Djarum yang selama ini dikenal sebagai salah satu raksasa industri rokok di Indonesia kini mulai menunjukkan arah bisnis baru. Tidak lagi hanya fokus pada tembakau, Grup Djarum mulai serius masuk ke sektor pangan, khususnya industri susu segar dan peternakan sapi perah modern.
Lewat PT Global Dairi Alami dan PT Global Dairi Bersama, mereka berencana membangun mega farm di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Proyek tersebut bukan peternakan biasa. Luas lahannya mencapai sekitar 710 hektare dengan kapasitas hingga 36 ribu ekor sapi perah. Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, proyek ini berpotensi menjadi salah satu peternakan sapi perah terbesar di Indonesia.
Djarum Masuk Bisnis Susu Lewat Mega Farm di Brebes
Skala produksinya juga tidak main-main. Mega farm tersebut ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 180 ribu ton susu segar per tahun. Angka itu dinilai cukup besar karena dapat membantu memenuhi kebutuhan susu nasional yang selama ini masih sangat bergantung pada impor.
Selama bertahun-tahun, produksi susu dalam negeri memang belum mampu mengejar tingginya kebutuhan masyarakat. Saat ini, kebutuhan susu nasional jauh lebih besar dibanding kemampuan produksi peternak lokal. Akibatnya, sebagian besar kebutuhan industri susu masih dipenuhi dari luar negeri. Kondisi inilah yang membuat sektor dairy dianggap memiliki prospek besar dalam jangka panjang.
Djarum tampaknya melihat celah tersebut sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Terlebih, permintaan produk susu diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, meningkatnya kesadaran gizi, hingga program pemerintah terkait konsumsi pangan bergizi.
Konsep Farm to Glass pada Bisnis Susu Djarum
Menariknya, proyek ini tidak hanya berfokus pada produksi susu dalam jumlah besar, tetapi juga membawa konsep peternakan modern terintegrasi. Djarum akan menggunakan model farm to glass, di mana seluruh rantai produksi dikelola sendiri dalam satu ekosistem bisnis.
Artinya, mulai dari peternakan sapi, produksi pakan ternak, pengolahan susu, hingga distribusi produk ke konsumen dilakukan secara langsung dan terhubung. Sistem seperti ini dinilai lebih efisien karena mampu memangkas rantai distribusi sekaligus menjaga kualitas produk tetap stabil.
Untuk mendukung kebutuhan pakan, nantinya akan dibangun fasilitas produksi pakan sendiri agar kualitas nutrisi sapi lebih terkontrol. Sementara di sisi hilir, fasilitas pengolahan susu juga disiapkan agar produk yang dihasilkan tetap segar dan memiliki kualitas yang konsisten.
Tidak hanya itu, proyek ini juga dirancang membawa konsep ramah lingkungan. Djarum disebut akan menerapkan sistem zero waste dalam operasional peternakannya. Kotoran sapi nantinya akan diolah menjadi biogas dan pupuk organik, sementara limbah cair akan didaur ulang kembali melalui instalasi pengolahan air.
Bahkan, kebutuhan listrik proyek tersebut juga direncanakan memanfaatkan panel surya. Langkah ini dilakukan agar operasional peternakan menjadi lebih mandiri sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Mengapa Brebes Dipilih untuk Proyek Bisnis Susu Djarum?
Pemilihan Brebes sebagai lokasi proyek juga bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai strategis karena dekat dengan sentra produksi jagung yang menjadi salah satu bahan utama pakan ternak. Selain itu, akses distribusinya relatif dekat ke pasar besar seperti Jabodetabek yang selama ini menjadi pusat konsumsi produk susu nasional.
Kondisi sosial masyarakat Brebes yang banyak bergerak di sektor pertanian juga dianggap mendukung pengembangan peternakan modern berbasis agribisnis. Karena itu, pemerintah daerah menyambut proyek tersebut dengan cukup antusias.
Jika berjalan lancar, mega farm ini diperkirakan dapat membuka ribuan lapangan kerja baru dan melibatkan banyak petani serta peternak lokal. Kehadiran proyek berskala besar seperti ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat sektor peternakan nasional.
Tantangan Djarum di Bisnis Susu dan Peternakan Modern
Namun, di balik potensinya yang besar, tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit. Industri sapi perah modern di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari mahalnya harga pakan, keterbatasan bibit sapi unggul, hingga ancaman penyakit ternak seperti PMK dan Lumpy Skin Disease.
Selain itu, bisnis peternakan membutuhkan investasi yang sangat besar dengan masa pengembalian modal yang cenderung panjang. Tidak semua perusahaan mampu bertahan di sektor ini tanpa dukungan modal dan manajemen yang kuat.
Meski demikian, banyak pihak menilai Djarum memiliki modal yang cukup untuk menghadapi tantangan tersebut. Selain memiliki kekuatan finansial besar, mereka juga punya pengalaman membangun ekosistem bisnis terintegrasi di berbagai sektor.
Karena itu, langkah Djarum masuk ke bisnis susu dipandang bukan sekadar ekspansi biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mencari sumber pertumbuhan baru di luar industri rokok yang semakin tertekan.
Jika proyek ini berhasil, bukan tidak mungkin Brebes akan berkembang menjadi salah satu pusat produksi susu terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Lebih jauh lagi, proyek ini juga bisa menjadi penanda bahwa sektor pangan kini mulai dilirik serius oleh konglomerasi besar sebagai bisnis masa depan.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin



