Kabut tipis masih sering menggelayut ketika beberapa waktu lalu saya mengunjungi Lamuk Legok, salah satu desa yang berada di Lereng Sumbing, Temanggung. Konon, desa itu juga menjadi salah satu penghasil tembakau dengan kualitas terbaik.
Saya menyusuri jalan setapak, lantaran ada kebutuhan riset mengenai lintingan Temanggung, sekaligus silaturahmi ke sosok penting di desa itu. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi desa itu. Selain itu, budaya lintingan di Temanggung ini menarik untuk diteliti. Apalagi sejak pandemi, kebiasaan itu sudah mulai menjadi gaya hidup yang digemari anak-anak muda.
Di Lamuk Legok, langkah kaki membawa saya menemui sosok petani, dalang, sekaligus budayawan. Sutopo namanya. Akrab dipanggil Pak Topo. Dia menjadi salah satu orang yang juga punya otoritatif membicarakan tembakau, baik dalam lingkup Temanggung maupun kancah nasional.
Bagi Pak Topo, membicarakan tembakau adalah membicarakan jati diri Temanggung. Walau baru beberapa menit saya berkunjung di kediamannya, obrolan kami sudah berjalan cukup intens. Saya banyak sekali mendapatkan insight soal lintingan Temanggung yang ternyata sudah ada sejak ratusan tahun lamanya.
Selain itu saya juga jadi tahu bahwa ada banyak sekali tradisi yang dilakukan oleh petani tembakau, khususnya di Lamuk Legok Temanggung. Katanya tradisi petani tembakau di daerah itu jumlahnya ada tujuh: Nyampar bun, Nyecel, Among Tebal, Lekas Nandur, Lekas Amek (awal panen), Awal Ngrajang,dan Tungguk.
Nyampar Bun: Tradisi petani tembakau kulonuwun kepada alam
Di bangku reyot, Pak Topo sembari menyeruput kopinya yang mulai dingin, mulai membicarakan tradisi itu.
“Yang pertama yang dilakukan oleh petani itu syukuran di rumah. Namanya Nyampar Bun. Nyampar bun itu kalau dijabarkan dari kalimatnya itu nyampar ini kan kaki, Mas. Bun itu adalah hasil dari semesta yang ada di dalam,” jelas Pak Topo, sembari menyalakan sebatang lintingan tembakau yang telah ia buat saat mengobrol dengan saya.
Menurut penjelasan Pak Topo, ketika petani telah menanam tembakau mulai bulan Maret dan habis di bulan September, maka tanah ladang memasuki masa istirahat selama kurang lebih tiga hingga empat bulan (Oktober hingga Desember).
Pada rentang waktu tersebut, musim penghujan telah tiba. Hujan yang turun membuat tanah kembali lembap dan memicu tumbuhnya rumput-rumput liar dengan sangat subur di lahan bekas tanaman tembakau. Di sinilah letak keunikan filosofinya: selama bulan-bulan tersebut, petani sengaja belum beraktivitas di ladang.
“Embun ini bercengkerama dengan hewan-hewan kecil seperti semut dan belalang. Mereka sangat merdeka di sana. Nah, ketika lahan akan kembali diolah, kehadiran kaki manusia yang masuk ke ladang tentu akan mengganggu ketenangan embun tersebut. Makanya ada ritual Nyampar Bun. Ibaratnya, itu adalah cara petani kulonuwun atau permisi kepada embun,” lanjut Pak Topo.
Syukuran Nyampar Bun di rumah itu membutuhkan berbagai ubo rampe: bucu, ingkung, dan wedang kopi empat cangkir. Wedang kopi ini menjadi sesaji sebab warga sekitar meyakini bahwa Mbah Makukuhan klangenane (kesukaannya) adalah wedang kopi.
“Nah, itu slametane di rumah. Terkait siapa yang akan diundang, berapa yang diundang, itu tergantung kemampuan. Bisa tujuh orang, bisa sebelas orang. Tidak ada masalah.”
Nyecel: Memohon izin kepada bumi
Kemudian yang kedua adalah slametan Nyecel. Pak Topo mengibaratkan jika Nyampar Bun itu semacam deklarasi atau pengakuan supaya tetangga ini bisa menyaksikan kalau Pak A misalnya sedang mau menanam tembakau.
Menurut Pak Topo, setelah menentukan hari baik—yang dipastikan tidak berbenturan dengan sangkar tahun atau hari nahas orang tuanya—petani pun mulai melakukan Nyecel. Ini adalah prosesi di lahan pertanian menggunakan berbagai ubo rampe (perlengkapan ritual). Karena sebelumnya embun sudah ‘disapa’ dan dimintakan maaf melalui ritual Nyampar Bun, maka dalam Nyecel ini sang pemilik lahan memanjatkan doa sebagai bentuk kulonuwun atau permisi kepada bumi.
“Mbok menowo ono kutu, walang atau yang lainnya nek umpomo kenang pacul atau kepidak dingapuro (Barangkali ada kutu, belalang atau yang lainnya seandainya terkena pacul atau keinjak, mohon maaf). Bukan bermaksud sengaja atau gimana,” terang Pak Topo.
Among Tebal: Tradisi petani tembakau mengawali masa tanam
Kemudian yang ketiga Among Tebal. Among itu awal tanam tembakau. Apa maknanya tebal? Sampai saat ini Pak Topo belum bisa menjelaskan.
Melihat saya terlalu fokus mendengarkan penjelasannya, Pak Topo dengan berkelakar menyuruh saya untuk membakar rokok sejenak. Saya mengeluarkan sebatang rokok kretek di saku, membakarnya, kemudian kembali mendengarkan cerita Pak Topo.
Pak Topo kemudian menjelaskan tentang Among Tebal, yang juga merupakan sebuah tradisi selamatan di rumah. Dalam ritual ini, hidangan yang disajikan sangat spesifik: harus ada tumpeng hitam, pepes teri, ingkung ayam, serta lanyahan pada umumnya. Namun, prosesi tidak berhenti di rumah saja. Nantinya, ada juga yang membawa nasi bakar dan ikan petek (pindang) langsung ke lahan pertanian. Bagi para petani di sana, seluruh rangkaian ini adalah bagian tak terpisahkan dari rasa syukur mereka.
“Misalkan memilih hari Minggu Kliwon. Minggu Kliwon itu adalah neptu yang jumlah bilangannya 13 dalam tradisi Jawa. Sehingga, petani diharuskan membawa 13 pohon untuk ditanam. Kalau negara ini membuat jalan tol atau apa dengan ritual peletakan batu pertama. Nah, petani mengadakan Among Tebal,” tutur Pak Topo, dilanjutkan dengan membakar lintingannya yang sudah tak terhitung oleh saya.
Lekas Nandur: Harapan yang tumbuh bersama kecambah
Ritual berikutnya adalah Lekas Nandur. Jika ritual sebelumnya adalah persiapan batin, maka ini adalah gerbang dimulainya perjuangan fisik di ladang. Pak Topo menjelaskan bahwa pada tahap ini, hubungan antara manusia, pangan, dan tanah menjadi sangat erat.
“Untuk ubo rampe-nya itu sama. Sego bakar, kecambah, dan petek itu tidak bisa lepas,” kata Pak Topo dengan nada tegas, seolah menegaskan bahwa ketiga sesaji ini adalah warisan yang tak boleh ditawar.
Lekasan Amek (Awal Panen): Menghitung hari baik di tahun Dal
Setelah tembakau digarap dan dirawat selama beberapa bulan, kira-kira dalam kurun waktu 3 bulan, maka tembakau sudah siap panen. Untuk panenan tembakau biasanya dilakukan secara bertahap. Petikan dari bawah ke atas. Dalam prosesi ini ada juga tradisi berupa Lekasan Amek atau awal petik tembakau. Dalam melakukannya petani tidak bisa sembarang dalam memilih waktu.
“Untuk awal petik nanti, ada hitungan dan kuncinya sendiri. Misal, sekarang ini tahun Dal. Dalam tahun Dal, galengan tahunnya jatuh pada tanggal 1 Suro, yaitu Sabtu Legi. Maka, selama kurun waktu satu tahun sampai bulan Dzulhijjah, hari Sabtu Legi tidak boleh digunakan oleh petani untuk mengawali apa pun. Baik itu untuk petik tembakau, Nyecel, sunatan, nikahan, membangun rumah, dan sebagainya. Nanti, setelah Dzulhijjah selesai dan masuk bulan Suro lagi, Sabtu Legi baru bisa dipakai karena sudah ganti tahun. Nah, hitungan itulah yang menjadi dasar untuk menentukan awal petik atau Lekas Amek nanti.”
Awal Ngrajang: Doa keselamatan untuk sang Kiai Blas Kleas
Setelah petik nanti masuk panen raya itu nanti juga ada slametan lagi. Mendengar penjelasan itu, saya sempat termangu. Dalam hati saya menghitung, sudah berapa banyak selamatan yang menjadi napas hidup petani di negeri tembakau ini? Ternyata, ritual tidak berhenti saat daun dipetik. Ketika masuk masa panen raya dan proses pengolahan dimulai, doa-doa baru kembali dipanjatkan.
“Setelah petik, besoknya saya merajang. Nah, malam hari sebelum merajang itu ada jenang merah-putih dan jenang candil untuk selamatan,” urai Pak Topo.
“Gobang (pisau besar) ya supaya selamat, cacak (papan landasan rajang) ya supaya selamat, yang membantu merajang selamat, yang punya hajat juga selamat. Bayangkan kalau sedang pakai gobang lalu kita terluka, kan repot. Nah, orang Jawa itu (alatnya) disambati (dimintai tolong), ditembungi (diajak bicara), dan dikulonuwuni (permisi),” lanjutnya.
Pak Topo kemudian membisikkan semacam rapalan atau doa keselamatan untuk alat-alat tersebut:
“Ambekteni Kiai Blas Kleas ingkang bahurekso gobang. Mugi-mugi saya sekeluarga pinaringan rahayu wilujeng, tenaga kerja pinaringan rahayu wilujeng. Cacak, gobang, dan lain sebagainya mugi-mugi pinaringan rahayu.”
Inti dari doa itu adalah penghormatan kepada “penunggu” atau energi dari pisau rajang agar memberikan keselamatan bagi pemilik rumah dan para pekerja. Sebuah harmoni yang luar biasa menurut saya. Sebab, alat tajam yang mematikan sekalipun, jika disapa dengan santun, akan bekerja membantu kesejahteraan manusia tanpa melukai.
Tungguk Tembakau: Puncak tradisi petani tembakau di Lamuk Legok
Dari semua rangkaian panjang itu, tibalah di muara terakhir: Tungguk Tembakau. Tungguk itu ubo rampenya lebih besar dari sebelumnya. Menurut Pak Topo, dalam Tungguk, sesajinya jauh lebih lengkap. Di beberapa lokasi, daging yang disajikan bukan lagi ayam, melainkan bebek. Ada tumpeng, jajan pasar yang meriah—mulai dari pisang, buah-buahan, makanan kering, hingga barisan jenang merah-putih, wajik, dan tetel.
“Nah, di Temanggung sudah banyak penyedia sesajen, termasuk sego bakar, campah, iwak petek. Ada ketan salak, bahkan ada candu. Tapi candu di sini bukan untuk yang aneh-aneh, itu namanya sajen,” jelasnya.
Di Lamuk Legok, ritual kolosal ini tetap terjaga meski zaman terus berderap maju. Namun, ada satu hal yang membuat saya tertampar. Saya sempat berpikir bahwa rentetan selamatan ini dilakukan agar tembakau mereka laku keras atau dihargai mahal oleh gudang. Nyatanya, saya keliru besar. Bagi masyarakat lereng Sumbing, ini soal akar budaya. Bukan soal untung rugi.
Pak Topo menangkap keraguan di wajah saya, lalu menegaskan dengan sebuah perumpamaan yang menohok.
“Oh, sampean salah penafsiran. Semua itu budaya, Mas. Mohon maaf, sampean salat itu apa sudah pasti menjamin masuk surga? Kan belum tentu. Nah, ini sama. Ini tuh budaya,” tegasnya.
Beliau kemudian mencontohkan realitas pahit yang sering dihadapi petani, “misal seperti panen raya tahun 2025 kemarin. Kami ya tetap bawa sego bakar iwak petek, ya Nyecel, ya Tungguk, tapi ternyata curah hujan malah tinggi (dan merusak kualitas tembakau). Tahun ini, kami juga melakukan hal yang sama. Kami tidak lantas mengeluh, ‘Tiwasan (sia-sia) sudah syukuran macam-macam, tembakaunya malah tidak laku’. Petani tidak begitu. Karena bagi kami, ini adalah jalan hidup.”
Tradisi petani tembakau yang dirawat dengan setia
Mendengar penegasan Pak Topo, saya terdiam. Kepulan asap lintingan perlahan mengudara di ruang tamu itu. Saya menyadari, rasanya nyaris mustahil menemukan tanaman lain di muka bumi yang dirawat dengan tradisi sedalam dan sesetia tembakau. Di lereng Sumbing ini, selembar daun tembakau adalah manifestasi dari laku spiritual. Warga setempat terus merawat martabat dan menjaga nyala rasa syukur, tak peduli seberapa ramah atau kejamnya cuaca pada musim panen tersebut.
Matahari mulai condong ke barat saat saya akhirnya berpamitan. Kabut tipis perlahan kembali merayap turun, seolah ingin memeluk erat desa ini dan menjaga kesakralannya dari hiruk-pikuk dunia luar. Saya menapaki jalan pulang meninggalkan Lamuk Legok dengan isi kepala yang jauh lebih penuh.
Kedatangan saya kemari awalnya murni didorong oleh rasa penasaran soal tren lintingan yang makin menjamur. Kini, racikan tembakau Temanggung terasa jauh lebih purba dan berharga dari sekadar gaya hidup anak muda masa kini.
Kelak, setiap kali saya meramu tembakau di atas kertas dan menyulutnya, ingatan saya pasti akan tertuju kembali ke desa ini. Saya akan terus mengingat embun pagi yang disapa lewat doa, pisau rajang yang diajak bicara, serta keteguhan hati para petani yang enggan merutuki nasib. Menghisap tembakau Sumbing, pada akhirnya, adalah cara saya merayakan doa-doa panjang mereka.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin
BACA JUGA: Magisme Kalender Jawa dalam Proses Tanam Tembakau di Temanggung
- 7 Tradisi Petani Tembakau di Lamuk Legok Temanggung, Bukti Bahwa Tembakau Telah Melekat di Akar Budaya Masyarakat - 16 April 2026
- Kretek Bisa Menyelamatkan Indonesia Ketika Krisis Melanda Tapi Pemerintah Malah Ingin Menghancurkannya - 9 April 2026
- Viral Rilisan MV The Jeblogs yang Merokok di Wahana Bermain Menuai Kontroversi - 31 March 2026



