Ragam

Sejarah Dji Sam Soe, Kenapa Menggunakan Simbol 234?

Sebagai salah satu merek produk SKT legendaris, produk Dji Sam Soe sejak awal sudah dikenal dengan penggunaan simbol angka 234. Penggunaan angka semacam ini tak hanya dimiliki produk Sampoerna yang legendaris itu. Salah satu produk SKT besutan PT Djarum ada juga yang menggunakan simbol angka, yakni Djarum 76.

Tentu ada yang hal-hal yang medasari kenapa produk Dji Sam Soe maupun Djarum 76 diberi simbol angka. Pada tulisan ini saya akan membahas perihal latar belakang penggunaan angka 234 pada produk SKT yang legendaris itu.

Jika kita cermati bungkus rokoknya, terdapat logo Dji Sam Soe terdiri dari 9 buah bintang berujung 9, tulisan “DJI SAM SOE” yang terdiri dari 9 huruf, sebagaimana tulisan “SAMPOERNA”, serta angka 2, 3, dan 4 yang apabila dijumlahkan menjadi 9.

Selanjutnya, Fatsal-5 diartikan sebagai racikan kelima, dan Fatsal-9 pada varian sigaret kretek diartikan sebagai racikan kesembilan. Oleh sebab itu pula, PT HM Sampoerna Tbk. menetapkan jumlah pekerja untuk memproduksi SKT legendaris itu sebanyak 234 (dua ratus tiga puluh empat) orang, tidak kurang dan tidak lebih.

Baca Juga:  Cerita Sebatang Cerutu

Setidaknya, demikianlah penjelasan filosofis yang disuguhkan Wikipedia terkait penggunaan angka 234. Namun, ada juga cerita yang beredar di sejumlah kalangan, angka itu merujuk pada jumlah rakaat salat pada salat 5 waktu, yang terdiri dari Subuh 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, selebihnya adalah 4 rakaat, yakni Dzuhur, Ashar dan Isya.

Cukup menggelitik memang, jika kita cermati kenapa bisa dikait-kaitkan dengan pembagian jumlah rakaat pada salat bagi umat islam itu. Bukan tidak mungkin, penjelasan yang bersifat utak atik gathuk itu merupakan bagian dari strategi dagang.

Sehingga produk tersebut memberi kesan tersendiri bagi penganut agama mayoritas maupun konsumen lebih luas. Terlepas dari itu semua, penggunaan simbol angka memang telah lazim digunakan pada produk kretek di Indonesia. Tentu kita ingat produk pertama Nitisemito yang semula bernama Kodok Mangan Ula, kemudian diganti dengan Tjap Bal Tiga.

Digadang-gadang, penggantian merek dagang itu didasari pada alasan tentang keberuntungan atas penggunaan nama. Tak dipungkiri memang, masyarakat Indonesia masih mempercayai aspek hoki atau keberuntungan dari sebuah nama.

Baca Juga:  4 Rokok yang Paling Laku di 2018

Begitupun agaknya penggunaan simbol angka 234 dan kaitannya dengan jumlah pekerja serta filosofi di baliknya. Boleh jadi, tak lepas dari pemaknaan akan sebuah hoki yang dipercaya dapat memberi keberuntungan bagi produk tersebut.

Penulis di Komunitas Kretek