dibuat agar tak terpapar corona serta membuat para pekerja medis semakin kesulitan.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta