Mbah Sri dan Rokok Lintingnya

merokok budaya
merokok budaya

Tepat di sebelah pertigaan jalan kampung Mergangsan Kidul RT 76, RW 24, Yogyakarta, ada sebuah rumah menghadap selatan dengan satu pintu dan satu jendela besar. Dibalik jendela itu terpajang aneka macam barang dagangan. Warung kecil dengan barang dagangan yang juga tak banyak. Terpampang beberapa bungkus rokok, tembakau, kertas rokok, cengkeh, sabun, dan beberapa jajanan.

Pemiliknya bernama Sri. Di rumah itulah mbah Sri tinggal bersama seorang anak perempuan dan menantunya. Setelah ia menikah, namanya menjadi Sri Mujikar. Nama Mujikar diambil dari nama suaminya yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Mbah Sri lahir di Yogyakarta pada tahun 1938, sehingga saat ini usianya 75 tahun. Ia tak ingat tanggal dan bulan lahirnya. Sebelum menikah, ia tinggal di Polowijan, Yogyakarta. Tetapi kini, di Polowijan, tepatnya dekat pasar Ngasem—kini sudah pindah di jalan Bantul menjadi PASTY—sudah tidak ada lagi karena orangtua mbah Sri telah tiada, dan semua saudaranya pindah dan hidup bersama keluarga masing-masing.

Perjalanan Terjal Hidupnya

Mbah Sri masih cukup sehat di usia senja. Bahkan ia masih tidur larut. Katanya, baru bisa tidur jika sudah lewat tengah malam, sekitar pukul 01:00 dini hari. Begitu bangun, tidak lantas bermalas-malas, melainkan bersih-bersih rumahnya, khususnya kamar yang sekaligus jadi ruang kerjanya untuk berjualan. Sementara, sang anak sudah menyiapkan makanan. Kamar tempatnya berjualan tidak terlalu luas dengan ukuran sekitar 4 x 4 meter persegi. Di dalamnya ada satu tempat tidur, dua meja serta kursi kecil. Cukup itu saja. Dan yang terpenting, di meja selalu terpajang asbak kecil warna biru.

Di atas meja juga terdapat satu gelas teh. Ya, teh adalah minuman kesukaan mbah Sri untuk menemani hari-hatinya. Tak lupa ia juga menghisap rokok hasil lintingannya sendiri. Tembakau dengan sedikit campuran cengkeh digulung perlahan dengan kertas menjadi kegiatan rutin mbah Sri.Seusai sarapan, ia lantas bersantai sambil minum teh dan meghisap rokok. Begitu hari menjelang siang, mbah Sri mulai berbelanja untuk kebutuhan warungnya. Meski tidak setiap hari, hanya dua hari sekali. Pasarnya cukup jauh, sekitar 3 km dari rumahnya. Tetapi tak pernah sedikitpun mengeluh atau meminta tolong kepada anaknya untuk berbelanja. Baginya, belanja merupakan aktivitas yang menyenangkan sekaligus bisa menyegarkan perasaan karena masih bisa menikmati jalanan serta pasar.

Mbah Sri ke pasar dengan mengendarai bis jalur 2. Ia sudah tidak mau jalan kaki atau naik sepeda lagi karena mengalami trauma. Suatu ketika, saat ia berjalan menuju pasar Prawirotaman naik sepeda, ada sebuah bis yang tiba-tiba menabraknya dari belakang hingga kaki kirinya mengalami cacat. Bis itu tidak berhenti, melainkan kabur meninggalkan mbah Sri yang tergeletak sendirian di jalan raya. Sejak peristiwa itu, beberapa hari mbah Sri tidak mampu beraktivitas karena kakinya yang sakit dan selalu terasa ngilu saat udara dingin.Sejak kecelakaan itu, Mbah Sri tidak mau naik sepeda, ia memilih untuk berjalan kaki. Tetapi entah karena takdir atau apes, hal serupa terjadi lagi. Ia ditabrak oleh pengendara mobil hingga tersungkur. Padahal masih berada di jalan raya dekat rumahnya.

Sejak peristiwa itu, kaki kanan mbah Sri cacat. Sehingga kini, kedua kakinya tidak setangguh dulu. Hebatnya, selain kaki yang dideritanya, mbah Sri tidak pernah masuk rumah sakit. Tidak pernah mengalami sakit yang serius. “Paling nek kesel terus pilek,” ungkapnya.

Sungguh hebat, hingga usia tua tidak pernah masuk rumah sakit, juga tidak pernah mengalami gangguan kesehatan yang serius. Hal ini yang membuatku merasa heran dan mencoba menelisik aktivitasnya di saat muda.Ternyata aktivitas mbah Sri di saat muda juga tidak jauh beda dengan orang lain pada umumnya. Meskipun nasib mbah Sri tidak seberuntung yang lain karena tidak dapat mengenyam pendidikan sekolah. Bahkan sekolah Dasar (Sekolah Rakyat) pun tidak bisa ia nikmati.

Untuk mendapatkan uang, mbah Sri menjadi buruh cuci pakaian. Meski tidak banyak, tetapi para tetangga banyak juga yang menggunakan jasanya. Jika masih ada waktu senggang, mbah Sri juga nyambi menjadi buruh momong. Buruh momong anak-anak kecil yang orangtuanya sibuk. Mbah Sri dipercaya oleh orang-orang untuk mengasuh anak-anaknya. Sehingga praktis mendapatkan imbalan dari hasil mengasuh anak dan mencucikan pakaian. Hanya itu aktivitas mbah Sri sebelum dipinang oleh suaminya.

Segala Hal Tentang Rokok

Sedikit pun, mbah Sri tidak mengalami kerusakan pada pendengaran maupun matanya. Ia masih bisa melihat dengan jelas, juga masih bisa mendengar suara dengan baik. Sehingga tidak akan kesulitan jika melakukan percakapan dengannya. Bahkan, meski tidak pernah mengenyam pendidikan, ia bisa berhitung dengan baik. Buktinya, ia mampu menghitung uang belanja, melakukan transaksi jual beli.

Manajemen keuangannya pun terhitung bagus. Ia mampu menghitung pengeluarannya, terutama kebutuhan rokoknya. Ia senang menggunakan tembakau Boyolali yang dibelinya di pasar Prawirotaman. Ia membelinya dengan harga dua belas ribu rupiah untuk setiap ons tembakau. Tembakau 1 ons tersebut akan habis dalam waktu dua minggu.

Tak lupa juga mbah Sri membeli cengkeh serta kertas rokoknya. Cengkeh ia membeli seharga lima ratus rupiah untuk setiap bungkusnya. Biasanya ia langsung membeli satu renteng yang isinya 11 bungkus. Tentu saja tidak untuk konsumsi sendiri, tetapi sisanya untuk dijual di warungnya. Ia menggunakan satu bungkus cengkeh itu untuk meracik rokok lintingannya sebanyak 20 lintingan. Untuk kertas rokoknya, ia membeli seharga tiga ribu lima ratus rupiah dengan isi 10 bendel.

Tak terlalu banyak konsumsi rokok mbah Sri. Ia hanya menghabiskan rata-rata lima linting dalam sehari. Lain halnya ketika ia masih muda, bisa sampai 10 linting. Bukan karena merasa bosan atau sakit, ia mengurangi rokoknya karena memang kenikmatan merokok itu bukan karena kecanduan, melainkan karena rasa ingin saja. Bahkan jika tidak merokok pun, mbah Sri merasa biasa saja. Tidak gelisah, tidak bingung.

Uniknya, mbah Sri sudah mulai merokok sejak kecil. Meski tak ingat lagi di usia berapa, tetapi ia mengatakan sejak masa kanak-kanak sudah merokok. Tidak ada yang pernah melarangnya merokok, bahkan orangtuanya pun mengizinkannya untuk merokok. Karena itu menjadi hal umum, kalau tidak merokok, mbah Sri nginang.

Sensasi yang dirasakan mbah Sri saat merokok ialah rasa marem alias rasa puas. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Pokoknya marem,” katanya tegas. Jika kebanyakan orang mengatakan bahwa setelah makan harus merokok, bagi mbah Sri tidak. Ia hanya merokok jika memang kepingin saja, tidak karena habis makan atau sebab lain. Itu berkaitan dengan rasa, bukan yang lain.

Mbah Sri membantah bahwa seorang perokok tidak doyan makan. Buktinya ia makan juga rutin tiga kali dalam sehari. Meski tidak selalu menggunakan lauk yang mewah. Ia cukup narimo. Terkadang makan nasi dengan lauk sayur seadanya. Bahkan jika tidak ada sayur, nasi ditaburi garam pun  menjadi santapan lezat bagi mbah Sri.

Sungguh seorang yang sabar dan selalu bersyukur kepada Tuhan. Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya. Tetapi akhir-akhir ini sering jengkel terhadap para pejabat tinggi yang diangggap tidak memperhatikan nasib wong cilik. “Pegawai-pegawai sing duwur-duwur ming do ngeruki bandane awak dewe,” begitu keluhnya.

Semakin menjadi jengkel saat ia mendengarkan siaran di radio yang mengatakan bahwa ada larangan merokok. “Sekarang wong dodol mbako dilarang, terus arep do mangan opo? Mbok sing do korupsi sing dilarang,” ungkapnya dengan nada marah.

Ia merasa kasihan kepada para petani tembakau, juga para pegawai pabrik rokok, juga pedagang yang jual rokok. “lha kalau dilarang, aku terus ra oleh dodol rokok, sing nyukupi butuhku sopo? Po pejabat kae gelem nyukupi butuhku?” katanya.

Jadi bagi mbah Sri, kalau mau bikin aturan harus melihat kondisi, jangan asal membuat aturan. Mbah Sri merasa bahwa dirinya mencukupi kebutuhannya sendiri dengan berjualan kecil-kecilan. Tidak pernah ada bantuan dari pemerintah. Tapi ia merasa jengkel jika tidak boleh jualan rokok, karena juga merupakan salah satu barang yang paling laku di warungnya.

Meski begitu, mbah Sri tidak mau merokok jika bukan rokok hasil lintingannya sendiri. Bagi dia, rokok kemasan kurang marem rasanya. Lebih memilih melinting sendiri.

Jika ada yang memperingatkannya agar tidak merokok, mbah Sri selalu menjawabnya dengan sopan. Ia merokok dari hasil keringatnya sendiri, kenapa harus dilarang. Juga apa lagi hiburan baginya jika tidak boleh merokok, sedangkan suaminya sudah meninggal, dan anak-anaknya sudah berkeluarga. Baginya, urusan kesehatan dan kematian itu sudah diatur oleh Gusti Allah, jadi manusia tidak bisa mengaturnya.

Di akhir kata, sebelum aku meninggalkan rumahnya, ia memberikan doa untuk keselamatn dan kesuksesan agar kelak bisa hidup lebih sejahtera dibandingkan mbah Sri.