parbrik rokok djarum

Oie Wie Gwan Sang Perintis Perusahaan Rokok Djarum

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Nama Rokok Djarum mungkin lekat dengan Hartono bersaudara. Namun, tahukah Anda jika perintis dari salah satu perusahaan terbesar di Indonesia ini adalah orang tuanya, Oei Wie Gwan. Beginilah kisah sang perintis pabrik rokok di Kudus tersebut.

Oie Wie Gwan adalah salah satu nama pebisnis sukses yang tercatat dalam sejarah dunia usaha di Indonesia. Kiprahnya diawali pada tahun 1930 melalui bisnis mercon di Rembang. Mercon bikinannya dikenal dengan cap Leo, selain sohor di sentero Jawa, produk pelengkap perayaan bikinannya itu dipasarkan juga ke luar negeri. Konon, walaupun kemudian pabriknya tak lagi beroperasi merek tersebut masih ada beredar.

Pada tahun 1938, melalui harian Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 28 Januari 1938 menyebutkan bahwa pabrik mercon milik Oei Wie Gwan meledak. Kecelakaan tersebut tak membuatnya surut dalam melanjutkan usaha. Sebagai pebisnis berdarah Tionghoa-Indonesia, mau krisis ataupun perang, dia harus berbisnis. Perang Pasifik yang disertai dengan pendudukan Jepang pun harus dilalui,

Baca Juga:  Donor Paru-paru Perokok Bantu Pasien Kritis

Setelah Indonesia merdeka, babak bisnis baru yang berhubungan dengan tembakau dimulainya. Tepatnya pada tahun 1951, orang tua dari Hartono bersaudara ini membeli perusahaan rokok NV Murup yang hampir gulung tikar di Kudus. Inilah cikal bakal munculnya perusahaan rokok bernama Djarum.

Sebagai catatan tambahan, semula nama perusahaan rokok itu adalah Djarum Gramophon. Nama yang terinspirasi dari elemen penting pada teknologi kotak pemutar musik kala itu. Kemudian disingkatnya dengan Djarum.

Menurut situs resmi PT Djarum, pabrik kretek Djarum itu mulai beroperasi dengan 10 orang pegawai. Pekerjaan mencampur tembakau dengan cengkeh masih dilakukan secara sederhana. Oie Wie Gwan memang pebisnis yang ulet dalam melakoni usahanya. Ia dipastikan berada di pabrik jika tidak sedang mendistribusikan bahan.

Pengalaman jatuh-bangun harus dilalui oleh perusahaan kretek ini pada masa-masa awalnya. Hingga pada tahun 1963 terjadi musibah kebakaran yang hampir menghancurkan perusahaan. Oie meninggal tak lama setelah itu, kemudian bisnisnya dilanjutkan oleh kedua puteranya, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.

Baca Juga:  Toko Tembakau Wiwoho

Di tangan kedua puteranya itulah usaha keluarga Oie semakin maju. Terhitung hingga 1970-an, produk kretek di Kudus merupakan industri rumah tangga yang sebagian besar berskala kecil. Djarum kemudian tercatat menjadi salah satu dari Empat Besar di dunia industri.

Perlu diketahui lagi, sejak 1976, produk kretek filter Djarum dirilis ke pasar. Kemudian pada tahun 1981 produk bermerek Djarum Super menjadi produk andalan. Oie Wie Gwan bukan hanya mewariskan bisnis yang berangkat dari kesederhanaan bagi anak-anaknya, namun pula semangat pantang menyerah dalam menghadapi beragam ujian zaman.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah