Peringatan Larangan Berutang di Etalase Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai perokok yang budiman, tentu saya terhitung sering berbelanja rokok di warung kelontong dekat rumah. Selain lebih murah, biasanya warung madura dekat rumah begini, tentu untuk menjalin hubungan erat dengan penjualnya. Dan di warung dekat rumah saya itu, ada penanda larangan berutang di etalase rokok miliknya.

Penanda larangan berutang ini biasanya ditujukan untuk pelanggan-pelanggan seperti saya. Konsumen yang biasanya sudah mulai akrab karena sering belanja di sana, lalu mulai berani berpikir untuk utang sebungkus dulu. Biasanya sih, kalau cuma kurang seribu atau dua ribu perak, empunya warung masih selo. Namun kalau lebih dari itu, saya jarang menemukan yang membolehkan utang.

Bukan apa-apa, ibarat kata pepatah, Nagasaki hancur karena bom sementara warung kelontong bangkrut karena bon. Ya, bon atau utangan dari pelanggan memang kerap kali membuat warung-warung kelontong kesulitan. Mungkin utangnya nggak seberapa, buat pelanggan, sekira Rp 100-200 ribu. Tapi dampaknya untuk warung tentu saja terasa.

Baca Juga:  4 Cara Perokok dalam Menawarkan Rokok dan Itikad Baik di Baliknya

Sebagai catatan, saya punya tetangga yang warungnya tutup karena bangkrut. Tentu saja ada beberapa faktor warungnya tutup, tapi salah satu yang jadi faktor adalah utang tetangga yang susah tertagih. Utang di warung ini memang membuat perputaran uang, yang amat penting untuk bisnis ini jadi macet. Hal ini bisa saja membuat warung itu bangkrut, karena sulit untuk memutar barang.

Biasanya, penanda larangan berutang ini memang dipasang di etalase rokok. Selain terpampang dengan jelas, salah satu pihak yang kerap berutang ya memang perokok. Walau, jika dibandingkan, utang rokok dan beras dari tetangga tentu lebih besar yang sembako.

Karena itulah, sebagai perokok yang budiman, sudah tentu kita mengikuti arahan larangan berutang yang ada di etalase rokok. Selain agar warung tetangga tetap bisa beroperasi, kita tetap bisa membeli rokok tanpa harus jauh-jauh ke luar gang. Apalagi, biasanya warung kelontong punya orang madura jualannya 24 jam.

Toh, sebagai tetangga yang baik, masa ya kita harus berutang pada tetangga kita. Lebih baik, kita berdayakan warung tetangga. Dengan begitu, kita bisa semakin akrab dengan pemilik warung, dan kadang ya dikasih bonus teh gelas sesekali.

Baca Juga:  Tips Mudik Lebaran Perokok
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit