Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Hasbullah Thabrany, menolak wacana dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengenai cukai rokok.
Pasalnya, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas mengatakan bahwa tarif cukai hasil tembakau yang mencapai 57% itu sebagai kebijakan Firaun.
Tentu Purbaya tidak asal bicara. Karena akibat kenaikan cukai, rokok ilegal merebak, industri gulung tikar, dan banyak buruh di PHK.
Sedangkan Thabrany justru kebalikannya. Ia tidak peduli dengan nasib yang dikemukakan oleh Purbaya. Thabrany hanya khawatir negara memutuskan tidak akan menaikkan cukai rokok, atau bahkan menurunkannya. Termasuk membawa isu kesehatan dan pengendalian perokok di Indonesia.
Selain itu, menurut Thabrany, tindakan Purbaya dianggap mengancam kondisi ekonomi makro Indonesia. Tentu dengan alasan kesehatan
Pertanyaannya, Thabrany itu mewakili suara siapa? Padahal masyarakat justru senang apabila kritik dan wacana dari Purbaya bisa berbuah jadi regulasi.
Thabrany antek asing?
Mengutip dari Kompas, Hasbullah Thabrany selama menjadi Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia mengakui bahwa ada upaya memerangi rokok. Memang sebagiannya didonor dana hibah dari Bloomberg. Untuk Pusat Kajian Jaminan Sosial UI sendiri, Thabrany menyebut dana yang diterima adalah Rp 4 miliar untuk dua tahun.
Karena Prabowo selalu berucap antek asing ingin menghancurkan Indonesia, mari kita selidiki pendonor anggaran terhadap isu yang disuarakan Thabrany, yakni Bloomberg.
Bloomberg adalah lembaga antirokok yang sangat vokal di kancah internasional. Nama lembaga itu diambil dari nama Michael Rubens Bloomberg. Ia adalah sosok pebisnis sekaligus politisi–berdarah Yahudi yang menjadi pendonor kampanye antirokok di dunia.
Mengutip dari tobaccocontrolgrants.org, Bloomberg telah mengucurkan dana ke pelbagai LSM, universitas, kementerian, Muhammadiyah, termasuk juga ke Thabrany.. Jumlah uang yang diberikan bervariasi, tergantung bentuk kampanye yang masing-masing lembaga lakukan.
Cukai rokok harus turun karena kretek membangun perekonomian Indonesia
Ketika Thabrany menyuarakan isu antirokok, ia justru sedang mendapatkan limpahan uang. Sedangkan orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari IHT, khususnya kretek–justru menjerit.
Padahal, menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, ada jutaan orang menggantungkan hidupnya dari sektor industri hasil tembakau (IHT). Mulai dari petani tembakau, perajang tembakau, petani cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan, ritel, distributor hingga eksportir.
“Sektor IHT menyerap tenaga kerja sebanyak 6 juta orang dari hulu hingga hilir, mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, distributor, hingga pedagang dan eksportir,” ucap Putu dikutip dari Warta Ekonomi.
Itu artinya, tuduhan Thabrany kepada Purbaya bahwa mendukung IHT akan mengancam ekonomi makro Indonesia itu tidak berdasar. Justru kehadiran Purbaya itu memberikan angin segar bagi jutaan orang (semoga tidak omon-omon).
Pasalnya, kretek bukan “cuma”, tapi menyangkut budaya, ekonomi, dan kedaulatan bangsa. Kontribusi kretek bagi negeri ini melebih tambang, membantu pemerintah dalam memberikan lapangan pekerjaan, serta menjadi simbol kebudayaan bangsa.
Sebetulnya, jauh-jauh hari budayawan Mohamad Sobary mengatakan bahwa banyak pihak dipengaruhi oleh uang. Para pejabat di tingkat menteri, gubernur, dan bupati/wali kota. Semua menjadi korban yang berbahagia, karena limpahan uang yang tak sedikit jumlahya untuk masing-masing pihak.
Mereka menjadi korban kecil, karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok, yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.
Tapi apa artinya hati nurani di zaman edan ini dibanding uang yang melimpah? Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri demi uang. Berikut beberapa kubu antirokok di Indonesia yang mendapatkan kucuran dana untuk mengampanyekan gerakan antirokok dan pembunuhan terhadap kretek sebagai produk yang khas dan hanya ada di Indonesia.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
BACA JUGA: Kenaikan Cukai Rokok Harus Stop Selama 3 Tahun Kedepan agar Tak Banyak Pihak yang Makin Sekarat
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



