puntung rokok
Ragam

Puntung Rokok Memang Makhluk Yang Jahat

Kebakaran lagi, kebakaran lagi. Setiap kali ada kasus kebakaran di Indonesia, selalu ada satu makhluk yang terlibat. Makhluk ini seperti tidak bosan menyengsarakan banyak orang. Puluhan hingga ratusan juta kerugian materil hangus terbakar sia-sia oleh karena makhluk satu ini. Ya, makhluk yang dimaksud adalah puntung rokok.

Silakan tes. Kalian cari berita soal kebakaran di mesin pencarian Google. Niscaya, kalau pun tidak semua, pasti sebagian besar penyebab kebakaran yang muncul di pemberitaan adalah makhluk bernama puntung rokok. Bahkan media kenamaan seperti kompas.com sudah pernah merangkum sebagian dari sekian banyak kebakaran yang diakibatkan oleh puntung rokok.

Misal, kasus kebakaran gedung Kejaksaan Agung pada tahun 2020. Penyidik menetapkan 8 orang tersangka, 5 di antaranya adalah kuli bangunan yang didakwa merokok sebelum kebakaran. Ada jeda sekitar 2,5 jam dari waktu kuli mematikan rokoknya hingga peristiwa kebakaran itu terjadi. 2,5 jam itu sama dengan 150 menit. Bayangkan puntung sebesar apa yang mereka isap itu.

gedung kejaksaan agung
Gedung Kejaksaan Agung Terbakar Akibat Puntung Rokok (Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Itu makhluk terlalu jahat. Sudah dimatikan oleh kuli, mereka sengaja hidup lagi untuk membakar gedung sebesar itu. Tidak puas membakar gedung Kejaksaan Agung yang megah, eh masih membakar ruko, apartemen, bahkan pemukiman warga.

“Rumah di Kota Malang Terbakar Akibat Puntung Rokok, Kerugian Ditaksir Rp 100 Juta”

Begitu bunyi judul berita di media pekan lalu. Kebetulan beritanya dari kompas.com lagi. Lihat, berapa kerugian yang ditimbulkan? Rp 100 juta. SERATUS JUTA RUPIAH. Gila, kan?

Kalau dilihat dari judulnya, tidak ada kata “diduga” atau “diperkirakan”. Jadi, ya sudah jelas dan terang bahwa penyebabnya pasti si puntung rokok. Bahkan dipertegas di dalam badan berita, Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang, Muhammad Teguh Budi Wibowo mengatakan bahwa penyebab kebakaran berasal dari puntung rokok yang masih menyala dan ditinggalkan sembarangan.

Baca Juga:  10 Manfaat Rokok Bagi Kesehatan Manusia

“Kronologinya pemilik rumah, enggak tahu anaknya atau siapa, ngerokok di dalam kamar, kemudian diletakkan di kasur atau apa lupa tidak dimatikan, terus ditinggal kerja,” kata Pak Teguh.

Coba kita telaah. Maksud dari “diletakkan di kasur” itu bagaimana? Apakah si puntung lengkap dengan bara menyala itu diletakkan plek-ketiplek di kasur? Masak sih? Kan sudah jelas itu bara api menyala, apa mungkin ada manusia waras yang meletakkan bara api di atas kasur yang sebagian besar berbahan kain dan busa? Ditinggal kerja pula. Tidak mungkin, dong.

Atau kemungkinan kedua, puntung yang menyala itu diparkir di dalam asbak, kemudian asbaknya diletakkan di atas kasur? Ini lebih masuk akal. Jujur saja, perokok pasti pernah melakukan ini. Entah dalam keadaan darurat, atau memang dasarnya malas, jadi bawa asbak ke atas kasur, lalu merokok sambil duduk atau tiduran.

Kita asumsikan kemungkinan yang kedua ini benar. Mari kita susun kronologinya. Pak Teguh bilang si empunya rokok (enggak tahu anaknya atau siapa) merokok di dalam kamar, rokoknya diparkir di asbak, asbaknya diletakkan di atas kasur, lalu meninggalkannya dalam keadaan menyala (menurut Pak Teguh lupa dimatikan), kemudian ditinggal kerja. Lalu niat jahat itu muncul. Si puntung rokok dengan kejinya memanjat dan melompat keluar dari asbak menuju kasur yang berbahan kain dan busa itu, kemudian rebahan di atas kasur hingga menimbulkan lidah api yang membakar seisi rumah dan menimbulkan kerugian materil seratus juta rupiah.

Baca Juga:  Tempat Klasik Menyimpan Sebatang Rokok

Sebagai perbandingan, hal lain yang biasa menyebabkan kebakaran, seperti korsleting listrik dan ledakan tabung gas LPG, itu jelas diakibatkan oleh kelalaian penggunanya. Dalam kasus korsleting listrik, misalnya, ada yang mudik tanpa mematikan alat elektronik, lantas terjadilah korslet dan kebakaran. Kemudian dalam kasus ledakan tabung gas LPG, pasti diakibatkan oleh kebocoran atau kesalahan teknis dalam proses pemasangan selang, sehingga ketika kompor dinyalakan terjadilah ledakan yang mengakibatkan kebakaran. Intinya, ada kelalaian penggunanya di sana. Istilahnya, human error.

Nah, untuk kasus kebakaran yang diakibatkan puntung rokok tidak bisa disamakan dengan korsleting listrik dan ledakan tabung gas LPG, itu sudah jelas salah si puntung. Tidak ada human error di sana. Ya, balik lagi, pasti ada niat jahat dari puntungnya. Memang sengaja bikin kebakaran. Ingat, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Momen ketika si perokok pergi kerja itu jadi kesempatan buat si puntung melangsungkan aksi jahatnya.

Kejahatan puntung rokok ini sudah keterlaluan. Bayangkan, harus berapa banyak lagi kerugian yang ditimbulkan oleh makhluk bernama puntung rokok ini. Itulah sebabnya media-media gencar mengabarkan. Pokoknya dunia harus tau kejahatan puntung rokok.

Sekalian, pemerintah juga perlu waspada dan lebih kritis lagi, harus disusut keterlibatan makhluk bernama puntung rokok dalam kasus kebakaran hutan belantara di Sumatera dan Kalimantan. Tidak mungkin dilakukan oleh benda mati seperti perusahaan.

Penulis di Komunitas Kretek

Leave a Reply

Your email address will not be published.