Sampoerna Mild 50 Batang

Strategi Djarum Super dan Sampoerna Mild 50 Batang untuk Merebut Pasar Ketengan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Produk Djarum Super dan Sampoerna Mild 50 batang yang beredar di pasaran belakangan ini merupakan upaya jitu menjawab persoalan pasar. Seperti yang kita tahu, kenaikan cukai yang gila-gilaan disusul dengan munculnya krisis akibat pandemi, telah membuat pabrikan rokok harus mengambil berbagai strategi.

Sejak awal tahun pabrikan telah mengambil langkah efesiensi, ini tentu berimbas pada penurunan permintaan bahan baku dan pengurangan tenaga. Di kondisi yang demikian, pasar rokok dalam negeri kini dibanjiri beragam pilihan produk rokok murah. Sebagian besar konsumen sudah tidak mementingkan loyalitas terhadap brand maupun citarasa lagi di kondisi sekarang.

Pilihan beralih merupakan upaya konsumen untuk tetap bisa merokok. Tak heran jika brand-brand besar harus mampu merebut kembali perhatian konsumennya. Kemunculan produk Sampoerna Mild 50 batang tentu saja tidak sendirian, produk Djarum Super juga hadir dengan jumlah batang yang sama.

Sebetulnya kemunculan rokok isi 50 batang ini bukan hal baru yang dikeluarkan oleh brand-brand besar. Jika sebelumnya kita temukan dalam kemasan kaleng, kali ini kehadiran produk dalam jumlah banyak ini tidak lagi dalam kemasan kaleng.

Baca Juga:  3 Hal Menyenangkan dari Teman yang Merokok

Bisa dibilang lebih praktis dan ramah untuk masuk ke dalam saku ataupun tas, memang sih agak lebih tebal. Tapi intinya cukup memberi kesan elegan. Semacam upaya menjawab kebutuhan masyarakat konsumen yang memiliki aktivitas dinamis.

Haiya, sebagai informasi penting juga, harga kedua brand yang mengeluarkan produk dalam jumlah 50 batang ini dari segi harga tak beda jauh. Harga Sampoerna Mild 50 batang di kisaran Rp 66,000—Rp 67,000. Kedua brand besar diakui cukup memahami kondisi psikologi pasar.

Bukan lagi rahasia, bahwa pertimbangan daya tarik produk bukan hanya soal cita rasa dan kemasan. Melainkan pula perimbangan jumlah. Nah, analisis persaingan produk bisa kita tengarai dari sisi ini. Selain kita tahu, masing-masing brand memiliki varian reguler isi 12 dan 16 batang. Kemunculan produk isi 50 batang ini menjadi semacam decoy product secara teori marketing.

Di antara pertimbangan harga 12 batang dan 16 batang jika dibanding dengan isi 50 batang, maka harganya relatif lebih murah diukur secara ketengan. Produk dengan isi 50 batang ini bisa dipastikan memberi keuntungan lebih  bagi ritel yang menjual secara ketengan.

Baca Juga:  Dear Andi Arief, Rokok itu Menenangkan, Narkoba Tidak!

Kita pakai skala harga per batang Rp 1,500 saja, keuntungan ritel bisa mencapai Rp 10,000 sampai Rp 12,000. Pabrikan tentu saja jauh lebih paham untuk mengambil posisi persaingan pasar di tengah maraknya rokok murah. Apalagi tidak sedikit perokok yang beralih membeli secara ketengan untuk tetap bisa merasakan produk kesayangannya.

Iya ini tentu masih bersifat spekulasi, dengan berbagai argumen yang didasari realitas pasar rokok serta psikologi konsumen di kondisi krisi ini. Secara pribadi, saya menilai upaya dua brand besar ini relatif jitu mendongkrak penjualan rokok yang selama ini mengalami guncangan. Selain itu, menjawab pula persoalan perokok di level ketengan.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah