Ragam

Batang Tembakau Jadi Bahan Pewarna Batik Juga Sumber Protein

Tidak hanya daunnya yang dijadikan bahan baku rokok. Batang tembakau juga telah dapat dimanfaatkan sebagai pewarna batik yang bersifat alami. Beberapa waktu lalu, mahasiswa Universitas Jember memusatkan perhatiannya kepada pengrajin batik, melalui salah satu program yang mereka jalankan.

Mungkin, selama ini kita hanya tahu tanaman tembakau sebatas menjadi polemik lantaran kandungan nikotin yang ada padanya. Terlebih, ketika tembakau dari sisi industri rokok, dipandang oleh kalangan pro kesehatan sebagai komoditas yang mengancam kesehatan.

Dari sisi inilah, tembakau kerap menimbulkan kontroversi. Membuka berbagai ruang perdebatan dan terus diatur melalui traktat pengendalian tembakau global, yang disebut FCTC.

Meski sejatinya, ditilik dari sejarah peradaban medis, tembakau juga punya andil penting bagi dunia kesehatan. Di abad kiwari, paradigma masyarakat modern telah berubah dalam memaknai kesehatan, dan terus berkembang. Banyak hal yang terus berubah ditantang oleh laju peradaban zaman dan pemikiran masyarakat global.

Keberadaan tanaman tembakau terus diupayakan untuk tidak hanya terserap ke industri rokok. Korporasi farmasi dan korporasi rokok asing, melalui berbagai programnya juga mengarah pada pemanfaatan tembakau untuk menggeser pasar rokok. Ini bukan lagi rahasia.

Tidak jarang juga, penelitian dan studi studi yang didanai korporasi asing untuk menjadikan tembakau sebagai bahan baku biodiesel maupun sumber protein yang berdayaguna bagi alternatif pangan. Seperti yang dijalankan proyeknya oleh Leaf Protein International (LPI).

Lembaga yang didirikan pada tahun 1979 ini adalah perusahaan patungan antara Federasi Biro Pertanian Carolina Utara dan Makanan Umum (sebelum dimasukkan ke dalam Philip Morris Industries).

Terlepas dari keterbatasan anggaran yang parah, LPI membangun dan mengoperasikan pabrik percontohan di wilayah tembakau Carolina Utara. Selama tahun 1981 dan 1982, LPI menunjukkan bahwa proses ekstraksi untuk mendapatkan kristal F-1-p dan bahan baku lainnya dari tembakau layak dimanfaatkan secara komersial.

Baca Juga:  Film Banda dan Kisah dibalik Kejayaan Rempah

Sebagai tambahan wawasan, menurut Wildman, seorang ahli kimia protein terkemuka, “ kandungan pada tembakau memiliki sifat yang membuatnya sangat diinginkan sebagai sumber protein. Protein daun yang dapat dimakan”. Maka, tidak perlu heran, jika di Temanggung ada Nasi Goreng yang menggunakan daun tembakau sebagai sayurnya.

Tembakau adalah satu-satunya tanaman yang menghasilkan Fraksi-1-protein (F-1-p protein tunggal, besar, homogen yang membentuk setengah dari protein larut tanaman) dapat diperoleh dalam bentuk kristal murni.

Unsur ini tidak memiliki rasa atau bau, tidak berwarna dan non-alergi dan menunjukkan komposisi asam amino yang optimal yang menurunkan kolesterol. Karakteristik fungsionalnya (misalnya kelarutan, stabilitas, pembusaan, pembentuk gel dan kemampuan pengemulsi) lebih unggul daripada putih telur, kasein dan protein kedelai.

Dalam suatu percobaan pemberian pakan, tembakau F-1-p secara signifikan melebihi kasein, kedelai, jagung, dan protein sereal lainnya dalam konteks efisiensi protein, yaitu, peningkatan berat badan tikus (sebagai objek penelitian) yang sedang tumbuh per gram protein yang dicerna.

Secara keseluruhan, tembakau F-1-p mungkin merupakan protein makanan bergizi dan fungsional terbaik. Ini juga telah direkomendasikan untuk berbagai kegunaan medis (misalnya, untuk pasien dialisis ginjal dan sebagai susu buatan untuk bayi).

Kemudian, F-2-protein (campuran protein larut dengan berat molekul rendah) dari tembakau juga memiliki karakteristik yang menguntungkan dan dapat ditambahkan ke sup dan minuman untuk meningkatkan kualitas nutrisi.

Protein tidak larut, dapat digunakan untuk memperkaya makanan padat untuk konsumsi manusia atau digunakan sebagai pakan unggas dan non-ruminansia (golongan pemamah).

Dari paparan di atas, secara saintifik, tembakau juga dapat diolah untuk alternatif pemenuhan protein. Namun, di Indonesia, penelitian yang serius untuk memproduksi sisi positif dari tembakau, ini sangatlah jarang.

Baca Juga:  Bicara Untung Rugi dalam Sebatang Rokok

Upaya pemanfaatan itu tentu sangatlah diperlukan, dibandingkan harus terus berpolemik seputar isu kesehatan, terjebak dalam labirin dikotomi; hitam-putih—yang bagi saya semacam ‘buntut cicak’ yang sengaja diumpankan oleh para pengusung agenda pengendalian global.

Kalaupun ada, seperti halnya yang dilakukan mahasiswa Unej, yang lalu sebagai pestisida nabati. Belakangan ini melalui salah satu Unit Kegiatan Mahasiswanya melakukan upaya produktif bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Raung Lestari, memberi pelatihan pembuatan pewarna batik dengan pewarna yang berasal dari olahan batang tembakau.

Upaya ini tentu saja patut diparesiasi sebagai langkah konkret dalam pemberdayaan masyarakat tani. Namun, di sisi lain, kita juga tahu bahwa potensi tembakau di Jember sangatlah besar untuk memenuhi permintaan industri rokok dan cerutu.

Ini tentu satu langkah inovatif yang perlu didukung, mengingat lagi tanaman tembakau pasca panen, banyak batangnya yang hanya dimanfaatkan sebagai briket alias bahan bakar memasak secara tradisional. Namun, alangkah lebih optimal lagi jika program semacam ini juga menyoroti pada kebutuhan lain di luar pemanfaatannya untuk memenuhi pasar sandang alias gombalan.

Katakanlah, mulai ada inisiasi yang didorong ke arah penelitian dan pemanfaatan kandungan protein pada tembakau. Seperti halnya yang sempat tertunda dilakukan oleh lembaga LPI di Amerika, saya yakin pemerintah Indonesia mampu menjangkau berbagai upaya alternatif yang lebih briliyan.

Artinya, sekali lagi ini bertumpu pada keberpihakan pemerintah, yang mestinya tak hanya sibuk mengisap dana dari cukai rokok saja. Dimana setiap tahun sibuk berpolemik soal angka tarif cukai untuk mematok industri rokok saja. Ada jenis tembakau yang memang cocok untuk terserap ke industri rokok, dan ada juga yang bisa diolah ke sektor produktif lainnya.

Penulis di Komunitas Kretek

Leave a Reply

Your email address will not be published.