Review Rokok Herbal Sin, Pilihan Nomor Sekian

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hal yang paling menyebalkan adalah ketika melihat banyak komentar di postingan instagram @komunitaskretek yang menginginkan konten tentang ulasan rokok Herbal Sin. Bukan tak mau untuk membuat konten tentang itu namun secara pribadi produk tersebut bukan menjadi sebuah pilihan saat ingin merokok.

Banyak yang bilang bahwa rokok Herbal Sin ini nyaris tak memiliki rasa alias hambar. Saya sendiri memang sudah mencobanya dan asumsi umum tersebut bisa saya akui. Jika tidak ada lagi rokok dan hanya ada satu bungkus produk tersebut pun mungkin saya tak akan menghisapnya.

Secara jujur saya katakan demikian, meski sebenarnya saya mengakui bahwa Rokok Herbal Sin punya popularitas yang luar biasa. Konon rokok ini berbeda dari produk lainnya karena ada unsur herbal didalamnya. Soal kesehatan? saya rasa rokok-rokok lainnya pun tak masalah untuk dihisap.

Tapi kali ini saya akan mencoba untuk objektif walau di awal saya sudah menyebutkan bahwa rokok ini memang rasanya hambar. Patut diketahui juga bahwa merek ini sebenarnya punya banyak varian, kabarnya Sin Provost lah yang paling digandrungi.

Baca Juga:  Belajar dari RB Leipzig Soal Menghargai Hak Merokok Pelatih Napoli

Secara kemasan saya berikan dua jempol pada bungkus rokok Sin Provost ini. Simpel, elegan, dan mewah bercampur jadi satu. Impresi yang dihasilkan pun sangat baik dan barangkali perokok yang ingin mencoba produk ini tak akan punya pikiran jika ingin membelinya.

Hanya saja harganya bisa dibilang agak sedikit mahal ketimbang rokok lainnya. Satu bungkus rokok ini berisi 12 batang dihargai sekitar 24 hingga 25 ribu rupiah di pasaran. Distribusi penjualannya pun sudah menyebar di banyak daerah di Indonesia.

Kandungan tar di rokok Sin Provost ini cukup besar yaitu 48 miligram walau nikotinnya hanya sebesar 0,09 miligram. Tarikannya terasa cukup ringan dan halus walau sekali lagi saya bilang rasanya hambar.

Dari informasi yang saya dapatkan, rokok Herbal Sin memiliki 17 komposisi rempah. Ada kayu siwak, jinten, kayu manis, daun sirih, kencur, kapulaga, cengkeh, dan yang lainnya. Sayangnya, minim informasi tentang tembakau apa yang digunakan untuk produk ini.

Metode penyembuhan diri terkadang kembali pada sugesti masing-masing. Haji Djamhari misalnya dulu membuat kretek untuk menjadi obat asma terjadi dan banyak yang mengakui.

Baca Juga:  Upaya Masyarakat Lereng Gunung Sindoro Merawat Alam dan Tradisi Dengan Festival Lembutan

Begitu juga dengan rokok Herbal Sin, namun jika harus memilih untuk memuaskan aktivitas merokok sehari-hari, produk ini jauh dari pilihan saya. Ya saya memaklumi sih, namanya juga produk herbal, bukan barang yang jadi prioritas untuk dikonsumsi tiap hari.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta