Juergen Klopp dan Kisah Rahasia tentang Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hamburg SV mungkin bakal menjadi klub yang paling menderita di dunia. Pasalnya, mereka membatalkan untuk merekrut Juergen Klopp sebagai pelatih hanya gara-gara soal rokok dan tampilan dirinya. Kini manajer berjuluk The Normal One itu dipuji-puji seluruh dunia. Berkat dirinya, Liverpool mampu kembali mengangkat trofi Premier League sejak 1991 silam.

Olahraga memang tak bisa lepas dari standar-standar kesehatan. Butuh fisik yang prima untuk bisa menjalani pertandingan demi pertandingan selama satu musim penuh. Jika tak mampu merawat tubuh dan kesehatan, bisa saja sang pemain akan tumbang di tengah jalan.

Maka dengan demikian banyak sekali kritikan yang datang apabila sang pemain kepergok ternyata adalah seorang perokok. Saya pribadi bisa memakluminya, mengingat standar-standar kesehatan tadi yang memang harus dijaga betul oleh seorang atlet.

Tapi bagaimana jika seorang pelatih sepak bola yang justru perokok. Bagi saya normal-normal saja. Seorang juru racik taktik memang tak lagi membutuhkan kesempurnaan fisik seperti seorang pemain. Meski demikian kesehatan tetap perlu dirawat.

Baca Juga:  Lima Karakter Perokok pada Beberapa Serial Anime

Pelatih sepak bola ibarat seorang pemikir dan hidupnya lebih banyak dihabiskan untuk menganalisa dan memikirkan taktik. Dalam kondisi seperti itu acapkali rokok memang mampu menolong untuk memecahkan kebuntuan yang ada.

Juergen Klopp mungkin menyadari betul hal tersebut. Merokok baginya adalah upaya untuk membantu dirinya untuk menenangkan pikiran dari tekanan sebelum atau setelah pertandingan. Hasilnya, anda bisa lihat sendiri bagaimana Borussia Dortmund dan Liverpool sukses di tangannya.

Juergen Klopp adalah sosok yang tertib. Dirinya tahu bahwa akan ada banyak serangan kepadanya jika ia merokok secara blak-blakan. Meski di sisi lain sebenarnya dirinya sendiri punya kemerdekaan untuk melakukan hal itu. Tapi pria asal Jerman tersebut tak memilih jalur itu.

Kembali pada apa yang ditulis di paragraf awal, bahwa Hamburg SV bakal menyesal tidak merekrut Juergen Klopp sebagai pelatih karena rokok. Karena demikian membangun stigma buruk soal perokok adalah hal yang sia-sia. The Normal One dan banyak perokok di luar sana justru sukses atas kerja keras mereka.

Baca Juga:  Kiri-kanan Wisata Kretek (Bagian 1)

Contoh lain adalah Maurizio Sarri yang juga dianggap menyebalkan. Taktisi yang sekarang menangani Juventus ini juga seorang perokok. Bahkan saat dirinya menakhodai Chelsea, klub asal London tersebut sempat membuatkan ruangan khusus merokok baginya.

Jika rokok dianggap beberapa orang menjadi penghalang kesuksesan, tentu tidak buat Sarri. Dia tak kesulitan mencari klub untuk berlabuh setelah dianggap kurang begitu bersinar bersama Chelsea. Justru malah banyak klub yang berebut tanda tangannya.

Legenda Manchester United, Eric Cantona pernah berkata bahwa merokok adalah upaya untuk memerdekakan diri. Dari merokok seseorang mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa gangguan.

Begitulah Juergen Klopp dan Maurizio Sarri. Keduanya menjadi manusia yang bebas saat merokok.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta