pelarangan-menjual-rokok-kepada-anak

Perokok Anak Dan Pelajaran Bagi Orang Dewasa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kelompok antirokok sangat sering memainkan narasi perokok anak dalam agenda pengendalian tembakau. Wajar saja karena memang seperti itu cara kerja mereka; menciptakan polemik berkepanjangan dengan membangun citra buruk pada rokok.

Beberapa waktu yang lalu jagad media sosial dihebohkan dengan video viral yang mempertontonkan aksi seorang bocah yang sedang mengendarai truk kontainer sambil merokok. Kabarnya bocah tersebut berusia 12 tahun, masih di bawah batas usia perokok yang diatur regulasi.

Video tersebut lantas memancing komentar banyak pihak. Dari banyaknya komentar yang muncul, antirokok jelas mendulang untung. Keuntungan yang dimaksud adalah isu perokok anak kembali mengemuka. Antirokok tentu memainkan kembali mesinnya di domain isu ini. Publik diarahkan untuk mengutuk rokok dan semua yang berkaitan dengannya.

Antirokok, melalui isu kesehatan, kerap kali mengaitkan keberadaan iklan rokok dan display rokok di ritel sebagai faktor utama meningkatnya angka perokok anak. Publik dipaksa percaya akan adanya kebenaran bahwa iklan rokoklah penyebab tunggal atas munculnya beberapa kasus terkait anak di bawah umur yang merokok. Maka dengan itu mereka turut mendorong pengaturan (atau bahkan larangan) iklan rokok di televisi dan media luar ruang.

Baca Juga:  Menkeu Andalkan DBHCHT untuk Penanggulangan Virus Corona

Tak cukup itu, persoalan perokok anak juga mereka mainkan dengan wacana menaikkan tarif cukai rokok, yang secara otomatis turut mendongkrak harga jual rokok. Selain harga, solusi lain yang dipilih adalah dengan menutup display rokok dengan tirai. Maksudnya agar anak-anak tidak melihat produk rokok.

Pada persoalan ini, rasanya kita masih mempunyai pilihan solusi lain yang lebih bijak. Tindakan pencegahan harus dijadikan instrumen utama, alih-alih terus menaikkan harga cukai rokok. Karena dengan terus melonjaknya harga rokok, persoalan anak tak juga teratasi, persoalan lain justru timbul–petani dan buruh pabrik yang jadi pesakitan.

Para pedagang harus berkomitmen untuk tidak menjual rokok pada anak-anak. Orang tua juga memainkan peran penting. Anak-anak perlu diedukasi, mereka harus diberitahu bahwa mereka boleh merokok, kelak ketika sudah dewasa (18 tahun) dan berpenghasilan sendiri, tidak sekarang.

Menyoal video yang viral tadi, alangkah lebih baiknya untuk diputus mata rantai penyebarannya. Maksudnya, dengan menyebarkan video semacam itu, justru akan semakin menjangkau banyak anak-anak. Apalagi peredarannya terjadi di media sosial, tempat di mana banyak anak-anak yang mencari jati diri.

Baca Juga:  Pengendalian Tembakau Bisa Mengendalikan Pandemi?

Ini jadi pelajaran bagi kita orang dewasa. Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama seorang anak. Seorang ayah jangan menyuruh anak untuk membelikan rokok. Keluarga harus membekali pemahaman secara arif, agar anak mampu berpikir objektif. Tentu tidak dengan tanamkan bibit kebencian terkait pilihan konsumsi manusia lain.

Orang dewasa hendaknya tidak merokok di dekat anak. Tak perlu pula bercerita tentang sesuatu yang mengagumkan perihal rokok. Karena memang merokok hanyalah aktivitas biasa saja.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd