rokok

Mau Berhenti Merokok? Sekarang Saat yang Tepat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagi kelompok antirokok, bulan Ramadhan boleh jadi bulan yang menyenangkan. Betapa tidak, jutaan manusia perokok akan berhenti merokok serentak di bulan ini. Antirokok tak perlu repot kampanye, target terpenuhi.

Perokok di dunia, utamanya yang muslim, harus menjalankan ibadah puasa. Sebagai konsekuensi logis, para perokok harus menahan nafsu, lapar, haus, juga menahan asem di mulut. Dengan demikian berhasil sudah kerja-kerja antirokok; membuat perokok pensiun.

Sebagaimana sebuah keberhasilan, ini tentu perlu dirayakan. Antirokok boleh merayakan kesuksesan besar mereka. Ya, ini sukses besar. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang pensiun merokok, melainkan jutaan. Jutaan.

Itu baru dari kelompok perokok muslim yang notabene harus beribadah puasa. Pada situasi seperti sekarang ini, perokok yang bukan muslim–artinya yang tidak berpuasa–pun harus menahan kecut, termasuk saya. Saya juga tidak berpuasa, tapi ikut pensiun merokok.

Ada dua hal yang membuat saya berhenti merokok. Pertama, saya memilih untuk menghargai teman-teman muslim yang sedang beribadah puasa. Kedua, karena sedang dalam situasi pandemik. Dalam situasi wabah penyakit ini, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Banyak ruang publik yang ditutup, yang artinya ruang merokok pun ikut tergerus.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Membedakan Kretek dan Rokok?

Lagi pula, saya wajib menggunakan masker kemana-mana. Repot kalau harus merokok sambil pakai masker. Boro-boro nyebats, mau ngobrol aja susah, Bro. Masak mau dibolongin maskernya. Sudahlah aneh, gak enak pula. Gimana buang asapnya, Cuy?

Oleh karena dua alasan itulah saya memutuskan berhenti merokok. Biarin, sekali ini bikin antirokok senang. Rutinitas mereka (antirokok) menebar kebencian tentu sangat menguras energi. Jadi, ya sekali-kali kasih semangat. Kasih senang. Setidaknya sampai adzan magrib.

Lepas adzan magrib berkumandang, catatan keberhasilan antirokok tadi akan otomatis sirna begitu saja. Jutaan orang batal puasa. Jutaan orang kembali merokok. Jutaan orang. Saya pun baru mulai merokok lagi selepas adzan magrib.

Tapi, besok, selepas imsak, kita akan kembali menghibur antirokok. Kita bantu kerja-kerja mereka dengan puasa merokok lagi. Sama seperti hari ini dan kemarin, cukup sampai magrib saja. Lepas magrib, nyebats lagi. Begitu terus sampai lebaran. Lumayan, selain dapat pahala ibadah, kita bisa membantu orang bekerja.

Melalui rutinitas puasa, kita sekaligus menyatakan sikap bahwa rokok bukan barang adiktif. Perokok bukan orang-orang kecanduan seperti yang sering dicitrakan media. Kita bisa juga kok berhenti merokok. Badan kita aman sentosa, gak kejang-kejang, gak sakau. Biasa saja.

Baca Juga:  Menyematkan Gelar Pahlawan pada Antirokok

Lewat puasa juga kita menyampaikan pernyataan pada kelompok antirokok, bahwa berhenti merokok itu perkara mudah, gak perlu dikampanyekan sampai jungkir balik. Apalagi sampai ngemis biaya kampanye ke lembaga pendonor asing. Berhenti merokok gak perlu buang pulsa untuk konsultasi ke hotline yang gak jelas. Berhenti merokok gak perlu ditakut-takuti gambar seram. Berhenti merokok gak perlu ancaman penyakit blablabla wasweswos. Gak perlu!

Berhenti merokok, sebagaimana aktivitas merokok, adalah kehendak bebas tiap individu dewasa. Mau merokok monggo. Mau berhenti ya silakan. Gak usah ribet. Asal sudah dewasa.

Jadi, kalau mau berhenti merokok, sekaranglah saat yang tepat. Sekali lagi, izinkan saya menghimbau pada kretekus semua, ayo kita pensiun merokok, sampai waktu berbuka puasa tiba.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd