rokok kuli
Ragam

Menilik Asal-usul Istilah Rokok Kuli

Secara sederhana, rokok kuli adalah merek sigaret apapun yang biasa dikonsumsi kalangan pekerja kasar. Tidak ada merek spesifik yang dikonsumsi kalangan kuli. Kalaupun ada tentu itu merujuk pada rokok golongan non filter yang berat tarikannya. Selain itu, pilihan rokok yang mereka konsumsi biasanya disesuaikan taraf kocek yang dimiliki.

Mari kita tilik dulu asal-usul frasa “kuli”. Merujuk dari Wikipedia, sebutan kuli (koeli) adalah orang yang bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisiknya, semisal, membongkar muatan kapal atau mengangkut barang dari stasiun, dengan memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.

Istilah lain digunakan untuk menyebut kuli sebagai pekerja kasar Sekitar tahun 1600-an, istilah tersebut muncul ketika orang Eropa menyebut pekerja asli yang dipekerjakan secara kasar di India dan Tiongkok.

Menurut Kamus Inggris Oxford, istilah tersebut berasal dari bahasa Hindi quli yang berarti “pelayan yang disewa”. Kemudian dipinjam oleh bangsa Portugis yang menggunakannya di India selatan (yang secara kebetulan, kuli dalam bahasa Tamil berarti “menyewa”) dan Tiongkok.

Seiring perkembangan dalam kehidupan sehari-hari, golongan “kuli” lebih tertuju pada pekerja bangunan. Yakni orang-orang yang tenaganya disewa untuk membangun sesuatu yang berkaitan dengan rumah atau gedung.

Dulu, ada juga golongan kuli yang aktivitasnya hanya di pasar. Biasa disebut sebagai kuli pasar. Pekerjaannya membantu angkut barang-barang konsumen di pasar, bongkar-muat muatan pasar yang hilir mudik masuk lapak pedagang.

Kemudian, kita tilik juga golongan rokok yang dikenal sejak lama di Indonesia. Ada rokok klembak menyan, rokok kretek—baik non filter maupun berfilter, ada jenis rokok putihan. Golongan rokok klembak menyan secara harga relatif murah. Rokok jenis ini merupakan produksi lokal dan beredar di pasar terbatas. Misalnya rokok klembak menyan produksi Purworejo, beredar di daerah Purworejo dan sekitarnya.

Baca Juga:  Ucapan Lebaran yang Khas Buat Para Perokok

Rokok jenis ini sejak dulu dikenal memiliki konsumen loyal, mulai dari petani, buruh harian, dan nelayan. Kalangan konsumen ini dikategorikan sebagai konsumen kelas bawah dengan penghasilan pas-pasan. Perlu diketahui, rokok klembak menyan ini sendiri di daerah hampir sebagian besar pelanggannya ya para buruh harian ataupula kuli.

Perilaku konsumsi kuli dalam hal merokok, turut memperjelas pula munculnya istilah rokok kuli. Misalnya, merokok sambil mengaduk semen, atau sambil bekerja di atas bangunan, mengisap rokok secara berestafet; putus-sambung-putus sambung. Selain itu, pada beberapa pola pemberian upah dan bonus dari penyewa kepada tenaga kerja. Jenis rokok yang biasa dikonsumsi pekerja kasar ini masuk kategori bonus yang diberikan kepada mereka, faktor ini pula yang kemudian adanya perbedaan antara rokok atasan dan bawahan.

Berikutnya, rokok pekerja kasar ini juga merujuk pada rokok-rokok golongan kretek non filter. Golongan non filter, merupakan rokok SKT. Sektor industrinya dikenal padat karya, hasil produksinya pun dikenal padat dan memiliki tarikan atau isapan yang berat.

Para pekerja kasar di Indonesia umumnya mengonsumsi rokok jenis SKT ini. Selain harganya yang relatif murah, terjangkau oleh pendapatan mereka yang tergolong jauh di bawah rata-rata pekerja formal. Rokok kretek non filter dikenal memiliki durasi bakar dan isapan yang cukup lama. Durasi ini bisa diketahui dengan memperbandingkan pada rokok kretek reguler berfilter dan rokok putihan.

Baca Juga:  Mbah Sri dan Rokok Lintingnya

Rokok non filter ini lebih disukai mereka para pekerja kasar yang secara habituasi berasal dari masyarakat yang akrab dengan rokok-rokok tradisonal. Kemudian, perlu juga diketahui pola relasi yang berlaku di dalam sistem kerja antara kuli dan penyewa tenaganya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pola relasi yang diterapkan sejak jaman kolonial.

Tak heran selain ada istilah rokok untuk pekerja kasar, ada rokok yang biasa disebut juga rokok mandor. Mandor adalah atasan dari pekerja kasar tersebut. Bertugas menjadi tenaga pengawas. Jika ditilik ke dunia transportasi umum, pola yang sama pun terjadi. Ada istilah rokok sopir dan rokok kondektur.

Istilah-istilah untuk rokok semacam tadi, menjadi populer di masyarakat lantaran pola relasi yang terjadi antar kelas sosial. Termasuk pula sistem kerja di masyarakat yang masih banyak mengadopsi pola-pola peninggalan kolonial bangsa penjajah. Sehingga, produk-produk konsumsi yang digunakan oleh kelas sosial tertentu mendapatkan predikatnya, berdasar jenis pekerjaannya.

Kini merek-merek rokok menjadi lebih plural, tidak seperti era dimana rokok lokal hanya bisa diakses di daerah setempat. Industri informasi berbasis internet telah memudahkan konsumen mengakses rokok-rokok yang mungkin di kota tertentu tidak ada beredar. Pilihan merek rokok para pekerja kasar itupun mengalami sedikit banyak perubahan. Tidak jarang juga dari mereka yang loyal pada merek rokok reguler seperti Djarum Super ataupun produk Gudang Garam.

Penulis di Komunitas Kretek