Djarum Cokelat

Djarum Cokelat VS Djarum 76, Satu pabrikan Beda Pemasaran

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Djarum Cokelat sebagai produk SKT yang cukup populer di daerah Jawa Barat memang terbilang khas. Jika kita bandingkan dengan produk seatapnya berjuluk Djarum 76, kedua produk PT Djarum ini memiliki karakter yang merepresentasikan pasarnya masing-masing.

Bagi para marketer, hal ini dapat dibaca melalui metode STP (segmenting, targeting, positioning). Kenapa produk Djarum 76 lebih bisa berterima di pasar Jawa Tengah dibanding di Jawa Barat.  Pertama, ditilik dari citarasa, tentu ini menyangkut komposisi.  Kedua, ditilik dari latar sosio-kultural masyarakatnya.

Secara komposisi,  perpaduan tembakau oriental dan srinthil yang terdapat pada produk Djarum Cokelat ini cukup terasa. Ditambah lagi, dua unsur rempah akar manis dan serta kayu manis yang bikin kretek ini demikian manis dan gurih.

Namun, sensasi nutty dan after taste-nya itu yang terasa earthy menyiratkan citarasa yang seakan melengkapi citarasa masakan Jawa barat. Umumnya masakan Jawa Barat cenderung asam dan pedas, ditambah lagi unsur lalapan (sayur) segar yang menciri dari menu Pasundan.

Baca Juga:  Cebong Dan Kampret Masih Tegang, Elit Politik Nyebats Bareng

Lain halnya dengan masakan Jawa Tengah, Jogjakarta dan daerah sekitarnya yang cenderung manis, tidak didominasi unsur pedas. Umumnya lagi bersantan. Wajar kemudian jika sehabis makan masakan Jogja cocok dipungkasi dengan mengisap Djarum 76 yang ada unsur rempah adasnya itu, tak ketinggalan sensasi fruity yang khas Kudusan sekali.

Kalau saya ditanya mana lebih cocok, iya kondisinal saja, jawaban sederhana saya. Saat sedang berada di daerah Jawa Barat, Bogor misalnya. Saya tak perlu repot mencari rokok Djarum 76, sudah pasti sulit untuk mendapatkannya. Iya, bakar saja Djarum Cokelat. Nikmati kekhasan dari produk SKT yang terbilang senior ini.

Lantas, jika sedang berada di Sleman, Jogja, iya gampangnya Djarum 76 saja. Inilah mungkin yang disebut membumi, seturut pepatah; di mana bumi dipijak di situ harkat lokal kita junjung. Namun, tidaklah keliru juga jika kita mau bersetia, di manapun berada hanya itu itu saja rokoknya. Sah kok. Pronsipnya, taka da yang perlu diperdebatkan soal selera.

Baca Juga:  Pemanfaatan Nikotin pada Tembakau di Nusantara Sudah Lebih Dulu Dipraktekkan
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah