Menjadi Ayah yang Baik

Bahaya Rokok dan Beberapa Kelucuan Seputarnya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bahaya rokok adalah diskursus yang tak pernah final. Berbagai kampanye dengan narasi diskriminatif pada perokok telah bertebaran di internet. Diskriminatif artinya selalu menyematkan stigma negatif pada segala yang berkaitan dengan rokok. Kita sama-sama tahu pelakunya.

Ya. Antirokok adalah kelompok yang paling getol mengampanyekan bahaya rokok. Mulai dari narasi kesehatan, dalil agama (perkara halal dan haram), hingga narasi bernuansa mitos yang lucu serta menggemaskan. Yang terakhir itu memang benar menggemaskan.

Sebagai contoh, pernah beredar isu bahwa asal-usul daun tembakau (bahan baku rokok) adalah kencing iblis yang jatuh ke bumi. Terlepas dari perkara keyakinan, jujur saja, pertama mendengar isu ini saya tertawa. Saya yakin banyak yang sama. Kebetulan, isu ini memang dihembuskan oleh ustadz kondang yang gemar melucu.

“Itu iblis jauh amat kencing ke bumi.”

Lagi. Pernah beredar isu bahwa filter rokok mengandung darah babi. Iya. Serius. Pernah ada isu ini. Sudah dua kali isu ini ramai, tahun 2010 dan 2013. Kala itu DR. Hakim Sorimuda Pohan dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) melontarkan sebuah pernyataan kontroversial: di dalam filter rokok terkandung darah babi.

Baca Juga:  Rokok Sebagian dari Modal untuk Lentur dan Kritis di Pergaulan Mahasiswa

Isu tersebut sudah diklarifikasi. Setelah melalui proses investigasi dan penelitian, MUI merilis hasil bahwa filter rokok tidak terbukti mengandung darah babi, alias hoax. Bantahan tersebut langsung disampaikan oleh Direktur Eksekutif LPPOM MUI saat itu, Lukmanul Hakim. Dalam sebuah konferensi pers, Lukmanul Hakim menegaskan tidak ditemukan kandungan hemoglobin babi dalam ratusan sampel rokok lokal dan impor di Indonesia. Kominfo juga menyatakan senada.

Intinya, berbagai isu soal bahaya rokok terus menerus direproduksi demi menggugat eksistensi rokok di Indonesia–sekalipun lucu dan menggemaskan.

Dan dari semua serangan yang bertubi-tubi itu, tak satupun yang bisa mengubah fakta bahwa rokok (terlepas dari kontroversi yang ada) juga punya manfaat. Kontribusi rokok pada keuangan negara adalah sahih. Tak terbantahkan. Jumlahnya juga besar, dan dipergunakan bagi banyak manusia di negara ini, termasuk mereka yang antirokok.

Manfaat dan bahaya rokok memang memiliki kualitas yang berbeda, terutama dalam konteks sosialisasi. Narasi bahaya rokok bisa dengan mudah ditemukan, sedang manfaat rokok terkubur di dasar lautan informasi di era digital.

Baca Juga:  THR Bagi Buruh Pabrik Rokok

Di atas semua itu, merokok atau tidak adalah pilihan bebas. Sebagaimana setiap orang berhak memilih untuk menjadi penikmat kopi atau teh. Kalau perokok sih gak pernah kampanye mengajak non perokok untuk menjadi perokok. Sebalikanya, antirokok bakal terus ngoceh “Lu semua harus benci rokok”.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd