rokok adalah
Ragam

Kampanye Anti Rokok Adalah Upaya Mematikan Budaya Indonesia

Rokok adalah produk budaya masyarakat yang terus berkembang dari masa ke masa. Kehadirannya mengisi kelangsungan hidup masyarakat dunia. Di Indonesia, negeri yang kaya oleh keragaman anugerah alam, memungkinkan sekali lahirnya budaya kretek.

Kehadiran produk kretek merupakan satu di antara produk budaya masyarakat yang mencirikan etos hidup orang Indonesia. Berangkat dari itikad meluruhkan gangguan kesehatan Haji Djamhari pada abad 18-an. Produk kretek kemudian menjadi dikenal seturut perkembangan industrinya.

Masyarakat global sebatas mengenal rokok adalah produk dengan bahan baku tembakau. Namun, di Indonesia, rokok berjenis kretek tidak hanya berbahan baku tembakau, dilengkapi unsur cengkeh dan rempah penyedap lainnya.

Produk kretek inilah yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat serta menyumbang devisa untuk negara dengan nilai triliunan rupiah tiap tahunnya. Banyak perusahaan asing berekspansi ke sektor kretek ini. Tak dipungkiri, lantaran pasarnya yang menggiurkan.

Kretek memiliki kedudukan sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan, inilah posisi yang terus dibidik oleh agenda industri farmasi dunia. Jika kita tilik lebih dalam lagi, gerakan antitembakau global yang ditandai kemunculannya sejak era Nazi, merupakan gerakan yang obsesif dalam memberangus budaya merokok. Lebih spesifik terhadap tembakau.

Baca Juga:  Inilah 5 Atlet Terbaik Indonesia Didikan PB Djarum

Narasi tentang kesehatan mulai dikait-kaitkan pada rokok, pula upaya-upaya mendiskreditkan prilaku konsumsinya. Paradigma perokok aktif dan perokok pasif dimunculkan sejak era Nazi, paradigma inilah kemudian yang digunakan pula oleh gerakan antirokok di seluruh dunia.

Di Indonesia, kampanye antirokok kerap pula menggunakan instrumen kesehatan dalam melancarkan kepentingannya. Instrumen inilah yang dianggap efektif dan dipandang dapat menggugah kesadaran publik luas.

Sulit terbayangkan bilamana produk kretek punah dari kehidupan masyarakat. Indonesia yang dikenal sebagai penghasil tembakau terbaik selain Brazil, Cuba, China, dan India. Niscaya, Indonesia tak lagi memiliki posisi tawar yang sangat penting di peta perdagangan dunia.

Lebih dalam dari itu, bilamana kampanye antirokok dalam upaya mematikan pasar rokok sehingga konsumen beralih. Maka otomatis, ekosistem budaya yang menopang pasar kretek akan mati. Ekosistem budaya ini akan tergantikan etos baru yang sulit disebut sebagai etos budaya Indonesia.

Etos budaya Indonesia pada sektor hulu kretek, tercermin pada kultur tanam dan kultur pasca panen. Terselenggaranya ritus kearifan lokal yang mencerminkan gotong royong masyarakat. Di sektor hilir, budaya guyub masyarakat akan berangsur kehilangan ruh agrarisnya, tak lagi menguarkan aroma khas dari tanaman endemik Nusantara.

Baca Juga:  Lelah Hadapi Banjir, Sebats Dulu Saja
Penulis di Komunitas Kretek