Tjap Bal Tiga, Pelopor Kejayaan Kretek Nusantara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kisah kejayaan kretek bermula dari produk bermerek Tjap Bal Tiga. Dari mana nama itu berasal? Sejak kapan? Bagaimana perjalanan sejarahnya?

Adalah Haji Djamhari yang pertama kali menciptakan inovasi tembakau dilinting bersama dengan cengkeh. Saat itu, Djamhari yang tengah mengalami sesak mencoba-coba membakar tembakau dengan cengkeh, dan hal itu membuat dadanya yang sakit jadi membaik. Kemudian, temuannya itu dinamakan Kretek karena muncul bunyi ‘kretek-kretek‘ yang khas ketika dibakar.

Itu baru soal H. Djamhari sang penemu kretek. Tentunya sebuah temuan tidak akan menjadi terkenal kalau tidak ada orang yang menyebarluaskannya. Dan temuan ini, kemudian menjadi barang yang dikenal masyarakat setelah kretek kemudian diproduksi secara massal oleh Nitisemito beserta istrinya, Nasilah.

Ketika muda, Nitisemito banyak merintis bisnis. Mulai jadi pengusaha pakaian hingga membuka usaha pembuatan minyak kelapa. Sayangnya, semua usaha yang dirintis kemudian bangkrut hingga Nitisemito memilih untuk menjadi kusir Dokar dan berjualan tembakau. Ketika itulah ia mengenal Nasilah dan menikahinya.

Baca Juga:  6 Jenis Cerutu dan Cara Tepat Mengonsumsinya

Kretek yang dijual Nasilah di warungnya disukai oleh para pelanggannya. Campuran irisan tembakau dan cengkeh kemudian di bungkus dalam kulit jagung yang dikeringkan, lalu diikat dengan tali dari benang buatan Nasilah. Kretek ini mendatangkan banyak pelanggan ke warungnya.

Dari keberhasilan inilah kemudian Nitisemito memberi nama produk rokok kreteknya ini Kodok Nguntal Ulo, yang dalam bahasa Indonesia artinya Kodok Makan Ular. Namun karena dirasa tidak membawa keberuntungan, bahkan dijadikan bahan tertawaan, ia kemudian menggantinya menjadi Tjap Bal Tiga. Dari sinilah kisah sukses Nitisemito dan kejayaan kretek nusantara dimulai.

Setelah 10 tahun berjualan, ia kemudian membuat hak paten nama produknya dan membuat sebuah pabrik yang lebih besar pada tahun 1914. Dengan memperkerjakan sekitar 15 ribu pekerja, pabriknya mampu memproduksi sebanyak 10 juta batang dalam sehari. Dengan intuisi bisnisnya, Nitisemito mampu menjadikan usaha rumahan miliknya sebagai sebuah industri yang mampu mempekerjakan banyak orang.

Sayangnya kemudian, usaha yang dirintisnya mengalami masa surut pada akhir tahun 1930-an. Lalu masuknya Jepang dan Perang Dunia 2 semakin memperburuk keuangan perusahaan hingga pabriknya dinyatakan pailit di awal tahun 1950-an.

Baca Juga:  Tips Cermat Memilih Tembakau Aromatik

Kisah Tjap Bal Tiga kini telah berakhir bahkan kerap terlupakan. Tapi, Tjap Bal Tiga dan Nitisemito tetap dikenang sebagai pelopor, pembuka zaman bagi kejayaan industri kretek Indonesia. Kini, telah banyak perusahaan dan raja-raja baru dalam industri kretek yang memberikan pemasukan besar bagi kas negara.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd