Industri SKT Tidak Sekadar Tembakau, tapi Mata Rantai Ekonomi

industri rokok SKT

Berbicara mengenai Industri Hasil Tembakau sektor Sigaret Kretek Tangan (SKT) tidak lepas dari peran perempuan hebat di baliknya. Mayoritas buruh pabrik sektor SKT itu merupakan perempuan. Persentasenya mencapai 97% buruh perempuan yang bekerja dalam industri ini. Dengan banyaknya perempuan yang bekerja di industri rokok, tak sedikit yang menjadi tulang punggung keluarganya. 

Banyak perempuan yang sudah bekerja lebih dari 20 dalam industri ini dan hidup berkecukupan dengan itu. Mereka dapat menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi, membeli kendaraan dan mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Tidak sedikit pula, pabrik rokok yang menerima penyandang disabilitas untuk bekerja sebagai buruh. Tidak banyak industri yang mempunyai kebijakan inklusif seperti industri rokok SKT. 

RPP Kesehatan pasal tembakau mengancam buruh pabrik rokok

Pemerintah melalui kebijakannya sangat mempengaruhi rantai ekonomi di sektor SKT. Walau dalam pasal yang tercantum dalam RPP Kesehatan itu tidak ada yang spesifik menyasar pada buruh SKT, namun efek multipliernya pasti menyasar kepada buruh dan petani tembakau. 

Belum lagi, kenaikan cukai rokok setiap tahunnya sangat membebani pabrik rokok. Bagi pabrik rokok, itu bukan soal, karena mereka mempunya sumber daya ekonomi yang sangat besar. Namun bagaimana nasib para buruh dan petani tembakau? Jika kenaikan cukai rokok terus berlanjut, serapan tembakau dari petani pasti akan menurun. Kemudian pabrik rokok akan menurunkan volume produksi rokoknya. Jika volume turun, pabrik akan mengurangi pegawainya. 

Bagaimana kemudian perempuan-perempuan yang bekerja sebagai buruh ini dapat menjadi tulang punggung keluarganya lagi? Okelah jika pemerintah lantas menyediakan lapangan kerja bagi buruh yang terkena PHK. namun faktanya pemerintah tidak berbuat apa-apa, apalagi menyediakan lapangan pekerjaan. 

Baca Juga:  Keguyuban Dalam Tradisi Tingwe dan Siasat Personal

Mengingat negara mendapatkan pemasukan yang besar dari Industri ini, seharusnya industri ini menjadi prioritas daripada industri lain. Regulasi yang dikeluarkan seharusnya memihak bukan malah mematikan. Jika memang berniat untuk mematikan industri ini, sekalian aja ilegalkan rokok. Selesai urusan. 

Tembakau dan cengkeh komoditas strategis nasional

Tembakau dan cengkeh merupakan komoditas strategis nasional yang seharusnya menjadi perhatian lebih bagi pemerintah. Hal ini tertuang dalam amanat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014. Dengan banyaknya regulasi yang tidak memihak ekosistem industri hasil tembakau ini membuat semua stakeholder dalam industri ini terkena dampaknya. 

Hampir sama dengan buruh pabrik rokok, petani tembakau dan cengkeh juga menggantungkan hidupnya dalam industri hasil tembakau ini. Pemerintah terus berupaya untuk membujuk petani tembakau untuk beralih ke komoditas lain. Yang pemerintah tidak ketahui adalah di temanggung tepatnya di lereng Gunung Sumbing, hanya komoditas tembakau yang bisa hidup. 

Selain itu, jika petani tembakau beralih ke komoditas lain, serapannya tidak akan sebagus dan sebaik tembakau. Petani akan sangat sulit untuk menjual hasil panennya. Tahun 2023 merupakan musim terbaik selama kurun waktu 10 tahun untuk tembakau. Namun sayangnya, karena regulasi maka kantong para petani tembakau tidak sebaik dahulu. 

Baca Juga:  Tempat Klasik Menyimpan Sebatang Rokok

Panen tembakau tahun ini sangat baik, harganya pun melejit. Sayangnya banyak banyak tembakau dari petani yang tidak terserap pabrik. Pabrik rokok banyak yang sudah menurunkan produksi rokoknya. Untuk tembakau yang tidak terbeli, mau tidak mau petani akan menjualnya secara murah kepada pabrik rokok yang ingin membelinya. Atau menjual tembakaunya secara mandiri. 

Mata rantai ekonomi terputus, negara hancur

Jika pemerintah terus menekan melalui regulasi yang tidak memihak industri hasil tembakau, tidak akan lama industri ini akan bertahan. Mata rantai ekonomi pasti akan terputus. Banyak buruh yang terkena PHK dan banyak petani yang akan kehilangan sumber pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Seharusnya pemerintah tidak melihat industri hasil tembakau ini, khususnya SKT, melalui kacamata kuda saja. Artinya banyak aspek yang harus dilihat, jangan hanya aspek kesehatan saja. Coba sesekali lihat ekosistem ini dari aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan banyak aspek yang dilihat, saya kira negara dapat menentukan regulasi dengan lebih fair. 

Bagas Nurkusuma Aji