Beberapa Keuntungan Orang yang Merokok SKT

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Golongan Sigaret Kretek Tangan atau yang biasa disingkat SKT umumya adalah jenis kretek tanpa filter. Jenis kretek tanpa filter ini sering dianggap bukan jenis rokok kekinian. Yaiyalah, jauh sebelum jenis kretek mild ada, kretek tanpa filter ini sudah lebih dulu berjaya.

Produk SKT lazim pula disebut rokoknya orang-orang sepuh. Bahkan ada tafsiran kretek jenis itu sebagai rokoknya golongan idealis. Iya, idealis. Saya termasuk konsumen yang suka rokok SKT, tetapi tuduhan sebagai golongan idealis itu sesuatu yang ajaib bagi saya. Karena saya orang yang senang bertualang, terutama bertualang dari merek rokok satu ke merek rokok lain, kadang pula tingwe. Itulah watak makhluk bernama konsumen: makhluk oportunis. Watak yang kadang membangkitkan kekhawatiran lain pada saya.

Tanpa maksud melebih-lebihkan, memang ada beberapa hal menakjubkan dari rokok jenis SKT. Berbeda dengan rokok jenis SKM (Sigaret Kretek Mesin) yang kadang rasa filternya bikin jenuh juga. Terutama, pada rasa manisnya itu loh. Kalau sudah merasa jenuh, saya akan segera mencari kretek tanpa filter yang biasa saya hisap. Kebetulan ruang guyub saya bersama teman-teman adalah para perokok plural (majemuk), jadi mudah saja bagi saya untuk menghisap kretek tanpa filter bersama mereka. Juga meminta punya mereka.

Baca Juga:  Pebulu Tangkis Malaysia yang Dicoret Lantaran Merokok

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman seputar sensasi dan keuntungan mengonsumsi produk jenis SKT. Yang satu hal dari pengalaman saya melihat kehidupan pabrik yang memproduksi SKT. Para buruh lintingnya kebanyakan perempuan bertangan-tangan gesit. Mungkin ini juga yang mempengaruhi sensasi rasa yang saya dapat. Yang kadang membawa imajinasi tertantang untuk pula bergesit melampaui kegesitan para buruh linting yang terus memperjuangkan penghidupan keluarganya.

Nah di sini ini keuntungannya, yang bagi saya cukup umum dirasakan konsumen rokok dari tiap petualangannya menjelajahi pluralitas rasa kretek Indonesia. Seperti yang umum kita ketahui, produk jenis SKT memiliki ukuran dan konten lebih padat, selain pula SKT ini adalah sektor padat karya. Saya tidak ingin melihatnya dari aspek harga yang relatif di bawah harga rokok kekinian.

Pertama,

ukurannya lebih besar dan padat. Berbeda dengan ukuran kretek filter. Terkadang karena ukuran dan padatnya konten tembakau dan rempah pada kretek jenis inilah yang bikin saya bisa sesekali rehat dari isapan yang kerap. Kalau sudah menggantung di bibir, seraya kita alpa mengisapnya, biasanya bara rokok jadi mati. Berbeda dengan rokok putih non cengkeh/rempah.

Baca Juga:  Karena Kopi, Rokok, dan Perempuan Terbelenggu Budaya Patriarki

Kedua,

rokok jenis SKT itu dihisap terbalik pun tidak masalah. Lain kalau merokok kretek filter, jangan sekali-sekali membalik teknik menghisapnya. Karena jelas sangat tidak bisa dinikmati.

Ketiga,

awet betul memang menghisap kretek tanpa filter. Tak jarang juga satu bungkus yang saya beli tidak habis, bisa saya simpan buat besok dikonsumsi lagi. Ada juga kretek jenis ini yang pembungkusnya tahan air. Yakni jenis kretek klobot, umumnya digemari nelayan.

Haiya, belum lagi keuntungan penjaskes-nya itu loh, terkadang menuntut jemari berolahraga memijit-mijit batangnya jika dirasa terlalu padat. Pernah kan jadi ngerasa senam jari  gitu dari pengalaman merokok golongan sepuh ini?

 

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah