Press ESC to close

76 Kurma Royal, Bukti Djarum Sang Raja Inovasi SKT

Djarum 76 Kurma Royal adalah kecerdasan PT. Djarum dalam membuat inovasi SKT. 

Ada teman yang berkata; kalau mau mencoba menikmati rokok supaya terasa enak, terutama rokok kretek, sebaiknya dilakukan pagi hari setelah bangun tidur. Saat mulut baru terkena air putih dan kita sudah menyiapkan minuman panas sebagai teman menghisap rokok.

Rabu, 22 Februari kemarin saya dikejutkan pula oleh seorang teman yang datang ke kantor membawa sebungkus Djarum 76 Kurma Royal. Lagi-lagi inovasi mengejutkan PT. Djarum yang memproduksi SKT dengan varian rasa yang unik. Ini SKT lho, ya, jenis rokok yang terbilang sulit kalau mau berinovasi dan bisa sukses.

Kalau kalian bilang banyak yang sukses mungkin itu di kelas SKM Mild, yang terbilang lebih mudah penerapannya, segmen pasarnya juga jelas lebih mudah dibandingkan SKT, banyak anak muda yang akan mencoba varian rasa dengan rokok berfilter daripada rokok kretek non filter.

Lagi-lagi, Djarum bisa dikatakan sukses tiap kali melakukan inovasi di segmen SKT, kalau Black Cappuccino atau L.A Purple Boost ga usah berdebat lagi, udah kelewatan suksesnya. Djarum 76 Madu Hitam bolehlah kita bilang sedikit menurun pamornya di tahun kedua dibanding kemunculan awalnya beberapa tahun lalu. Rasa manis dan wangi yang saya sukai mulai menurun, tidak sepekat awal-awal saya menghisapnya.

djarum 76 kurma royal

Tapi tidak mungkin mereka mempertahankan itu demi alasan satu orang saja, mungkin keinginan pasar membuat rasa dan aroma 76 Madu Hitam tidak setajam dan sepekat awal kemunculannya, mungkin saja citarasanya yang sekarang adalah masukan dari ribuan ahli hisap yang mengidolakan merek itu.

Berbeda dengan 76 Madu Hitam, 76 Kurma Royal hadir dengan cara yang lebih “hati-hati”. Tidak ada aroma mencolok seperti 76 Madu Hitam. Konon produk ini hanya akan didistribusikan sampai bulan Juni 2023 atau sehabis Lebaran. Konon lagi, produk ini dibuat semata-mata hanya untuk menyambut Ramadhan.

Namanya saja sudah Kurma Royal, mungkin R&D Djarum sudah memperhitungkan apa pasangan pas menikmati rokok ini, bisa jadi saat berbuka puasa dengan segelas teh madu tanpa gula, 1 cemilan asin dan beberapa buah Kurma. Tapi kalau untuk sekarang, rasa rokok ini memang tidak cocok kalau bercampur dengan kopi susu atau minuman yang terlalu manis, aroma tipis buah kurma yang merasuk di indera penciuman mendadak berkurang.

Seperti yang saya katakan di awal, rokok ini saya coba hisap pagi hari, setelah bangun tidur dengan segelas kopi hitam pekat yang tidak terlalu banyak gula. Saya menemukan sensasi aroma kue bolu Sarang Semut dan Brownies, sekilas setelah saya mencium rokok ini dari ujung bakar hingga ujung hisap, lalu menempelkan lubang ujang bakarnya ke hidung dan menghirup aromanya. Aneh ya?, namanya penciuman orang pasti berbeda, tapi bisa kalian coba, bisa saja saya salah.

Baca Juga:  Mengenal ‘Tari Kretek’ yang Genit

Aroma Kurma yang yang tidak terlalu tajam beberapa kali muncul lebih dominan dibandingkan Sarang Semut dan Brownies tadi. Aroma bakaran awalnya memang sedikit memberi sensasi aroma adonan kue coklat yang terbakar, mungkin kalau orang di sekitar kita menciumnya mereka akan berpikir ada yang sedang memanggang kue di oven.

Hisapan demi hisapan mengirimkan kepulan asap yang biasa kita temukan di merek Djarum 76; tebal, pekat dan mantap. Tapi karena citarasa Kurma yang tidak terlalu tebal, untuk merasakan aroma seperti mereknya, kita perlu menghembuskan asapnya melalui hidung 2-3 kali di awal batang terbakar hingga 50%.

Karena bagi saya, untuk menilai karakter dan citarasa rokok ada saat kita membakarnya pertama kali hingga batang rokok terbakar separuh atau maksimal 60%. Setelah melewati batas itu, maka akan sangat sulit membedakan tembakau yang terbakar dengan aroma lain yang tercampur di rokok itu.

Memang ada Juara Teh Manis yang tetap memberikan sensasi teh hingga rokok terbakar 80%, tapi efeknya bagi perokok adalah rasa “eneg” karena memaksakan rasa teh untuk melawan rasa pahit akibat sisa nikotin yang terhisap sudah semakin menumpuk di ujung hisap. Bagi sebagian orang ini justru merusak kenikmatan, karena aroma dan citarasa tambahan seperti Madu Hitam, Kurma Royal atau Teh Manis baiknya ada di 50-60% awal saja, sisanya biarkan kenikmatan tembakau berkualitas yang bekerja.

batang rokok 76 kurma royal

Cukup, ya, nanti dikira saya sok tahu, padahal ini sebatas pendapat konsumen saja niatnya. Kembali ke 76 Kurma Royal, saya menghabiskan rokok ini hanya sampai di 70% batang terbakar, saya tidak terlalu menikmati menghisap ini di pagi hari. Malam sebelumnya pun begitu, rokok ini saya matikan sebelum terbakar sampai batas logo 76 antara ujung hisap dan bakar. Anehnya, ada sedikit sensasi menghisap Mercu dan Tenor di sisa-sisa bakaran jelang ujung hisap.

Supaya mudah, untuk rokok kretek non filter, saya menilai kenikmatan menghisap Kurma Royal ini sejajar dengan Rider Kretek dan Mercu Kretek. Ini subjektif, bisa saja kalian menganggap kenikmatan Kurma Royal sejajar dengan Dji Sam Soe Kuning. lalu untuk citarasa, Kurma Royal rasanya belum bisa menandingi kesuksesan 76 Madu Hitam, itu kesimpulan saya setelah menghabiskan 7 batang Kurma Royal selama 2 hari.

Kurma jelas tidak sefamiliar Madu, bukan yang setiap hari kita nikmati, aroma bakarannya pun tidak akan sefenomenal Madu, apalagi untuk kelas SKT, mungkin ini juga yang membuat Djarum membatasi penjualannya hanya beberapa bulan saja. Lalu rokok murah beraroma semakin banyak muncul di pasaran, legal atau ilegal, citarasanya banyak yang amburadul, itu bisa berakibat 76 Kurma Royal perlu bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan ahli hisap, dan mungkin perlu waktu lama.

Baca Juga:  Memanusiakan dan Bersikap Adil pada Perokok

Tapi biarlah itu jadi PR bagi Djarum, kita toh hanya penikmat rokok kretek yang seringnya lebih banyak mengkritik. Yang jelas, inovasi ini termasuk berani dan boleh dibilang hebat, di tengah kenaikan harga rokok Djarum masih terus berusaha memuaskan konsumennya dengan banyak pilihan produk. Saya menebus rokok ini di warung kelontong seharga Rp. 14,500, sementara nominal yang tertulis di pita cukainya, Rp. 15,000. Sepertinya ini berlaku juga di semua daerah, kecuali ada penjual yang nakal dan menumpuk produk ini untuk dijual lebih mahal.

Kemasan rokok kretek SKT ini dibuat identik sekali dengan desain-desain kotak kurma atau kue-kue lebaran yang ada di dalam keranjang parsel. Warnanya dominan coklat, atau jenis warna coklat dengan nama “Light Mahogany”. Lingkaran khas 76-nya berwarna kuning cerah dengan tambahan biji-bijian berwarna ungu di sisi kanan logonya yang digambarkan sebagai kurma beserta daunnya yang berwarna hijau. Di sisi kanan kemasan ada logo bundar yang di dalamnya ada pohon kurma dan keterangan di sampingnya; “Kurma Alami Terbaik”.

bungkus kurma royal

Tidak cukup dengan desain dan tagline di sisi kanan, bagian belakangnya pun masih dilengkapi tulisan dengan kalimat “Kurma alami terbaik memberikan kenikmatan citarasa nusantara”. Seperti menegaskan sekali lagi bahwa bahan yang diolah ke dalam sebatang rokoknya bukan sekedar perasa murahan, dan memang terbukti dengan aroma hisapan serta bakaran yang dihasilkan 76 Kurma Royal.

Rokok ini sebenarnya pantas menjadi buruan para ahli hisap karena waktu peredarannya yang terbatas, citarasanya yang berbeda dan punya kualitas, serta harga yang murah untuk kelas SKT dari pabrikan besar.

Saran saya, coba menduetkan ini dengan rokok putih seperti Forte non menthol atau Camel Kuning, bisa juga dengan MLD Putih atau Aroma Mile, itu kalau kalian tipe perokok 2 macam. Jangan menduetkan ini dengan SKM Full Flavor semodel Djarum Super atau GG Internasional, nanti citarasa asli dari 76 Kurma Royal ini bisa terganggu. Baiknya lagi, bisa mencoba menikmati ini dengan teh madu tanpa gula atau wedang jahe yang tidak terlalu manis.

Rokok ini cocok untuk kalian kantongi setiap hari? Bisa saja, ini kan soal kecocokan indra perasa, tapi buat saya ini hanya akan saya nikmati paling tidak seminggu 2 kali saja, dan jangan terlalu lama menyimpannya setelah plastik kemasan dibuka. Selamat menikmati rokok yang kelak akan menjadi produk “kenangan” ini.

Komunitas Kretek
Latest posts by Komunitas Kretek (see all)

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *