Bagi saya, merokok kretek dan tingwe bukan hanya sekedar kegiatan biasa, melainkan sebuah sikap politis. Sebab saya lahir dari daerah dengan julukan Negeri Tembakau yaitu Temanggung. Kretek yang saya maksud dalam tulisan ini bukan rokok dengan tembakau dan cengkeh. Tapi menurut keyakinan banyak orang saja, yakni sigaret kretek tangan atau SKT. Ngomongin soal tembakau di Temanggung bukan sekedar ngomongin tanaman saja, lebih dari itu sudah menjadi budaya, ideologi, dan hidup. Dari latar belakang itulah saya memilih untuk merokok kretek dan tingwe, dan sebagai masyarakat Temanggung saya harus peduli dengan isu yang terjadi pada dunia pertembakauan, termasuk industri hasil tembakau (IHT).
Merokok kretek dan tingwe sebagai sikap politis
Kretek dan tingwe sudah melekat dalam hidup masyarakat. di Temanggung sendiri banyak ditemukan ketika ada hajatan terdapat gelas-gelas berisi rokok kretek sebagai penghormatan untuk tamu-tamu yang datang. Dalam ritual kebudayaan pun juga kretek dan tanaman tembakau menjadi sarana jalannya ritual. Dan ketika ada forum-forum masyarakat atau ketika nongkrong banyak yang merokok kretek dan membawa tingwe ke meja tongkrongan.
Sampai sekarang walaupun saya sehari-hari di Jogja, saya tetap merokok kretek ataupun tingwe. Tetapi akhir-akhir ini saya lebih sering membawa tembakau tingwe dari Temanggung. Melihat cukai yang semakin ke sini semakin tinggi dan harga rokok semakin mahal. Selain menjadi sikap politis, Tingwe juga menjadi penyelamat untuk perekonomian saya di kala harga rokok semakin mahal dan apalagi ketika datang akhir bulan. Bayangkan saja, saya membeli tembakau satu ons dengan harga Rp.30.000 bisa untuk satu minggu bahkan kadang lebih, sangat lebih hemat untuk saya sebagai anak kos.
Sering disebut rokok orang tua
Banyak stereotip yang sebelumnya saya dengar ketika merokok kretek ataupun tingwe. Banyak orang khususnya anak muda beranggapan bahwa kretek dan tingwe itu rokoknya orang tua, kurang gaul ketika anak muda menghisapnya. Ada juga yang menyatakan seperti, “ih, rokoknya kretek” atau “ih, ngelinting. Kayak orang tua aja, padahal masih muda,” dan anggapan lain sebagainya. Saya tidak mengambil pusing akan hal itu bahkan lebih bodo amat.
Sebagai penikmat tingwe ada beberapa jenis tembakau temanggung yang saya suka dan sering beli diantaranya seperti tembakau Jumprit, Bansari, Lamsi Lamuk, dan tembakau “sawah” istilahnya. Tetapi dari beberapa jenis itu menurut saya pribadi, Lamsi Lamuk lah tembakau terenak dan wajib untuk kalian semua coba.
Kretek dan tingwe sudah menjadi bagian dari hidup saya dan saya pikir juga sudah menjadi bagian hidup banyak orang. Bahkan bisa dikatakan bahwa tembakau sudah menjadi hidup itu sendiri. Melihat bagaimana melekatnya kretek dan tingwe dalam hidup masyarakat, kita semua perlu peduli akan isu mengenai pertembakauan. Jangan sampai ada regulasi atau peraturan yang ingin mematikan Industri Hasil Tembakau (IHT). Ketika industri ini dimatikan, maka hal tersebut sama artinya dengan mematikan jutaan masyarakat yang dihidupi oleh tembakau.
Penulis: Gandi Naufal Faroz
BACA JUGA: Selain Cengkeh, Ini Daftar Campuran Rempah-Rempah yang Bikin Tingwe Makin Nikmat



