rokok djarum super

Djarum Super Dan Mitos Seputarnya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Djarum Super sebagai brand rokok yang cukup populer memiliki konsumen pasarnya tersendiri. Kita petakan saja ada dua kategori konsumen, ada konsumen loyal ada konsumen plural. Kategori plural di sini maksudnya golongan berprinsip, tak peduli merek ‘yang penting ngebul’.

Beberapa brand rokok terkenal di kalangannya tak luput dari mitos-mitos yang melekat pada produk maupun konsumennya. Secekak pengalaman saya, mitos-mitos ini bersifat utak atik gathuk. Tak terkecuali Djarum Super.

Barangkali kretekus sekalian sudah tak asing, kalau brand milik keluarga Hartono ini memiliki singkatan dari JARang di RUMah SUka PERgi. Ini bahkan, kalau mau dikait-kaitkan dengan jargon My Life My Adventure, kok nyambung juga ya.

Perokok memang dikenal makhluk kreatif, menolak buntu akal. Apalagi urusan memproduksi gathukan yang mengena dalam memaknai sesuatu. Haiya, tak jarang konsumen produk ini diolok-olok oleh temannya sendiri yang bukan penggemar rokok Djarum.

Kira-kira begini bunyi olokannya, “buang puntung ‘jarum’ jangan sembarangan, nanti nusuk kaki orang”. Sebagai perokok santun, kita tentu sepakat saja dengan kelakar semacam itu. Karena membuang puntung rokok sembarangan jelas perilaku buruk. Tapi ini rokok Djarum loh, lur. Bukan jarum jahit. Heuheu.

Baca Juga:  Review Rokok Pro Mild, Genre LTLN yang Nyaman di Tenggorokan

Dulu bahkan, iya dulu banget, pernah beredar istilah yang tersemat kepada rokok ini sebagai rokoknya pelacur. Entah fakta apa yang melandasi, mungkin karena secara citarasa lebih memenuhi selera kalangan tertentu. Mungkin loh ya.

Mitos semacam itu juga pernah berlaku pada rokok jenis menthol, apapun jenis rokoknya, jika itu rasa menthol dianggap sebagai rokok banci. Mungkin terkesan mendiskreditkan produk tertentu, bahkan terkesan mendiskreditkan penikmatnya. Namun, mitos-mitos semacam ini pada masanya dianggap lazim.

Iya mitos-mitos itu, boleh jadi berawal dari kelakar di pergaulan-pergaulan tertentu. Terlepas dari kebenarannya, mitos-mitos tentang rokok maupun brand Djarum Super tak selalu sama di tiap kalangan.

Namun, tidak tertutup kemungkinan, kalau mitos-mitos itu sengaja dihembuskan oleh kalangan kompetitor produk. Ini sih spekulasi konyol saya saja. Coba kita kritisi, apa yang melatari istilah soal rokok Djarum rokoknya pelacur. Memangnya gigolo, bandit, marbot masjid, dosen, atau profesi lainnya tidak boleh menikmati Djarum Super gitu? Heuheu.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah