sejarah Gudang Garam

Ragam Panggilan untuk Rokok Garpit

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Banyak penyebutan merek rokok yang dipadatkan ke dalam akronim seperti halnya rokok Garpit. Akronim atau singkatan ini merujuk pada rokok Gudang Garam International. Bagi masyarakat yang pernah hidup di era hiburan layar tancap berjaya, tentu tak asing lagi lah ya.

Barangkali ada yang sempat tercetus kenapa sih, merek rokok aja pakai disingkat segala, kayak menyebut fasilitas kesehatan masyarakat yang dikenal Puskesmas aja deh? Wajar sih, selain singkatan ala ala itu berkaitan dengan citarasa bahasa di masyarakat. Lagipun, rezim bahasa di negeri ini sejak dulu gemar bermain lewat jargon dan slogan.

Dari masa presiden pertama, kita mengenal ada istilah Berdikari, yang artinya berdiri di kaki sendiri. Lalu, di gelangggang kebudayaan populer juga istilah Manikebu, yang artinya manifestasi kebudayaan. Ini contoh penggunaan istilah yang praktis dan politis, tujuannya agar mudah diingat dan mengena.

Kembali ke rokok Garpit, untuk penyebutan rokok ini ternyata tidak hanya memiliki satu sebutan saja. Ada beberapa penyebutan lain, yakni GP dan GF atau pula GG Filter. Nah, dari kesemua penyebutan rokok produksi Kediri ini, kita akan melihat kesamaan penyingkatan diksi “filter” ketimbang penggunaan diksi “international”.

Baca Juga:  Masjid Raya Medan, Bukti Kemasyhuran Tembakau Deli

Pertanyaan sepelenya, kenapa produk ini lebih menekankan penggunaan diksi filter ketimbang international? Jadi gini, Gudang Garam sebagai sebuah perusahaan lawas ini sudah memproduksi beragam varian produk. Peggunaan diksi filter ini untuk membedakan produk yang dianggap bergengsi dibanding produk-produk pendahulunya yang merupakan genre SKT (Sigaret Kretek Tangan).

Produk kretek yang menggunakan filter yang diluncurkan pada tahun 1979 ini merupakan golongan SKM (Sigaret Kretek Mesin) pertama. Dari sisi ini kita sudah dapat titik terang, bahwa penyingkatan diksi “filter” bertujuan untuk menonjolkan keunggulan produk, yakni berfilter. Rokok Garpit ini didedikasikan sebagai pionir dari Gudang Garam untuk genre SKM-nya.

Masuk ke pertanyaan kritisnya, kenapa tidak pakai diksi “international” aja sih, bukannya itu jauh lebih bergengsi? Tentu tidak melulu begitu logika marketing-nya. Ada konteks zaman yang melatari pemaknaan berfilter dan tidak pada masa itu, intinya lebih ke soal persaingan pasar.

Sekali lagi, ini tidak bisa dilepaskan dari citarasa bahasa masyarakat. Lagipun akan tidak mengena dan tidak bersenyawa dengan lidah masyarakat, kalau kita menyingkatnya menjadi “Gartal” alih-alih menyebut Gudang Garam International. Gitu gak sih?

Baca Juga:  3 Kemampuan Dahsyat Dari Rokok
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah