berhenti merokok

Stop Paksa Orang Lain Untuk Berhenti Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Berhenti merokok bukanlah perkara sulit. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan dari pilihan orang untuk tetap merokok atupula memilih hiatus. Jika ada kalangan yang menyebut aktivitas merokok membuat pelakunya ketagihan dan sulit untuk berhenti, jelas itu keliru besar.

Produk legal berupa rokok seringkali saja dicap jahat. Konsumennya bahkan digadang-gadang sebagai pesakitan yang menebarkan ancaman penyakit mengerikan. Adanya narasi perokok pasif, yakni masyarakat yang bukan perokok, terus dijadikan bantalan pada berbagai kampanye kesehatan dalam upaya mediskreditkan rokok.

Peringatan pada bungkus rokok berupa gambar-gambar penyakit mengerikan, pula peringatan kesehatan yang menyebut “rokok membunuhmu”. Dari sisi itu saja kita dapat menengarai adanya bahasa visual yang cenderung hiperbolik alias lebay.

Bahasa visual yang hiperbolik itu memang dirancang untuk membuat masyarakat merasa ngeri terhadap rokok. Kengerian yang disublimkan melalui gambar dan peringatan kesehatan memang dibuat bertujuan membangun logika masyarakat untuk berhenti merokok.

Pada beberapa konteks lain, kalangan pembenci rokok juga terus berupaya mendesakkan logika absurd mereka yang mengaitkan rokok dengan penyebaran virus corona. Kemudian pada beberapa media, isu kesehatan menjadi dalih yang digunakan untuk masyarakat terus membenci rokok.

Baca Juga:  Tukar Isapan Rokok dalam Perkawinan Adat Talang Mamak

Isu-isu negatif itulah yang kemudian menjadi amunisi sebagian masyarakat untuk memaksa orang lain berhenti dari rokok. Setiap hari dengan mudah bisa kita temukan postingan beberapa warganet yang menyebut perokok sebagai entitas yang bertanggung jawab pada semua persoalan penyakit di masyarakat. Ajaib memang.

Mereka itu tak lain, golongan yang termakan isu kesehatan yang dimainkan lewat media. Bahkan di keseharian kita pun, ada saja teman ataupula saudara kita yang bermodalkan logika antirokok, mereproduksi jargon-jargon antirokok untuk membenci rokok. Hal semacam ini sama halnya terjadi pada orang-orang yang mencari keuntungan dari industri moral.

Industri moral ini kerap memproduksi wacana-wacana yang membelah kewarasan publik. Sehingga membiaklah benih-benih kebencian baru terhadap gaya hidup orang lain, membenci pilihan ekspresi budaya sesamanya dalam memaknai kehidupan beragama ataupula bersosial.

Termasuk dalam konteks pilihan merokok, instrumen agama juga kerap dijadikan cara untuk menakut-nakuti perokok. Tujuannya agar perokok terisnsyafi dan memaknai rokok sebagai musuh untuk diberangus dari entri pergaulan.

Artinya, upaya-upaya yang memaksa orang lain untuk berhenti dari merokok, ini tak lain adalah bentuk pelecehan hak atas pilihan manusia lain. Sesungguhnya, perokok sendiri untuk urusan berhenti mengonsumsi rokok itu persoalan mudah saja. Tanpa harus dipaksa pun, jika ingin berhenti ya tinggal berhenti saja.

Baca Juga:  Perokok Santun dan Tafsir Kebakaran Jenggot

Di bulan Ramadan ini misalnya, banyak tuh perokok yang berhenti merokok di siang hari. Sejauh ini ya baik-baik saja, perkara kemudian lanjut merokok setelah adzan Magrib, iya itu lagi-lagi soal pilihan untuk tetap merawat kewarasan, tak ada yang perlu dilebih-lebihkan.

 

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah