Kretek Menghidupi Para Pelaku Usaha Mikro, Rokok Elektrik Hanya Segelintir Orang

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kehadiran rokok elektrik kian hari makin menyudutkan posisi kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Lewat narasi yang menawarkan sesuatu yang futuristik, medornitas dan yang lebih menyebalkan dikemas seakan lebih rendah risiko ketimbang kretek.

Narasi yang lebih futuristik dan lebih modern menjadi cara marketing belaka. secara sederhana rokok elektrik hanya bagian dari inovasi. Selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi.

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektrik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut.

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektrik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.

Konsep rokok elektrik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.

Baca Juga:  Kretek, Produk Budaya yang Menjadi Penghidupan Masyarakat Nusantara

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektrik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektrik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya.

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Kontroversi Logika Anti Rokok Menyoal Sumbangsih Perokok Pada BPJS Kesehatan

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka.

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektrik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektrik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektrik.

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Menanti Ledakan Bom Waktu PMK 222 Tahun 2017 Tentang DBHCHT

Rokok elektrik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.

Lagipula sebagai negera yang kaya rempah dan produk budaya, kenapa harus memilih rokok elektrik yang pada gilirannya akan menyingkirkan keberadaan rokok nasional. Dan negara secara otomatis juga akan kehilangan sumber devisa terbesarnya.

Rizqi Jong

Sebats dulu bro...