Marcello Lippi

Pensiunnya Marcello Lippi, Pelatih Perokok yang Membawa Italia Juara Dunia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kita bisa dengan mudah membantah segala argumen yang menyebutkan perokok adalah manusia yang rentan terkena penyakit dan tak bisa berprestasi. Marcelo Lippi adalah bantahan yang bisa kita gunakan untuk melawan segala argumentasi tersebut. Hingga usia 72 tahun pelatih perokok itu tetap setia pada sepak bola setelah melewati bermacam dinamika.

Ketika sepak bola belum dipisahkan dengan rokok, kita bisa melihat dengan jelas perokok yang meramu taktik dan menyemangati sebelas pemain di lapangan hijau. Pandangan itu ada pada sosok Marcelo Lippi seorang taktisi asal Italia dengan segudang pengalamannya.

Masa-masa terindah Marcelo Lippi adalah saat menakhodai klub tersukses di Serie A, Juventus. 13 trofi ia persembahkan untuk Bianconeri meski hanya dalam kurun waktu dua periode saja. Jangan lupakan juga dua kali ia mendapatkan gelar pelatih terbaik di dunia saat masih menangani klub asal Turin tersebut.

Sukses di Juventus membawa Marcelo Lippi juga ikut berbakti pada tanah kelahirannya. Stadion Berlin, Jerman menjadi saksi pada 9 Juli 2006 dirinya bersama skuat Timnas Italia mengangkat trofi Piala Dunia yang terakhir kalinya untuk publik negeri pizza tersebut.

Baca Juga:  Ketika Rokok Jadi Sponsor Sepak Bola Indonesia

Bukan hanya trofi dan kesuksesan yang melekat pada diri Marcelo Lippi, rokok pun demikian. Sebelum generasi kini mengenal sosok Maurizio Sarri, Marcelo Lippi lah yang memegang trademark pelatih sepak bola yang juga perokok. Ya Arsene Wenger pun juga perokok, namun soal tradisi pelatih dan perokok top asal Italia di era sepak bola modern, Marcelo Lippi orangnya.

Pria kelahiran 12 April 1948 ini tetap sehat-sehat saja hingga usianya yang terus menua. Barangkali, rokok mampu menemaninya melewati fase-fase sulit dalam kariernya di dunia si kulit bundar. Apalagi saat dirinya harus hijrah jauh dari tanah Italia menuju dataran tiongkok untuk menangani Timnas Cina dan setelah itu klub Guangzhou Evergrande.

Kini kita tak akan lagi akan melihat Marcelo Lippi duduk di dugout dan menyaksikan sebelas pemainnya bertarung di lapangan. Dia memilih pensiun setelah cukup lama malang-melintang di sepak bola. Walau demikian, sepak bola tak akan pernah hilang dari kehidupannya.

Mungkin kali ini ia akan tetap menyaksikannya dengan menikmati rokok dan minuman hangat di ruang ternyamannya dalam rumah.

Baca Juga:  Toko Tembakau Wiwoho
Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta