Ragam

Petani Tembakau dan Ritual Sedekah Bumi

Petani tembakau sebagai masyarakat yang terikat kultur agraris senantiasa memiliki kesetiaan pada warisan leluhurnya. Hal ini dapat kita temukan pada beragam bentuk tradisi pemuliaan tembakau. Pemuliaan ini didasarkan pada rasa syukur kepada sang pencipta atas bumi yang dititipkan untuk dikelola dengan baik.

Ritual-ritual yang didasarkan pada ungkapan syukur itu dapat kita temukan di daerah Temanggung. Daerah penghasil tembakau ini telah menyimpan banyak hikayat yang tak lepas dari simbol tembakau sebagai sumber penghidupan masyarakat.

Kehidupan masayarakat yang hidup dari lereng Sindoro-Sumbing ini sudah sejak lama merawat nilai-nilai tradisinya dengan saksama. Ada tradisi Manten Mbako misalnya, yang kerap dihelat di desa Reco sekitaran Sumbing. Biasanya tradisi ini digelar pada awal musim panen tembakau tiba.

Selain tradisi itu, ritual sedekah bumi yang telah dihelat di Desa Petarangan, Kledung, Temanggung, Jawa tengah, juga menjadi salah satu tradisi yang masih dapat kita temukan di masyarakat petani. Sedekah bumi ini merupakan kegiatan budaya tahunan yang memberi arti tersendiri secara pariwisata.

Baca Juga:  Rokok 555 dan Diplomasi Rokok Ala Soekarno

Diakui oleh Kepala Desa Petarangan, ritual ini sengaja digelar di puncak Botorono sebagai salah satu cara untuk mempromosikan destinasi wisata tersebut. Bagi Jumarno, kegiatan riutual sedekah bumi memiliki daya tarik tersendiri, dengan harapan dapat pula meningkatkan kunjungan wisatawan.

Jika pada tahun sebelumnya acara ini terpaksa diliburkan lantaran pembatasan sosial di masa pandemi, dimana sebagian besar masyarakat belum divaksin, untuk tahun ini sudah bisa dilakukan lagi dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Sejatinya, kegiatan sedekah bumi semacam ini tidak hanya terjadi di Temanggung saja. Pada beberapa daerah lain di Indonesia, termasuk pula pada budaya masyarakat pesisir. Kegiatan budaya semacam ini menjadi simbol tersendiri yang dapat menyatukan rasa antar entitas masayarakat.

Selain didasari sebagai ungkapan rasa terima kasih atas anugerah hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan, secara tak langsung, kegiatan ini juga mengandung nilai yang mendidik kepada generasi muda untuk memiliki rasa empati terhadap bumi dan yang bertumbuh memberi penghidupan.

Meski diakui pada panen tahun ini, hasil yang didapat tidaklah seberapa baik dibanding yang sudah-sudah. Ungkapan rasa syukur terhadap anugerah kesehatan dan keselamatan menjadi satu titik kesadaran yang penting dari para petani tembakau.

Baca Juga:  Mengapresiasi Ruang Merokok di Kampung Pelangi

Sebagaimana kita tahu, sejak regulasi cukai begitu eksesif diberlakukan, Industri Hasil Tembakau mengalami hantaman yang luar biasa. Namun, rasa syukur para petani tembakau atas karunia yang diberikan pencipta mengisyaratkan adanya pengharapan yang tulus.

Bahwa segala sesuatu yang berasal dari sang pencipta, di antaranya anugerah tembakau, seberapapun yang didapat tetap patut disyukuri. Ritual sedekah bumi di Desa Petarangan ini memiliki serangkaian kegiatan yang tidak hanya membawa sesaji berupa makanan tardisional yang kemudian dimakan bersama. Ada perayaan maulid dan pentas wayang kulit pula yang dihelat untuk melengkapi keseluruhan makna bersyukur tersebut.

Penulis di Komunitas Kretek

You might also like