
Sepotong Hikayat Djarum Coklat, Aroma Pekat yang Menenun Ribuan Barisan Code
Djarum Coklat bagi saya adalah bentuk perlawanan dari teknologi yang serba cepat, sekaligus teman bagi saya mengeja ribuan code di layar.

Djarum Coklat bagi saya adalah bentuk perlawanan dari teknologi yang serba cepat, sekaligus teman bagi saya mengeja ribuan code di layar.

Saya ingat betul, satu tahun yang lalu ketika magang di Jogja. Uang menipis. Rokok habis. Mau tidak mau, saya harus membeli rokok yang harganya di bawah Rp10 ribu agar bisa survive. Saya mencoba berbagai merk: Dio, Tenor, Artha, dan rokok murah lainnya.
Lalu, bertemulah saya dengan rokok Lodjie Ijo. Rasanya lumayan. Tapi agak serik menurut saya. After taste-nya juga meninggalkan bekas wangi di lidah. Masih kurang mantap, meski harganya juga murah.

76 Apel selalu jadi primadona di segala tongkrongan. Entah di cafe atau warung pinggir jalan, rokok ini selalu absen di atas meja tongkrongan. Ini jadi

Naiknya cukai rokok sangat berdampak besar bagi masyarakat, dari petani hingga perokok. Rokok sehari-hari yang harganya sebelumnya terjangkau menjadi sulit untuk dibeli, orang-orang banyak beralih

Akhir-akhir ini Djarum banyak mengeluarkan varian rokok kretek dengan berbagai rasa. Mulai dari 76 mangga, nanas, madu hitam, apel, hingga rasa-rasa lain yang cukup unik

Ironisnya hidup di Indonesia. Penghasilan Rp20 ribu per hari sudah masuk dalam kategori tidak miskin. *** Kita tidak bisa memilih terlahir dari rahim siapa. Kalau

Sebagai perokok saya sangat resah dengan cara pandang masyarakat dan pemerintah yang kelewat benci terhadap perokok. Rokok kerap kali dianggap gerbang pembuka kemerosotan moral, menuju

Merokok di Malioboro, Jogja, terancam denda hingga Rp7,5 juta. Padahal akar masalahnya bukan pada perokoknya. *** Apapun kebijakan yang pemerintah terapkan perlu memakai prinsip keadilan