rokok
Ragam

Akibat Merokok, Para Pesepakbola Ini ‘Terbuang’

Usai “terbuang” dari Barcelona, Miralem Pjanic masih berkutat dalam masa sulit. Ia kini dicoret dari Tim Nasional sepakbola Bosnia dan Herzegovina akibat ketahuan merokok. Iya, akibat merokok.

Sebetulnya bukan hanya merokok, Pjanic juga kedapatan mabuk alkohol. Hal tersebut nampaknya tidak bisa ditolerir oleh manajemen Timnas Bosnia dan Herzegovina. Pasalnya aktivitasnya di luar lapangan tersebut dilakukan sehari sebelum laga Bosnia dan Herzegovina menghadapi Finlandia. Di laga itu Pjanic masih dimainkan, kemudian digantikan pada menit ke-66 disambut sorakan meledek dari penonton. Setelah itu nama Miralem Pjanic dicoret dan tidak dibawa pada laga selanjutnya.

Apa yang dialami Pjanic bukanlah fenomena pertama pemain sepakbola diasingkan akibat merokok. Radja Nainggolan, mantan gelandang andalan Timnas Belgia yang berdarah batak juga punya nasib serupa. Nainggolan, sapaan akrabnya, juga dicoret dari Timnas dan tidak diikutsertakan dalam gelaran Piala Dunia pada tahun 2018 silam akibat kontroversi perihal merokok. Dari sini nampak pola bahwa seolah olahragawan harus “bersih” dari rokok.

Baca Juga:  Mengenal Kandungan Rokok yang Katanya Berbahaya

Saat itu Roberto Martinez, pelatih Timnas Belgia berdalih bahwa pencoretan nama Radja Nainggolan semata-mata persoalan taktikal. Tapi publik menolak percaya dengan mudah. Pada saat itu muncul sebuah petisi yang berisi dukungan untuk Nainggolan sekaligus kritik pada Martinez dari kelompok pendukung Timnas Belgia.

Mengenai Radja Nainggolan, Ia tidak pernah membantah bahwa dirinya memang perokok. Ia terang-terangan menunjukkan kepada publik bahwa dirinya adalah pesepakbola yang cukup berbeda dari pesepak bola pada umumnya. Ia menyebutnya dengan “menjadi diri sendiri”. Apakah aktivitas merokok Nainggolan membuatnya penyakitan dan minim prestasi? Tunggu dulu. Penampilan Radja Nainggolan bersama klubnya, terutama saat berseragam AS Roma, menunjukkan fakta berbeda.

Kala itu Nainggolan bersama AS Roma sukses mengganggu dominasi Juventus di Liga Italia. Performanya di lapangan pun terbilang konsisten. Tak banyak pemain yang mampu bertahan dan menyerang sama baiknya sebagaimana yang ditunjukkan Nainggolan. Sayang, bukan fakta-fakta di atas lapangan yang dijadikan patokan oleh pelatihnya.

Apa yang dialami oleh Pjanic dan Nainggolan adalah sedikit contoh betapa perokok masih menghadapi beragam tindak diskriminatif. Pola pikir semacam ini seringkali digunakan dalam menyikapi isu bahaya rokok. Rokok sering dianggap sebagai biang penyakit dan beragam hal buruk lainnya. Fakta-fakta bahwa banyak perokok yang sehat serta berprestasi pun kadang diabaikan karena kadung membenci rokok.

Baca Juga:  Bahan Baku Rokok; Tentang Tembakau di Indonesia

Kita tentu tak bisa serampangan menyebut aktivitas merokok baik bagi pesepakbola, itu tetaplah menjadi kehendak bebas bagi setiap orang. Masing-masing individu tentu bisa menakar kapasitas diri sendiri. Tapi, “menghabisi” karir seorang pemain akibat pilihannya untuk merokok jelas sebuah sikap kejam. Apalagi jika sang pemain masih kompetitif. Dan, faktanya, ada banyak nama besar di dunia sepakbola yang masih aktif bahkan berprestasi sekalipun menjadi seorang perokok.

Penulis di Komunitas Kretek