asap rokok

Sering Merokok Sehabis Makan? Ketahui Hal Berikut

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Setiap perokok punya kebiasaan masing-masing perihal aktivitas merokok. Salah satu yang hampir semua perokok lakukan adalah merokok sehabis makan. Momen merokok sehabis makan sudah jadi semacam ritual wajib bagi kebanyakan perokok.

Tidak ada penjelasan ilmiah tentang mengapa banyak perokok yang doyan sebats habis makan. Tapi, kalau ditanya, rata-rata mereka akan menjawab sederhana: “Ya, karena nikmat!”. Sudah itu saja.

Entah. Kenikmatan rokok seolah meningkat berkali lipat jika dikonsumsi sehabis makan. Lebih-lebih kalau habis makan makanan pedas. Rasanya itu… WAW! Gak tau. Enak aja. Bahkan, pada kondisi tertentu, aktivitas merokok sudah dianggap satu kesatuan dengan aktivitas makan. Maksudnya, ketika sedang makan, seorang perokok sudah tahu bahwa selanjutnya dia akan merokok, bukan tidur.

Ada kebiasaan lain yang juga banyak dilakukan perokok, misalnya merokok saat buang air besar. Bagi sebagian perokok, buang air besar adalah momentum paripurna untuk sebats. Tapi tidak bagi saya. Merokok sehabis makan tetap satu tingkat di atasnya. “Wis mangan ora udud???”

Anehnya, kini muncul narasi soal bahaya di balik kebiasaan sebats sehabis makan. Ya gak aneh juga sih. Mau sebelum atau sesudah makan, rokok akan selalu berbahaya bagi antirokok. Hanya saja, semakin hari mereka nampak semakin mengada-ada, konyol dan maksain banget inovatif dalam mengemas isu.

Baca Juga:  Rokok Membahagiakan, Budaya Konsumerisme yang Memiskinkan

Yang menjadi aneh adalah asumsi subjektif yang melandasi narasi tersebut. Kira-kira begini narasinya:

“Kebiasaan merokok setelah makan itu bertujuan untuk menekan nafsu makan. Banyak orang berpikir bahwa rokok bisa menurunkan obesitas. Padahal, rokok bukan obat obesitas. Merokok hanya bikin lupa waktu hingga lupa makan. Dengan demikian, jangan berpikir lebih baik merokok daripada gemuk. Bahaya.”

Pertanyaannya, perokok mana yang merokok untuk menekan obesitas? Perokok mana yang punya kebiasaan sebats habis makan dengan tujuan menekan nafsu makan? Siapa pula orang yang beranggapan lebih baik merokok daripada gemuk?

Asumsi-asumsi tersebut mereka ciptakan sendiri, untuk kemudian mereka bantah sendiri. Padahal, kalau ada alasan paling umum mengapa seseorang suka merokok usai makan, ya jelas karena nikmat. Sudah itu saja. Mosok yang gak suka rokok merasa lebih tahu dari perokok soal alasan merokok.

Lagian, kok bisa-bisanya dihubungkan dengan obesitas dan nafsu makan segala? Mereka gak tau aja ada perokok yang justru sengaja makan atau nyemil sesuatu lebih dulu sebelum bakar rokok. “Buat ngenakin merokok”, katanya.

Antirokok kurang riset. Padahal kalau dipikir-pikir justru yang berbahaya itu ya kebiasaan merokok saat buang air besar. Namanya buang air, rokok kita bisa kena air, lalu padam dan anyep. Bahaya.

Baca Juga:  Tidak Perlu Malu Menjadi Perokok
Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd