Klopp seorang perokok
Ragam

Duel Dua Perokok Di Final UCL

Hingar bingar partai puncak UEFA Champions League mendunia. Meski hanya mempertemukan klub-klub sepakbola asal Eropa, tapi UCL digadang sebagai kompetisi sepakbola antar klub yang paling bergengsi di dunia. Pengakuan ini lahir dari banyak pelaku sepakbola itu sendiri, sekalipun yang berasal dari luar Eropa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah karena Eropa menjadi impian bagi banyak pesepakbola muda di seluruh penjuru bumi. Belum menjadi pesepakbola sempurna kalau belum berkarir di Eropa. Kira-kira begitu. Skuad kedua tim yang bertanding pun, Liverpool dan Real Madrid, dihuni oleh pemain lintas benua. Menarik.

Mo Salah jadi salah satu yang paling disorot. Usai lolos dari hadangan Villarreal di babak semifinal, Mo Salah berujar kalau ia berharap Real Madrid sukses menumbangkan Manchester City untuk kemudian bertemu lagi di partai final. Mo Salah ingin balas dendam setelah dikalahkan Real Madrid pada final tahun 2018. Keinginannya terwujud. Real Madrid memulangkan Manchester City ke Inggris.

Dari kubu Real Madrid, ada nama Karim Benzema. Nama yang sangat besar di dunia, khususnya persepakbolaan tahun ini. Ia digadang-gadang akan menjadi pemenang Ballon d’Or, sebuah penghargaan yang tertinggi bagi pesepakbola level individu. Pertemuannya dengan Mo Salah cukup dinantikan banyak orang.

Tapi, di samping kedua pemain itu, ada dua pelatih yang sarat pengalaman yang akan menakhodai kedua tim. Juergen Klopp yang sudah mengoleksi dua gelar bersama Liverpool musim ini, dan Carlo Ancelotti yang sudah membawa Real Madrid merebut trophy La Liga ke 35 mereka. Duel dua pelatih besar. Dua pelatih juara. Dua pelatih perokok.

Baca Juga:  Nikotin Dibenci dan Dipuja, Politik Dagang Farmasi Semakin Nyata

Iya, kalian tidak salah baca. Kedua pelatih adalah seorang perokok. Inilah fakta unik yang cukup menggelitik, mengingat mereka berdua akan bertarung di panggung olahraga. Sebagaimana yang kita sering dengar, olahragawan harus jauh dari rokok. Begitu kata para antirokok.

Juergen Klopp, seorang pria berkebangsaan Jerman, pernah kedapatan tengah asyik merokok bersama istrinya, Ulla Sandrock, saat sedang berlibur di kawasan Ibiza, Spanyol. Klopp dan istrinya menikmati liburan akhir musim di tahun 2018, tahun di mana Liverpool dikalahkan Real Madrid di final UCL yang diselenggarakan di Kiev, Ukraina.

Klopp dan istrinya tertangkap kamera sedang memegang dan mengisap rokok di tangannya masing-masing. Iya, artinya Klopp dan istri adalah perokok. Foto yang cukup mengejutkan, meski beberapa kali kedapatan merokok, tapi Klopp memang tidak pernah tampil sebagai perokok secara terang-terangan kepada publik.

Klopp merokok
Klopp pernah tertangkap kamera asyik merokok bersama keluarga

Lain Klopp, lain Ancelotti. Don Carlo, sapaan akrab Carlo Ancelotti, sudah dikenal perokok sejak dulu. Pemain-pemain AC Milan dan klub lain yang pernah diasuhnya, mungkin tahu betul kebiasaan Don Carlo. Konon ia telah menjadi perokok sejak berusia 25 tahun, saat masih aktif menjadi pemain sepakbola. Sempat tersiar kabar Don Carlo menerima teguran dari AC Milan soal kebiasaan merokoknya itu.

Baca Juga:  Rekomendasi Rokok Enak dan Murah untuk Tahun 2021

Terbaru, saat perayaan gelar juara La Liga, Ancelotti melakukan selebrasi dengan gaya mengisap cerutu bersama para anak asuhnya. Fotonya tersebut viral dan dibicarakan banyak orang.

Carlo Anvelotti Merokok
Ancelotti saat merayakan gelar La Liga bersama skuad Real Madrid

Klopp dan Ancelotti, dua perokok itu harus saling berhadapan. Pada pertemuan di Paris kemarin, Ancelotti keluar sebagai pemenang dan mempersembahkan gelar juara UCL ke 14 bagi Real Madrid.

Apa yang ditunjukkan oleh Klopp dan Ancelotti adalah profesionalitas. Mereka pasti tahu betul stigma yang melekat pada perokok, khususnya di lingkungan olahragawan, tapi mereka konsisten untuk berprestasi. Tentu mereka menerima banyak komentar soal aktivitas merokoknya. Tapi semua diredam dengan pembuktian.

Iya, prestasi mereka bukan dihasilkan oleh aktivitas merokok. Tapi, dari mereka kita belajar, jika dilakukan secara proporsional dan pola hidup yang seimbang, menjadi perokok bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan. Bahkan perokok pun bisa berprestasi. Jadi, jangan buru-buru melabel beban negara.

Penulis di Komunitas Kretek

Leave a Reply

Your email address will not be published.