“Tembakau Adalah Tanaman yang Nista!!” Begitu Pola Pikir Orang-Orang Arogan yang Merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Hari Tanpa Tembakau Sedunia itu adalah agenda untuk mengabaikan petani dan industri tembakau Indonesia. Padahal? Itu cuma trik marketing aja.

Dalam Artikel Ini

hari tanpa tembakau sedunia adalah sesat pikir antirokok yang arogan

Dalam Artikel Ini

Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day merupakan kampanye yang digagas oleh World Health Organization setiap tanggal 31 Mei. Kampanye ini mulai dijalankan sejak tahun 1988 setelah adanya seruan dari Majelis Kesehatan Dunia kepada negara-negara anggota WHO untuk memperingatinya setiap tahun.

Pada awalnya, agenda ini diklaim hanya sebagai ajakan agar masyarakat berhenti merokok selama satu hari penuh. Sebuah kampanye simbolik yang katanya bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan.

Namun, seiring waktu, kampanye tersebut berkembang jauh melampaui sekadar ajakan berhenti merokok sehari. Hari Tanpa Tembakau Sedunia perlahan berubah menjadi alat kampanye global untuk membatasi ruang hidup tembakau. Tidak hanya rokok yang menjadi sasaran, tetapi juga seluruh ekosistem sosial, budaya, ekonomi, hingga pertanian yang hidup dari tembakau.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan Tekanan terhadap Industri Tembakau

Dari sinilah terlihat bagaimana cara pandang sebagian kelompok anti-tembakau sebenarnya bukan lagi sekadar mengkritik konsumsi rokok, melainkan memandang tembakau sebagai sesuatu yang harus dihapuskan dari kehidupan masyarakat.

Dorongan itu terlihat dari berbagai kebijakan yang terus ditekan kepada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mulai dari larangan iklan, promosi, dan sponsor rokok, pembatasan ruang merokok melalui kawasan tanpa rokok, kenaikan cukai hasil tembakau yang terus-menerus, hingga berbagai regulasi yang mempersempit distribusi dan penjualan produk tembakau.

Bahkan, petani tembakau pun didorong untuk meninggalkan tanaman yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan mereka dan menggantinya dengan komoditas lain yang belum tentu cocok dengan kondisi tanah maupun pasar.

Mengapa Tembakau Menjadi Bagian Penting Ekonomi Masyarakat?

Ironisnya, tekanan semacam ini sering kali tidak mempertimbangkan realitas sosial dan ekonomi di negara seperti Indonesia. Tembakau bukan sekadar komoditas dagang Tembakau telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Nusantara.

Di banyak daerah seperti Temanggung, Madura, Lombok, Jember, Bojonegoro, hingga sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tembakau menjadi sumber penghidupan utama masyarakat desa. Dari petani, buruh tani, buruh pabrik rokok, pedagang kecil, warung, sopir distribusi, hingga pekerja linting, jutaan orang menggantungkan hidup pada industri hasil tembakau.

Baca Juga:  Menghajar Perokok Lewat Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Belum lagi kontribusi sektor tembakau terhadap penerimaan negara. Cukai hasil tembakau selama bertahun-tahun menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara. Dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan pembangunan, mulai dari infrastruktur, bantuan sosial, pelayanan kesehatan, hingga anggaran pemerintah daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Artinya, negara sendiri masih sangat bergantung pada pemasukan dari sektor ini.

Kritik terhadap Cara Pandang Anti-Tembakau yang Mengagendakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Tetapi anehnya, di saat tembakau menyumbang begitu besar terhadap ekonomi nasional dan kehidupan masyarakat, masih ada kelompok-kelompok tertentu yang memperlakukan tembakau seolah-olah tanaman paling hina di muka bumi.

Mereka berbicara tentang tembakau dengan penuh kebencian, seakan seluruh persoalan kesehatan dan sosial hanya bersumber dari tanaman ini. Tidak ada penghargaan terhadap sejarahnya, terhadap petaninya, terhadap buruhnya, maupun terhadap budaya yang tumbuh bersamanya.

Cara berpikir seperti inilah yang terasa arogan. Karena mereka melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang, lalu memaksakannya kepada semua orang. Mereka ingin menentukan bagaimana orang hidup, apa yang boleh dikonsumsi, dan tanaman apa yang pantas ditanam petani. Padahal, kehidupan masyarakat jauh lebih kompleks daripada sekadar slogan kesehatan global.

Apa yang Terjadi Jika Tembakau Hilang?

Lebih jauh lagi, jika tembakau benar-benar hilang dari banyak daerah penghasilnya, bukan tidak mungkin masyarakat desa justru kehilangan benteng ekonomi terakhirnya.

Banyak lahan pertanian tembakau yang selama ini tetap bertahan karena nilai ekonominya. Ketika tembakau disingkirkan, lahan-lahan tersebut bisa saja berubah menjadi kawasan industri, pertambangan, atau proyek pariwisata besar. Hal itu justru semakin menjauhkan masyarakat dari ruang hidupnya sendiri.

Baca Juga:  5 Cara Perokok Merayakan HTTS

Karena itu, peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia bagi sebagian masyarakat bukan lagi dipandang sebagai kampanye kesehatan biasa, melainkan simbol dari tekanan global terhadap keberlangsungan tembakau dan kehidupan jutaan orang yang bergantung padanya. Tidak sedikit yang merasa bahwa agenda tersebut membawa semangat penyeragaman dan mengabaikan kondisi sosial-ekonomi masyarakat lokal.

Tembakau Bukan Sekadar Tanaman, Tapi Bagian dari Kehidupan

Maka, sudah sepatutnya muncul suara penolakan terhadap cara pandang yang menganggap tembakau sebagai tanaman nista. Tembakau adalah bagian dari sejarah pertanian, kebudayaan, dan ekonomi rakyat Indonesia.

Petani tembakau bukan musuh negara. Buruh rokok bukan beban masyarakat. Mereka adalah bagian dari rakyat yang juga berhak hidup dan mempertahankan sumber penghidupannya.Sudah waktunya masyarakat bersuara lebih lantang.

Jika kelompok anti-tembakau memiliki panggung untuk menyuarakan kampanyenya, maka masyarakat yang hidup dari tembakau juga berhak menyampaikan sikapnya. Mari terus memperbanyak titik-titik untuk membicarakan Industri Hasil Tembakau yang telah berkontribusi dari berbagai aspek.

Sebab, untuk menjadi nyaring, kita perlu menjadi banyak.

Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: HTTS Hanyalah Dalih WHO untuk Mengenalkan NRT