Sutopo dan Ide Religiusnya Soal Peringatan di Bungkus Rokok

Bungkus Rokok dan Gambar Yang Tak Membuat Takut

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Gambar peringatan kesehatan sebetulnya bukan suatu informasi yang sangat diperlukan perokok. Ini diilik dari sudut pandang kepentingan konsumen. Bandingkan deh, pada produk konsumsi lain kan ada daftar ingredients-nya tuh, namun regulasi tentang pengendalian tembakau mewajibkan adanya gambar seram di bungkus rokok.

Konten peringatan kesehatan ini hampir semua memberi gambaran tentang penyakit yang diderita seseorang. Sejatinya gambaran itu tak melulu disebabkan oleh rokok, pernah ada protes seorang veteran terkait penggunaan foto dirinya yang dilekatkan pada kemasan rokok. Memang sih bukan kejadian di Indonesia.

Namun, satu hal yang mesti kita pahami, gambar peringatan kesehatan pada bungkus rokok, tak lebih jitu dibanding rambu lalu lintas. Misalnya rambu bergambar orang menyebrang, iya memang di daerah tersebut banyak orang menyebrang, tak perlu diterakan gambar orang kecelakaan karena menyebrang.

Melalui rambu itu, setidaknya pengendara diperingatkan untuk berhati-hati, karena jalan tersebut kerap jadi perlintasan pejalan kaki. Tentu berbeda dengan politik Pictorial Health Warning (PHW), di baliknya ada ageda kepentingan kesehatan. Perokok harus ditakut-takuti, berimplikasi pula melecehkan kewarasan konsumen.

Baca Juga:  Menjadi Penyair Lagi  

Sebagian umum, PHW ini menampakkan gambaran penyakit-penyakit mengerikan, misalnya kerusakan area mulut, leher yang bolong akibat dioperasi. Semacam memberi tahu, bahaya merokok itu dapat menyebabkan leher bolong. Kesimpulan awamnya begitulah.

Pada kemasan rokok lainnya, ada juga gambar orang terbaring setengah badan, di badannya terdapat selang operasi. Pada edisi lain terdapat gambar paru-paru yang menyeramkan.

Sudah bisa diketahui, kalau PHW ini sebetulnya bentuk visual dari peringatan kesehatan yang dulu berupa teks; Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

Agaknya untuk memvisualkan gangguan impotensi, para pihak mungkin tak kuasa untuk memvisualkannya, entah atas alasan etik moral atau lainnya. Pula soal gangguan kehamilan dan janin, tidak ada bentuk PHW-nya. Di beberapa negara lain, ada yang menerakan gambar janin di bungkus rokok.

Pada konteks tulisan ini, saya tidak bermaksud melecehkan pihak manapun yang beritikad kampanye kesehatan di kemasan rokok. Namun sedikitnya saya paham, bahwa gambar itu dibuat menakutkan agar menjadi teror tersendiri bagi konsumen luas. Intinya jelas, untuk mendiskreditkan rokok, bahwa rokok produk yang sangat berbahaya.

Baca Juga:  3 Iklan Rokok Paling Memorable di Indonesia

Ada dua gambar lainnya yang terbilang tidak memvisualkan penyakit mengerikan, pertama, gambar pria berkumis sedang merokok dilatari gambar tengkorak, pada edisi lainnya adalah yang memvisualkan sosok pria sedang menggendong anak sambil merokok.

Pastinya, gambar pria yang sedang menggendong anak ini bukan visualisasi dari peringatan kesehatan tentang gangguan impotensi. Visual ini mengingatkan perokok untuk tidak merokok bersama anak, atau di dekat anak kecil. Untuk konteks ini kita sepakat. Bahwa rokok memiliki faktor risiko, untuk itu sebaiknya dijauhkan dari golongan yang rentan, anak dan ibu hamil di antaranya.

Setidaknya dua gambar itulah yang menurut saya paling tidak menakutkan. Haiya, satu hal yang bikin saya suka nyengir di hadapan bungkus rokok, kok mau ya sosok (model) di PHW itu citra dirinya dipublikasikan untuk menakut-nakuti perokok sang penyumbang devisa. Heran saya.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah