Tidak hanya ngobrol dengan petani. Di Garut saya juga berbincang dengan kawan-kawan muda. Persis setelah saya beres berbincang dengan petani di Cinisti, pada 18 Agustus 2025.
***
Rifaldi mengajak saya untuk ikut ngopi di kedai Lekas Sore. Ia sudah janji ke pemilik kedai untuk nongkrong. Siapa tahu juga saya dapat relasi orang-orang yang menggeluti isu tembakau.
Kami berdiskusi banyak hal, dari mulai sejarah kretek, ritus budaya, ekonomi, rokok ilegal, hingga candaan dan mitos di dunia rokok. Ketika saya memperkenalkan diri aktif di Komunitas Kretek (Komtek), rupanya sebagian kawan-kawan juga followers Komtek. Obrolan pun mengalir dengan asyik.
Menjawab pertanyaan para pemuda Garut: apa itu kretek?
Banyak perokok kretek yang tidak sadar bahwa ia sedang menghisap kretek. Para perokok mengira kretek itu soal memakai filter atau tidak. Padahal tidak begitu.
Secara definisi, kretek adalah rokok khas Indonesia yang bahan utamanya berupa tembakau dan cengkeh. Baik itu yang filter maupun yang tidak.
Kawan-kawan Garut memburu saya dengan pertanyaan begini, “Lantas kenapa pabrik rokok bilangnya rokok tanpa filter itu kretek?” Karena saya bukan juru bicara pabrik. Saya pun menjawab dengan sederhana, “Mungkin kebutuhan marketing supaya lebih mudah mengiklankan.”
Sebetulnya, dalam bungkus rokok sendiri juga ditulis penjelasan mengenai hal tersebut. Bila diperhatikan, rokok filter seperti LA-Gudang Garam, di bungkusnya tertulis “SKM” (sigaret kretek mesin). Artinya rokok filter itu dibuat dengan mesin.
Sedangkan, rokok seperti Djarum Coklat-Gudang Garam Merah, di bungkusnya tertulis “SKT” (sigaret kretek tangan). Artinya, rokok kretek tangan dibuat dengan alat manual.
Mendengar penjelasan saya, mereka pun menanyakan lagi, “Apakah Marlboro tanpa filter itu rokok kretek. Mengingat rokok tersebut tidak menggunakan filter?”
Saya jelaskan lagi, intinya kretek itu tidak hanya mengandung tembakau, tapi juga cengkeh. Dan produk Marlboro itu tidak menggunakan cengkeh, karena produknya adalah rokok putihan.
Sejarah kretek dan tanaman tembakau
Kawan-kawan juga menanyakan tentang kapan masyarakat Indonesia mulai kenal dengan rokok. Karena konon, menurut cerita tutur, tembakau itu sudah ada di tanah Garut. Bukan dibawa oleh kolonial.
Cerita tutur seperti itu memang jamak ditemukan di daerah penghasil tembakau. Sebut saja Temanggung dan Madura. Kedua daerah tersebut mempunyai cerita serupa bahwa tembakau itu bukan dibawa kolonial.
Saya pun menjelaskan dengan singkat bahwa tembakau bukan tanaman asli Indonesia. Melainkan berasal dari Amerika, yang konon sudah ada sejak 1000 SM. Awak kapal Christopher Columbus menjadi pihak yang membawa tanaman itu ke luar Amerika.
Hingga tiba lah tanaman tersebut ke Pulau Jawa pada abad ke-17 (medio 1600-an), dibawa oleh pedagang-pedagang Portugis. Nama tembakau sendiri diadopsi dari bahasa Portugis untuk tumbuhan itu: tumbaco.
Lalu sejarah kretek itu sendiri masih baru. Tahun 1880 menjadi awal mula lahirnya rokok kretek di Kudus. Orang yang pertama meraciknya adalah H. Djamhari.
Semua bermula ketika H. Djamhari menderita penyakit dada. Penyakit ini telah lama ia idap. H. Djamhari merasa sangat menderita setiap kali serangan sesak nafasnya datang. Temuan H. Djamhari itu kemudian lebih populer dengan sebutan “rokok kretek”. Karena ketika dihisap, mengeluarkan bunyi “kretek-kretek”.
Penjelasan ini sekaligus menjawab sejak kapan sebetulnya masyarakat kita mulai merokok. Mungkin ketika tanaman tembakau mulai masif ditanam.
Di sisi lain, sebagian masyarakat Garut juga meyakini bahwa H. DJamhari itu orang Garut. Mengingat sejarah H. Djamhari memang cukup kompleks. Namun semua itu masih bisa dijelaskan.
Pasalnya, memang di usia tuanya. H. DJamhari itu menghabiskan waktunya dengan tinggal di Singaparna, Tasikmalaya. Ia pun lancar berbahasa Sunda. Tidak ada yang mengira ia orang Kudus. Putera-Putrinya pun menyebar di Tasik, Garut dan Bandung.
Keresahan para pemuda di Garut
Kehadiran saya saat itu bukan untuk menggurui. Saya memang murni bercerita atas apa yang mereka tanyakan. Syukurnya mereka senang. Di sisi lain mereka mengaku sedih.
Pasalnya, tidak ada komunitas tembakau atau kretek yang lahir di Garut. Padahal, Garut adalah kota di Jawa Barat yang mempunyai ladang tembakau terluas.
Akan tetapi, jangankan komunitas tembakau atau kretek. Mereka mengaku, komunitas literasi juga tidak ada. Alhasil kawan-kawan di Garut ini justru malah merasa bersalah karena tidak bisa banyak membantu kebutuhan informasi yang saya butuhkan.
Tambah sedih lagi, mereka juga cerita bahwa banyak nilai budaya yang sudah luntur. Mereka merasa tidak ada wadah untuk mereka belajar tentang yang nilai-nilai budaya Sunda, literasi, dan wawasan mengenai tembakau.
Perlu diketahui, tanaman tembakau itu erat sekali kaitannya dengan ritus budaya. Seperti halnya Temanggung. Ritus budaya Sunda juga erat dengan tembakau. Namun sayangnya, hal itu mulai memudar.
Menurut kawan-kawan di Garut, mereka merasa karena tidak ada wadah untuk menyalurkan itu semua. Alhasil para anak muda semakin jauh dari semua itu. Puncaknya, mereka khawatir ketika tembakau musnah, maka ritus kebudayaan juga ikut hilang.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
BACA JUGA: Mengenal sekaligus Membedakan Rokok Herbal, Rokok Rempah, dan Rokok Kretek
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



