Search
tar dan nikotin

Melihat Bagaimana Perokok Memahami Tar

Bagi perokok, khususnya saya sendiri, satu-satunya yang terasa penting hanya soal rasa saja. Mungkin karena di sini saya beruntung bisa membeli rokok merek apa saja dengan harga berapa saja. Makanya, saya nggak memusingkan “aspek-aspek kecil” yang tertera di bungkus rokok. Misalnya, soal memahami tar dan nikotin.

Selain rasa, yang membuat saya merasa punya kepentingan dengan rokok hanyalah mood merokok. Saat ini, saya paling sering menggunakan pod dan liquid. Rokok bungkusan tetap ada dan tergantung mood sebagai pendamping pod. Dua minggu lalu, saya masih asyik menikmati Esse. Sekarang, saya menyimpan L.A Ice Purple Boost. Memahami tar dan segala jenis zat kimia yang ada di dalam rokok? Ah, menghabiskan waktu saja.

Aktivitas merokok adalah hak manusia, asal tidak mengganggu kepentingan orang lain. Misalnya berkendara sambil merokok, lalu membuang abu lewat secara serampangan, hingga membahayakan bahkan melukai pengendara lain. Nah, itu namanya bukan perokok, tapi bajingan yang kebetulan mendapatkan berkah berupa otak meski tidak dipakai.

Memahami tar dan nikotin

Namun, meski tidak terlalu memusingkan zat dan kandungan di dalam rokok, bukan berarti saya tidak tahu soal itu. Dulu, di periode awal mengenal dan mengonsumsi rokok, semua tulisan yang tertera di bungkus pasti saya baca. Apalagi ketika berak, di mana rokok adalah salah satu teman terbaik selain hape.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan ketika berak adalah membaca sesuatu. Kalau nggak bawa buku atau koran, biasanya saya membaca tulisan di kotak sampo atau sabun. Nah, kadang, kalau nggak ada buku, koran, kotak sampo, saya akan membaca tulisan di bungkus rokok. Yah, namanya saja usaha untuk “membunuh waktu”. Nah, di sana, saya menemukan keterangan kandungan tar dan nikotin.

Setelah kuliah, rasa penasaran saya naik lebih tinggi lagi. Pada saat itulah, saya baru tertarik memahami tar dan nikotin. Ingat, bagi perokok kasual seperti saya, segala kandungan itu nggak terlalu penting. Pokoknya enak dan cocok dengan mood, rokok apa saja pasti saya bakar.

Baca Juga:  Rekomendasi Rokok Cerutu Khas Indonesia

Nah, untuk memuaskan rasa penasaran memahami tar, satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah browsing via Google. Saat itu saya belum kenal dengan teman-teman dan senior di Komunitas Kretek. Jadi, ya nggak ada yang bisa saya ajak diskusi soal usaha memahami tar dan nikotin. Usaha awal, sekali lagi, dari membaca.

Perbedaan tar dan nikotin

Salah satu kalimat yang terdengar menggelitik di telinga saya berbunyi seperti ini: “Rokok itu nggak beda sama pabrik bahan kimia. Sebatang rokok itu mengandung banyak bahan kimia yang nggak akan kamu temukan di pelajaran Kimia kelas SMA.” 

Kalimat ini memang terdengar menakutkan, tapi tidak untuk saya. Kadang, saya geli sendiri dengan cara orang berpikir. Banyak orang senang tenggelam dalam rasa takut akan sesuatu, tapi permisif dengan hal lain, yang sebetulnya sama berbahaya. 

Misalnya, ada orang yang senang sekali menghakimi perokok. Bahwa rokok itu berbahaya dan sampah lainnya menyembur dari dubur mereka. Namun, di sisi lain, mereka mengonsumsi gula seperti babi makan kotorannya sendiri. Apa, sih, maunya? Dasar munafik terkutuk.

Oleh sebab itu, kalau ada perokok yang mencoba memahami tar, nikotin, dan kandungan lainnya, mereka akan menemukan artikel-artikel yang fokusnya sangat sempit. Biasanya, mereka hanya akan fokus kepada bahaya tar dan nikotin. Sudah, itu saja. Beda kalau kamu mengetik “mengenal gula” di Google. Kamu akan langsung menemukan artikel “Mengenal Jenis-jenis Gula dan Manfaatnya” di paling atas.

Makanya, bagi perokok, mencari perbedaan dan memahami tar serta nikotin saja sudah dijejali oleh artikel-artikel seram. Ini kami mau belajar sesuatu, lho. Kok langsung dihadapkan sama bahayanya saja. Oleh sebab itu, ya maklum kalau perokok nggak mau ambil pusing soal kandungan dari sebuah benda relaksasi dan tidak menghakimi seperti manusia-manusia munafik.

Baca Juga:  Teori Kesehatan tentang Rokok itu Lebay

Suara sumbang ketika menggunakan pod

Saya menggunakan pod bukan karena ingin berhenti merokok. Pod itu soal kesenangan saya akan rasa buah-buahan dan menthol dari sebuah liquid. Kan namanya selera, ya suka-suka saya mau mengonsumsi apa selama tidak mengganggu atau merugikan orang lain.

Namun, ketika ada yang melihat saya pakai pod, mereka akan nyeletuk: “Nah, gitu, pakai pod. Jadi nggak kena bahaya tar sama nikotin rokok.” Sebuah kalimat bodoh.

Saya sadar bahwa pod itu nggak lantas “bersih” dari bahaya seperti merokok. Lagi-lagi ini soal selera dan kesenangan. Intinya, yang ingin saya bilang adalah, kita mau melakukan apa saja, bahkan kegiatan yang tidak merugikan orang lain, tetap saja mendapat cibiran. Kalau sudah begitu, ngapain saya mempelajari kandungan-kandungan di dalam pod seperti saya berusaha memahami tar.

Akhir kata, bagi perokok, khususnya saya, memahami tar itu buang waktu saja. Nggak ada manfaat buat saya setelah tahu apa itu tar dan nikotin. Tidak mengurangi atau menambah kenikmatan menikmati sebatang kretek. 

Jadi, ketimbang repot-repot memahami tar serta memikirkan cibiran orang, mending saya login Mobile Legends lalu main sampai rasa suntuk hilang. Atau malah makin emosi karena ketemu teman satu tim yang menjadi bagian dari dark system brengsek itu.