Review Rokok Apache; Harga Terjangkau, Tapi…

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Siapa yang tak mengenal rokok Apache? Produk ini sudah jadi pilihan banyak perokok di Indonesia untuk segmen harga rokok di kelas menengah ke bawah. Tapi sebenarnya umur rokok ini belum bisa tergolong tua-tua banget kok. Walau demikian, sejak pertama kali peluncurannya, rokok ini memang mendapatkan impresi dari banyak perokok.

Kalau tidak salah rokok Apache pertama kali diluncurkan pada 2011 lalu. Produk kretek ini sepertinya yang pertama kali dikeluarkan sebelum menyusul nantinya produk Apache Bold dan yang lainnya. Sebagai informasi, rokok Apache ini dikeluarkan oleh PT Karyadibya Mahardhika yang beralamatkan di Pasuruan.

Seingat saya, bungkus rokok Apache mengalami perubahan bentuk. Akan tetapi warna kuning tetap mendominasi dan dipertahankan menjadi warna dari bungkus merek ini. Paling unik dan khas adalah gambar kepala yang nampaknya adalah pria dari suku Apache di Amerika yang tersemat pada bungkus ini.

Kandungan tar dalam rokok Apache ini sebesar 38 miligram, sedang kandungan nikotinnya sebesar 2,4 miligram. Di sisi lain produk ini masuk dalam kategori sigaret kretek tangan dengan golongan tarif cukai tingkat kedua.

Baca Juga:  Mengenal Ragam Bahan Baku Kretek

Saya masih ingat betul pada 2009 lalu saya membeli rokok Apache ini dengan harga 5000 rupiah saja. Harga yang sangat terjangkau pada saat itu namun ketika tarif cukai terus naik tiap tahunnya dan saat ini harga rokok ini di kisaran 12 ribu rupiah untuk yang berisi 12 batang dan 17 ribu rupiah untuk yang berisikan 20 batang.

Apache boleh saja terjangkau dari segi harga namun soal rasa tak bisa banyak berharap. Sensasi spicy rokok ini sangatlah kuat dibarengi dengan asapnya yang cukup tebal. Rasa warming pada rokok ini sangat berasa dan mungkin akan meninggalkan efek tidak nyaman pada beberapa perokok yang tak cocok dengan rokok ini.

Satu hal yang paling mencolok dari rokok ini adalah kejutan yang datang tiba-tiba di tengah hisapan. Kejutan itu datang dari pembakaran tembakau yang mungkin dirajang dengan kualitas yang tak cukup baik. Sehingga kadang ada ledakan kecil yang mengurangi kenyamanan dalam menghisap rokok ini.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta