Press ESC to close

Rokok 555, Teman Karib Diplomasi Bung Karno

Rokok Putih merek 555 State Express ini menjadi sangat populer di Indonesia di tahun 1970-1980 an setelah banyak yang mengetahui bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menghisapnya di sebuah acara kenegaraan. 

Nama lengkap merek rokok ini adalah State Express 555, selain dikenal sebagai 555 atau Triple Five di beberapa negara khususnya Asia, adalah sebuah merek rokok Inggris yang awalnya diproduksi oleh Ardath Tobacco Company. Hak distribusi untuk merek tersebut, kecuali di Inggris, dipegang oleh British American Tobacco (BAT) pada 1925. Merek tersebut dijual ke seluruh belahan dunia

Dalam catatan Wikipedia, Saat ini, merek tersebut masih sangat populer di Asia, khususnya di wilayah Tiongkok Raya, Vietnam, dan Kamboja. Rokok ini menjadi produk kesukaan Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Namun, produk State Express 555 sudah tidak diproduksi untuk Indonesia sekitar tahun 2000an.

Dari beberapa tulisan, kisah pengawal pribadi Soekarno, Mangil Martowidjojo yang paling sering muncul dalam pencarian Google, Mangil mengatakan rokok favorit Bung Karno adalah merek State Ekspres 555 yang biasa disebut triple five atau five five five oleh Bung Besar.

Salah satu kebiasaan Bung Karno yang mudah ditandai adalah sesaat sehabis makan, setelah memakan buah sebagai pencuci mulut, maka selanjutnya beliau akan mengambil sebatang 555 dari kaleng dan mulai merokok. Uniknya, Soekarno jarang merokok sampai dekat ke puntung. Biasa baru di tengah sudah dimatikan.

Masih kisah dari pengawal Soekarno tadi, ada cerita menarik dalam satu kunjungan Bung Karno keluar negeri. Suatu saat sehabis makan, Bung Karno ingin merokok. Tapi rokok 555 di kaleng itu sudah habis. Dia pun heran.

“Bapak ini merokok cuma satu batang sehabis makan. Kok satu kaleng isinya 50 bisa habis?” sindir Soekarno.

Para pengawal Bung Karno salah tingkah dan tersenyum malu. Rupanya ketahuan, rokok yang dipegang pengawal itu juga diambil oleh para pengawal. Jelas cepat habis. Walau begitu Presiden Soekarno tak marah. Dia maklum saja. Selepas kejadian itu Mangil Martowidjojo yang diserahi tugas memegang kaleng rokok presiden. Alasannya satu: Mangil tak merokok, Jadi rokoknya awet.

Baca Juga:  Ironi Kecil tentang Kopi, Rokok, dan Asal Usul

Pada masa itu, merek rokok ini memang menyediakan kemasan kaleng berisi 50 batang rokok (gambar 1), bahkan beberapa iklan yang muncul di media cetak seringnya memperlihatkan rokok 555 State Express dalam kemasan kaleng, ada yang persegi empat dan bundar seperti kemasan Gudang Garam Internasional.

Ilustrasi-merek-rokok-yang-digemari-Bung-Karno-Ist-Pe9d574db22dbb568.md

Selain kisah Bung Karno, pada masa kejayaan pabrikan rokok mensponsori kegiatan olahraga atau tim olahraga, merek 555 ini juga pernah menjadi sponsor bagi tim Subaru World Rally di tahun 1985 hingga 1987, lalu acara olahraga yang diberi nama State Express Challenge Cup https://en.m.wikipedia.org/wiki/1983%E2%80%9384_Challenge_Cup, sponsor di tim Formula 1 di tahun 1999-2000 https://en.m.wikipedia.org/wiki/British_American_Racing,  dan pada tahun 1980 menjadi sponsor Summer Olympic https://en.m.wikipedia.org/wiki/1980_Summer_Olympics

Rokok yang dulu diproduksi Ardath Tobacco Company ini sudah sulit ditemui di beberapa negara, di Indonesia pun hanya ada beberapa penjual yang memiliki stok terbatas di marketplace. Dari beberapa toko online yang saya coba hubungi, rata-rata mereka berkata hanya stock 1-2 Slop setiap 2 bulan sekali karena tidak banyak yang begitu suka merek rokok ini kalau dibandingkan Manchester atau Mild Seven.

Rasa penasaran dengan kisah Bung Karno membuat saya sedikit merogoh kocek untuk membeli varian Original dari merek 555 ini yang dijual Rp 57,000 per bungkus di marketplace dan belum termasuk ongkos kirim. Rata-rata merek ini dijual 53 ribu hingga 65 ribu per bungkus tergantung variannya. 

Awalnya saya ingin membeli varian Original yang berwarna kuning-hitam dan varian Gold yang berwarna biru tua-hitam, sayangnya tidak ada yang menjual varian Gold per bungkus, harus 1 slop di kisaran 625-750 ribu. Itu pun masih dibedakan dengan produksi dari negara mana, ada yang versi Taiwan, China dan London.

Akhirnya saya memutuskan hanya membeli sebungkus 555 varian Original versi Taiwan. Sayang, sepertinya ini produksi tahun 2022 kalau sekilas saya lihat di kode produksinya, entah di pertengahan atau akhir tahun, tentu rasanya tidak “segar” lagi, sudah apek klo kata para ahli hisap. Saya pun tidak bisa menyebut ini rokok yang tidak enak karena alasan freshnes. 

Baca Juga:  Mengapa Tembakau Gayo Lebih Mahal di Pasaran?

Lalu bagaimana rasa rokok ini? dari sekilas yang saya tangkap setelah menghabiskan 2 batang, rasa kering bercampur apek sudah muncul di awal, tapi tentu ini alasan produk yang lama saja, bukan kualitas tembakaunya. Indera perasa saya menangkap aroma serta hisapan khas rokok putih yang tidak lazim, atau bukan yang umum kita temui pada produk-produk brand besar yang beredar di Indonesia seperti Marlboro atau Lucky Strike. Mungkin karena citarasa rokok ini disesuaikan dengan negara tempat rokok ini dijual.

Rasa “klasik” rokok putih seperti yang dimiliki Camel Yellow atau Manchester Gold terasa kuat di merek ini pada hisapan-hisapan awalnya, mungkin karena jenis tembakau yang digunakan berbeda seperti yang ada di dalam Marlboro atau Lucky Strike. Setelah batang terbakar setengah, ada sensasi aroma Commodore atau Country yang kemudian muncul sebentar, terasa saat menghembuskan asap melalui hidung.

Saya tidak menghabiskan sebatang rokok ini seperti yang biasa saya lakukan ketika mencicipi merek rokok untuk pertama kalinya, rasa pahit semakin kuat saat batang terbakar 60-70 % dan sensai kering-apek semakin kuat, sekali lagi ini karena alasan produk yang sudah lama. 

Sayang sekali, rokok favorit Bung Karno ini tidak berhasil saya nikmati secara mendalam, mungkin di lain waktu saya akan mencoba mereview ulang kedua varian merek 555 State Express ini, syukur kalau bisa mencoba versi Eropa dan Asia. 

Saya tidak akan menyarankan anda untuk membeli ini tanpa menanyakan tahun produksinya terlebih dulu, sebagai ahli hisap yang baik, tentu apa yang saya alami dengan membeli ini tanpa menanyakan secara detail kepada penjual yang berujung dengan berkurangnya kenikmatan merokok terjadi kepada anda. Hanya karena ini rokok favorit Bung Karno, tidak berarti merek ini disukai saat ini.

Komunitas Kretek
Latest posts by Komunitas Kretek (see all)

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *