Ragam

Orang Merokok Lebih Rileks dan Lentur, Benarkah?

Rokok sering kali dicap membahayakan kesehatan bagi sebagian besar kalangan. Anggapan ini pula yang dikaitkan kepada orang merokok. Perokok yang sedang melakukan aktivitas merokok dianggap sedang merusak diri dan lingkungan. Stigma semacam ini sudah sering beredar di ruang-ruang perbincangan.

Namun, ketahuilah tidak banyak masyarakat yang paham kalau aktivitas merokok memberi pengaruh lebih rileks terhadap kerja tubuh. Terdapat sejumlah riset yang menyatakan manfaat nikotin  yang dikandung pada rokok, hal ini tentu pula bukan hal baru yang diketahui sejumlah kalangan.

Secara penjelasan sederhananya, nikotin akan diserap tubuh (darah), diringi dengan pelepasan adrenalin dan penghambatan beberapa hormon. Pernah dinyatakan oleh U.S. Congress pada tahun 1990, bahwa nikotin membuat tubuh merasa relaks, lebih energik dan bersemangat, atau bahkan sebaliknya. Efek ini biasanya dikenal sebagai biphase effect.

Tak hanya itu, nikotin juga merangsang otak dengan membuat zat endorphin lebih banyak dari keadaan normal. Struktur kimia endorphin hampir sama dengan obat penghilang rasa sakit seperti morphine.

Sejatinya, kalau kita bicara soal nikotin, iya tidak melulu ada pada tembakau atau rokok. Beberapa vegetasi lain seperti kol, tomat, terong, kentang, ini adalah jenis sayur-sayuran yang lazim dikonsumsi di keseharian masyarakat.

Baca Juga:  3 Pejuang Kemerdekaan yang Juga Perokok

Kandungan nikotin pada pada jenis sayur-sayuran tersebut tentu saja berbeda-beda kadarnya. Pada tembakau yang termasuk golongan vegetasi ini memiliki kandungan nikotin yang mumpuni dibanding jenis sayuran tadi.

Senyawa yang sama juga muncul dar biji terung. Dalam biji terung terdapat nikotin yang jika dikonsumsi pada kadar tertentu akan memicu pelepasan dopamin (hormon bahagia). Dengan memakan terung, kita bisa bahagia.

Jadi sebetulnya, orang merokok itu memang akan lebih rileks dan membawa efek bahagia oleh sebab kerja alamiah nikotin. Hal ini pula yang dimungkinkan dari perilaku perokok yang cenderung lentur alias adaptif.

Tak terbantahkan bahwa setiap perokok itu mengonsumsi rokok ya karena ingin mendapatkan efek relaksasi. Dengan keadaan lebih rileks itulah, tak jarang dapat membuat perokok lebih mampu fleksibel dalam berinteraksi di dalam kehidupannya sehari-hari.

Iya, hal ini tentu saja bukan sesuatu yang sekadar omong kosong. Meski tak dipungkiri, ada kasus-kasus tertentu yang terjadi sebaliknya, namun, konyol saja kalau kita semata-mata melihat itu semua hanya berdasar produk konsumsi rokok.

Baca Juga:  Sampoerna Splash vs Esse, Duel Rokok Aroma Buah
Penulis di Komunitas Kretek