Merujuk penelusuran Ferry Irwandi dan Malaka Project, pemerintah terus memprovokasi aksi massa untuk turun ke jalan. Tidak lain agar darurat militer tercapai. Darurat militer adalah pengalihan kekuasaan kepada otoritas militer dalam keadaan darurat di sebagian atau seluruh wilayah negara, ketika otoritas sipil dianggap tidak bisa berfungsi.
Ini dilakukan apabila tingkat ancaman yang terjadi dianggap lebih besar atau lebih serius dan dinilai tidak cukup ditangani menurut norma-norma keadaan darurat sipil.
Perusakan fasilitas umum bukan dilakukan oleh aksi massa
Banyak fasilitas umum dirusak dan dibakar. Seolah-olah massa aksi yang melakukannya. Tapi beberapa orang kritis menyebut, provokator lah yang bermain di baliknya.
Untuk lebih lengkapnya bisa tonton contoh aksi provokator di liputan Narasi mengenai pembakaran halte di Jakarta.
Itulah sebabnya, banyak sekali poster ajakan turun aksi yang disinyalir dibuat oleh Polisi. Poster itu mengajak masyarakat untuk turun aksi pada Senin, 1 September 2025 kemarin. Beruntungnya, masyarakat banyak yang sadar bahwa itu adalah jebakan.
Semua itu dilakukan demi terciptanya darurat militer. Chaos perlu terjadi. Skenarionya adalah ketika aksi massa turun, provokator masuk menciptakan kekacauan di luar tujuan aksi.
Pasalnya, halte bus tidak akan bisa begitu mudah dibakar oleh sipil yang tidak memiliki bubuk mesiu. Lantas siapa lagi kalau bukan mereka yang mempunyai persenjataan lengkap yang mempunyainya.
Halte modern umumnya pakai bahan non-combustible, seperti baja, aluminium, kaca tempered/laminated; komponen plastiknya biasanya terbatas (kanopi, panel, bangku, iklan). Artinya, “fuel load”-nya kecil dan tersebar.
Logam itu menyebarkan panas dengan cepat. Membuat nyala kecil akan susah bertahan di satu titik. Jadi, api spontan biasanya padam sendiri kalau nggak ada bahan bakar tambahan yang kontinu.
Menuding perokok
Segala cara dilakukan supaya syarat darurat militer terjadi. Bahkan berita Kompas menulis sebuah artikel yang menyudutkan perokok sebagai salah satu pelaku pembakaran di markas Brimob, Jakarta.
Foto dalam artikel tersebut menunjukkan gedung yang terbakar disertai tulisan kritik bertuliskan All Corps Are Bastard (ACAB). Seolah-olah di antara aksi massa tersebut ada yang merokok dan melemparkan puntungnya supaya markas Gegana Brimob terbakar.
Pola ini sudah menjadi lagu lama. Banyak sekali berita yang menunjukkan gedung terbakar karena puntung rokok. Alasannya sederhana, baik itu untuk menutup bukti atau membuat framing.
Gedung markas Gegana tersebut berada di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Anehnya lagi, gedung tersebut terbakar ketika sepi. Disinyalir pula ada beberapa orang yang ingin menjarah.
Konyolnya lagi, kebakaran itu disebut diakibatkan oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan–lalu mengenai kardus-kardus kosong.
Hal ini perlu menjadi persoalan serius. Dalam konteks aksi massa. Ini adalah pola untuk menuduh para demonstran. Lalu, ini juga menyangkut persoalan isu rokok. Karena nantinya ini bisa menjadi bahan framing bahwa merokok itu dapat menyebabkan kebakaran.
“Mereka” tidak lebih pintar daripada kita. Jangan mau dimanipulasi. Jangan biarkan “mereka” memanfaatkan pembangkangan kita untuk kepentingan mereka sendiri.
Tidak turun ke jalan hari ini bukan berarti berhenti melawan. Kita bisa kembali besok, lusa, atau kapan saja, ketika mereka lengah.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang
BACA JUGA: Perokok Dituding bikin BPJS Defisit, Kenyataannya Defisitnya Ditambal Cukai Rokok
- Ibu Minah, Penjual Sayur Keliling Ketiban Rezeki Noplok: Menang Undian Mobil dari Pihak Djarum Selepas Mengikuti Jalan Santai HUT Temanggung 191 - 26 November 2025
- Rokok yang Dihisap Hadi (Fedi Nuril) dalam Film “Pangku” dan Jangan Ditiru! - 15 November 2025
- Soeharto: Bapak dari “Pencekik” Petani Cengkeh Bisa-bisanya Jadi Pahlawan Nasional - 10 November 2025



