Rokok Apache Setelah Diakuisisi Perusahaan Asing

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ketika saya masih kuliah, rokok Apache adalah solusi ketika rokok habis di tongkrongan dan pembicaraan belum menemui titik selesai. Harganya yang 5000 rupiah saat itu menjadi penolong. Satu bungkus terbeli, satu tongkrongan jadi bahagia kembali.

Seiring umur saya bertambah, rokok Apache luput dari pengamatan. Terakhir saya mengetahuinya adalah ketika pabrik rokok ini kemudian diakuisisi oleh perusahaan asing.

Konon, PT Karyadibya Mahardika selaku produsen rokok ini adalah masih milik dari Gudang Garam. Kebijakan teratas dari GG juga yang membuat Apache harus lepas kepemilikan ke tangan Japan Tobacco dengan mahar sebesar USD 677 juta atau setara dengan Rp 9 triliun.

Ekspektasi besar ditanamkan dari pemindahan kepemilikan ini. Diharapkan Apache bisa terus tumbuh dan bersaing di pasar kretek nasional dan mungkin bisa mendunia. Tapi apa daya, hal itu sepertinya sulit terwujud.

Fajar Utomo selaku Corporate Affairs & Communications Director dari PT Karyadibya Mahardika mengakui stagnansi yang dialami oleh perusahaan tersebut. Sejak diakuisisi perusahaan Jepang pada 2017, keadaannya tidak berubah bahkan harus mengalami efisiensi di beberapa titik.

Baca Juga:  Asbak Rokok Bali, Oleh-oleh Khas Bagi Perokok

Salah satunya adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal yang menghebohkan dunia industri hasil tembakau (IHT) pada 2020 lalu. Mirisnya, di penghujung Maret ini perusahaan tersebut kembali merumahkan 700 karyawannya dengan alasan jumlah produksi yang menurun.

Kasus PHK yang dilakukan oleh Apache menambah daftar panjang deretan industri hasil tembakau milik asing di Indonesia yang merumahkan pegawainya. Pada 2014 ada sekitar 4.900 karyawan PT HM Sampoerna yang dirumahkan dan menjadi PHK massal terbesar dalam sejarah IHT di Indonesia.

Memang kondisi dunia tembakau di Indonesia saat ini memang sulit. Namun, ironinya adalah kepemilikan asing terhadap pabrikan rokok lokal seringkali lepas ikatan sosial. Dua kasus tersebut jadi bukti bahwa investasi dalam jumlah besar dari perusahaan asing bisa menggiurkan tapi belum tentu menguntungkan.

Rokok Apache hari ini tetap seperti apa yang saya saksikan saat kuliah dulu. Mentok bersaing di kelasnya, surut sinarnya walau telah dimiliki oleh perusahaan dari negeri matahari terbenam.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta